MANAGED BY:
SENIN
20 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

PRO BISNIS

Selasa, 23 Oktober 2018 06:34
Kesejahteraan Pangan Jadi Perhatian

PROKAL.CO, JAKARTA – Kesejahteraan pangan masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah agar memperoleh kecukupan gizi bagi setiap masyarakat Indonesia. Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) berpendapat, kesejahteraan pangan berbanding lurus dengan harga komoditas atau harga makanan pokok yang dijual di pasaran.

Peneliti CIPS Assyifa Szami Ilman mengatakan, jika harga komoditas yang menjadi kebutuhan pokok makanan naik, maka akan berdampak pada berkurangnya asupan gizi atau nutrisi yang dikonsumsi masyarakat.

"Kenaikan harga pangan seperti nasi, sapi, ikan dan telur memiliki dampak peningkatan angka stunting. Kalau konsumsi berkurang menyebabkan kemungkinan anak-anak satu keluarga mengalami stunting," ujarnya, Senin (22/10).

Menurutnya, kecukupan gizi masyarakat Indonesia masih rendah. Hal tersebut diukur berdasarkan tiga pilar, yaitu keterjangkauan pangan, ketersediaan pangan, dan kualitas pangan. "Indonesia masih kurang dalam menyediakan pangan yang kaya akan gizi seperti protein kalsium. Kadang di rumah tidak memiliki kandungan gizi yang cukup. Acap kali piring makanan sehari-hari cenderung nonton meskipun telah diedukasi gizi seimbang," ungkapnya.

Ilman menegaskan, banyak faktor untuk memenuhi ketiga pilar tersebut. Di antaranya, perlunya dukungan mulai dari tingkat petani. Sebab, tidak semua jenis komoditas cocok di satu lahan.

"Misalnya gandum, ketika kita lihat industri maju seperti Amerika Serikat (AS) punya tanah luas dan datar juga teknologi yang baik. Beras Vietnam dan Thailand ekspor karena punya Sungai Mekong optimal untuk tanam padi. Sungai di Indonesia enggak punya karakteristik yang sebaik Sungai Mekong,” tandasnya.

Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Muhammad Maulana mengatakan salah satu kendala pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, yaitu ketersediaan pasokan bahan pokok di pasar tradisional. Sebab, 68 persen bahan pokok yang dikonsumsi dibeli di pasar tradisional.

“Pentingnya peran pasar tradisional dalam isu ketahanan pangan. Keterjangkauan pangan adalah salah satu hal yang vital,” tuturnya. Dengan demikian, menurut Maulana, kualitas dan kebersihan pasar tradisional perlu ditingkatkan sehingga dapat menciptakan rasa nyaman baik para pembeli maupun pedagang.

"Kita harus sadar dengan pasar tradisional karena denyut nadinya ekonomi nasional. Kita mau Indonesia selain terkenal dengan kebudayaan dan alam tapi pasar tradisional. Karena banyak dan khas pasar tradisionalnya. Negara maju seperti Inggris selalu memublikasikan pasar tradisional aja. Enggak hanya negara berkembang tapi negara maju bangga dengan pasar tradisionalnya," imbuhnya.

Maulana menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kenaikan harga komoditas yang dijual di pasar tradisional. Di antaranya iklim, ketersediaan komoditas, dan minimnya literasi keuangan di kalangan pedagang.

"Iklim sudah pasti berkaitan dengan cuaca yang akan memengaruhi masa panen. Lalu, ketersediaan komoditas di dekat konsumsi dan dukungan optimal sangat berpengaruh," imbuhnya.

Ketiga, faktor yang tak kalah besar pengaruhnya, yaitu minimnya literasi keuangan di kalangan pedagang. Hal ini membuat para pedagang harus terpaksa meminjam ke rentenir dengan harga bunga yang sangat tinggi. "Itu juga memengaruhi harga jual barang," tegasnya.

Maulana menambahkan, banyak terjadi miskoordinasi dalam memperbaiki kesejahteraan pangan Indonesia. Salah satunya, kurangnya sinergi antarsektor kementerian atau lembaga. "Pangan itu kan berkaitan dengan logistik, jadi bukan hanya tugas Kementerian Perdagangan tapi juga Kementerian Perhubungan," tandasnya.

Selain itu, lanjutnya, faktor kesediaan pasokan juga terjadi di lembaga seperti Bulog. Jika pedagang ingin membeli beras langsung ke Bulog harus ada minimal satu kontainer atau 28 ton. "Itu yang menyebabkan harga di pasar tradisional jauh lebih mahal dibandingkan pasar ritel modern," pungkasnya. (mys/jpg/ndu2/k15)

loading...

BACA JUGA

Minggu, 19 Januari 2020 12:53

Tingkat Kemiskinan di Balikpapan Turun Jadi 2,42 persen

 BALIKPAPAN – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan di…

Minggu, 19 Januari 2020 12:23

Samarinda Optimistis Tak Berebut Pasar

PADA 2020 okupansi hotel di Samarinda diprediksi meningkat 20 persen.…

Sabtu, 18 Januari 2020 10:29

Bisnis Pariwisata Bontang Masih Terbuka Lebar

Kunjungan wisatawan terus digenjot Bontang. Salah satu caranya dengan menyediakan…

Sabtu, 18 Januari 2020 10:25

Tingkatkan Perputaran Uang, Instruksikan Belanja Rp 10 Juta Per Bulan di Pasar Induk

SANGATTA - Sebagai salah satu upaya meramaikan pasar sekaligus mendongkrak…

Jumat, 17 Januari 2020 14:12

Mengunjungi Pusat Budi Daya Lobster di Lombok Timur

Budi daya lobster petambak Teluk Jukung, Telong-Elong, Lombok Timur, NTB,…

Jumat, 17 Januari 2020 14:06

OJK Percepat Reformasi Asuransi

 JAKARTA - Industri asuransi nasional tengah menjadi sorotan. Kasus gagal…

Kamis, 16 Januari 2020 14:02

Gencarkan Promosi Pariwisata Kaltim lewat Mahakam Travel Mart

Mahakam Travel Mart (MTM) bakal kembali digelar tahun ini. Tidak…

Kamis, 16 Januari 2020 14:02

Penduduk Miskin Kaltim Cuma Bertambah 990 Orang

SAMARINDA – Jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan masih lebih…

Kamis, 16 Januari 2020 14:01

Tahun Ini Balikpapan Bakal Lebih Berat Kendalikan Inflasi

BALIKPAPAN – Kelompok bahan makanan masih menjadi hantu bagi inflasi…

Kamis, 16 Januari 2020 13:52

DUH..!! Jargas Balikpapan Belum Sesuai Harapan

Pemasangan jaringan gas (jargas) banyak dinanti oleh warga Balikpapan. Namun…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers