MANAGED BY:
KAMIS
12 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

MANCANEGARA

Minggu, 21 Oktober 2018 11:14
Gas Air Mata di Perbatasan Bikin Balik Kucing
Ribuan Warga Honduras yang Tak Mau Terbelenggu Mimpi Buruk
Pengungsi Honduras.

PROKAL.CO, Pembunuhan, kemiskinan, dan perekonomian yang sulit membuat penduduk Honduras tak tahan. Amerika Serikat (AS) menjadi harapan. Sejak akhir pekan lalu, ribuan orang berjalan kaki demi menggapai asa. Jarak 4.500 kilometer bukan hambatan.

MARTA Ornelas Cazares menyusui bayinya sambil terisak. Dia belum bisa melupakan pemandangan yang baru saja tersaji di depan matanya. Sangat menakutkan. Aparat dan rombongan imigran asal Honduras, seperti dia, terlibat baku hantam.

Dua kubu saling bentak, dorong, dan pukul. Sejurus kemudian, dua kubu saling lempar batu. Tegang, ricuh, sampai akhirnya aparat menyemprotkan gas air mata. ’’Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya pikir kami bisa menyeberang dengan damai,’’ ujar perempuan 28 tahun itu. Air matanya terus mengalir. Dia masih trauma. Untung, dia akhirnya bisa menyeberang dari Guatemala ke Meksiko bersama buah hatinya.

BBC menyebut Cazares sebagai bagian dari caravan. Itu adalah istilah yang media AS sematkan kepada rombongan imigran asal Honduras yang selama hampir dua pekan terakhir berparade menuju Meksiko. Dari Meksiko, sekitar 4 ribuan penduduk Honduras tersebut akan menyeberang ke AS dan mencari suaka di sana.

Sebagaimana teman-temannya yang lain, Cazares tidak kerasan lagi tinggal di Honduras. Konflik dan kekerasan yang tiap hari terjadi membuatnya ngeri. Setiap hari dia merasa dilanda mimpi buruk. Yang membuatnya lebih ngeri adalah fakta bahwa anak-anaknya masih kecil. Di Honduras, nyawa dua anaknya yang berusia 15 dan 10 tahun melayang karena kekerasan. Putus asa, Cazares akhirnya ikut bermigrasi.

Akhir pekan lalu caravan memulai perjalanan mereka dari San Pedro Sula. Awalnya tidak sampai 200 orang. Tapi, dalam perjalanan, jumlahnya bertambah. Para imigran tersebut sengaja berjalan dalam rombongan besar. Taktik itu mujarab untuk menghindari perampokan, pemerkosaan, dan kejahatan lainnya dalam perjalanan.

Dari Honduras ke Guatemala, perjalanan hampir tak menemui kendala. Meskipun, pemerintah Honduras mengerahkan pasukan keamanan di perbatasan dua negara. Tidak sampai terjadi bentrok saat caravan menyeberang ke Guatemala. Sampai di seberang, mereka disambut penduduk Guatemala yang ramah.

Perjalanan selanjutnya menuju Guatemala City terasa lebih ringan. Sepanjang jalan, ada saja penduduk Guatemala yang memberikan tumpangan kepada rombongan pejalan kaki tersebut. Anak-anak dan remaja bisa menumpang mobil, truk, maupun bus sampai ke ibu kota. Bahkan, ada juga yang memberikan makanan dan pakaian kepada rombongan asal Honduras itu.

Tidak seperti Guatemala, Meksiko lebih garang. Sejak sebelum rombongan tersebut sampai ke perbatasan, pemerintah sudah mengerahkan pasukan ke perbatasan. Itu sesuai dengan instruksi Presiden Donald Trump yang tidak mau caravan sampai mendekati AS.

Jumat (19/10) bagian paling depan rombongan tersebut tiba di perbatasan sisi Guatemala. Mereka merusak pagar pembatas dan berhasil memasuki jembatan menuju sisi Meksiko. Kondisi itu sudah diantisipasi. Pemerintah Meksiko telah mengerahkan pasukan anti huru-hara ke lokasi. Pasukan tersebut menghalau mereka yang sukses masuk Meksiko dengan menerobos pagar pembatas.

Berang, rombongan imigran Honduras itu menyerang aparat. Mereka melemparkan botol, batu, dan berbagai benda lainnya ke arah petugas di perbatasan. Akibatnya, sejumlah petugas, jurnalis, dan beberapa imigran sendiri luka-luka. Mereka yang membawa bayi seperti Cazares panik. Gas air mata dan desak-desakan membuat anak-anak sulit bernapas. ’’Tolong buka,’’ teriak salah seorang perempuan sambil mendekap bayinya.

Sebagian imigran, terutama yang tidak punya identitas resmi, memilih untuk terjun ke Sungai Suchiate dan mencoba menembus perbatasan lewat bawah jembatan. Sungguh jalur yang tidak biasa. Mereka menggunakan tali sebagai panduan menuju tepi sungai.

Pemerintah Meksiko sudah mewanti-wanti imigran Honduras itu agar masuk secara legal. Maksudnya, masuk lewat jalur normal dengan menunjukkan dokumen lengkap. Bagi mereka yang nekat, pemerintah Meksiko tidak akan segan menangkap dan mendeportasi mereka.

Ketika situasi mulai tenang, petugas mengizinkan sebagian kecil rombongan menuju selter. Mereka boleh menumpang di sana sambil mengurus surat permohonan suaka. Rata-rata yang ditampung adalah perempuan dan anak-anak. Termasuk Cazares. Sampai 45 hari kemudian, mereka boleh tinggal di sana. Setelah itu, jika permohonan suakanya ditolak, mereka harus pulang ke Honduras.

Mayoritas imigran yang diwawancarai Reuters mengaku bahwa mereka tidak mengerti cara mendapatkan dokumen yang dibutuhkan agar bisa masuk Meksiko. Tapi, mereka ingin tetap mencoba. ’’Saya akan berjuang. Saya akan mencoba terus sampai berhasil,’’ ujar Hilda Rosa. Dia membawa empat anaknya dalam perjalanan nekat tersebut.

Mereka yang nyalinya ciut langsung memutuskan pulang ke Honduras. Bentrok di perbatasan yang mengakibatkan belasan orang luka itu telah merampas keberanian mereka. Mendadak, mereka menjadi takut. Mereka pun memutuskan balik kucing.

Rombongan warga El Progreso, misalnya. Mereka termasuk dalam kelompok imigran yang tidak berani menghadapi risiko selanjutnya. Sebab, mereka yakin tantangan yang akan mereka hadapi lebih besar. Apalagi, selepas Meksiko, mereka harus menghadapi Trump dan kebijakan anti-imigrannya. ’’Besok kami pulang saja lah,’’ ujar Jose Ramon Rodriguez kepada kawan-kawannya. (sha/c22/hep) Meksiko-Guatemala Halau Caravan

Caravan yang menghadirkan krisis di perbatasan memaksa Presiden Honduras Juan Orlando Hernandez dan Presiden Guatemala Jimmy Morales duduk bersama. Hernandez dan Morales sepakat untuk memfasilitasi mereka yang mau mengurungkan niat hijrah ke AS. Dalam waktu dekat, Hernandez akan mengirim pasukan Honduras ke Guatemala.

Maksud Hernandez baik. Pasukan Honduras itu nanti membantu caravan dalam perjalanan mereka. Yang dia maksud, tentu saja, perjalanan pulang. Kembali ke Honduras. Bukan lanjut menuju Negeri Paman Sam.

’’Saya juga sudah meminta izin untuk menyewa transportasi darat. Siapa pun yang bersedia pulang bisa naik moda tersebut. Sementara itu, transportasi udara akan kami sewakan khusus untuk perempuan, anak-anak, lansia, dan orang sakit,’’ cuit Hernandez pada akun Twitter-nya.

Lewat cara itu, pemerintah Honduras berusaha memaksa warganya kembali ke negara asal. Itu dilakukan karena AS sudah berancang-ancang mengirim pasukan bersenjata ke perbatasannya dengan Meksiko. Pasukan AS itulah yang nanti bertugas menghalau imigran asal Honduras yang kini mencapai Meksiko.

Kemarin (20/10) lembaga HAM mengkritik langkah Meksiko yang tidak memberikan kesempatan kepada caravan Honduras untuk mengadu nasib di wilayahnya. Padahal, sebagian imigran dalam rombongan itu menjadikan Meksiko sebagai negara tujuan. Karena itu, sebaiknya Meksiko tidak asal mengusir dan memaksa mereka pulang ke Honduras.

Erika Guevara-Rosas dari Amnesty International menegaskan bahwa para imigran itu seharusnya tidak dikembalikan ke negara asal. ’’Mereka menghindari kekerasan di negaranya dan kini Anda mengembalikan mereka ke akar masalah,’’ kritiknya.

Namun, Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto bergeming. Dia bersikukuh kepada kebijakannya mengusir imigran tanpa dokumen dari negerinya. Dia menyebut insiden di perbatasan yang sampai menimbulkan korban luka sebagai contoh dampak buruk caravan. Para imigran itu, menurut dia, kasar. Merekalah yang memulai serangan di perbatasan. Mereka pula yang memprovokasi aparat.

Eunice Rendon, koordinator kelompok advokasi para imigran Agenda Migrante, mengungkapkan bahwa setiap ada caravan yang mendekat, pemerintah memang mengerahkan polisi ke perbatasan. Tetapi, situasinya tidak pernah sedramatis Jumat lalu. ’’Ini gara-gara Trump,’’ ujarnya mengacu kepada ancaman presiden 71 tahun tersebut. (sha/c4/hep)

 


BACA JUGA

Rabu, 11 Desember 2019 11:46

Tragedi Wisatawan dalam Letusan Gunung Pulau White

Pulau White merupakan salah satu destinasi yang masuk bucket list…

Selasa, 10 Desember 2019 11:21

Hukuman Rusia Tambah Empat Tahun

LAUSANNE-Upaya bersih-bersih Rusia dari skandal doping di dunia olahraga belum…

Senin, 09 Desember 2019 10:42

Penembak Mati Empat Pemerkosa Diselidiki

Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) Nasional India tengah menyelidiki seorang…

Senin, 09 Desember 2019 10:40

Drone Amerika Ditembak Senjata Rusia, Tapi Amerika Klaim Begini...

TRIPOLI - Militer AS meyakini bahwa pesawat nirawak mereka yang…

Senin, 09 Desember 2019 10:39

Asmara Terlarang Ibu Guru yang Berujung Penjara

Seorang guru di Florida, Amerika Serikat, bernama Susan Weddle (40)…

Sabtu, 07 Desember 2019 12:09

Tegas..!! Empat Pemerkosa Ditembak Mati

NEW DELHI– Ratusan orang menyalakan kembang api di Cyberabad, Hyderabad,…

Sabtu, 07 Desember 2019 10:40

Prancis Dilanda Mogok Besar-besaran

Aksi mogok kerja besar-besaran melanda Prancis, Kamis (5/12). Mereka memprotes…

Sabtu, 07 Desember 2019 09:28

Ilmuwan Tiongkok Gagal Eksperimen Genetik Anti-HIV

BEIJING–Tahun lalu, ilmuwan Tiongkok bernama He Jiankui mengklaim berhasil menyunting…

Rabu, 04 Desember 2019 12:13

Melinda Plesman, Korban Kebakaran Australia yang Pamerkan Puing Rumah di Canberra

Masyarakat Australia makin frustrasi melihat respons pemerintah terhadap kebakaran hutan…

Senin, 02 Desember 2019 12:20

Ucapan Terima Kasih Hongkongers untuk AS

HONGKONG– ’’Gencatan senjata’’ sudah berakhir. Akhir pekan lalu, warga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.