MANAGED BY:
SELASA
17 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 07 September 2018 08:41
Smartphone untuk Anak: Positif atau Negatif?

PROKAL.CO, Oleh: Suwardi Sagama
(Pakar Hukum Perlindungan Anak/Dosen HTN IAIN Samarinda)

PERUBAHAN era atau masa tidak dapat dihindari lagi. Setiap orang berlomba memenuhi kebutuhan yang lebih dari sebelumnya. Mulai anak-anak hingga orang dewasa, bahkan orang tua, berlomba memenuhi kebutuhan yang setiap hari meningkat.

Dahulu alat komunikasi jarak jauh didominasi alat komunikasi rumahan, yakni telepon. Alat komunikasi yang mudah dibawa, dapat disimpan di kantong pakaian juga ada, namun masih jarang ditemukan. Faktor harga hanya menjangkau kalangan ekonomi ke atas dan masih rendahnya kebutuhan komunikasi lewat jarak jauh.

Masyarakat yang berada di kalangan ekonomi bawah, dalam berkomunikasi jarak jauh terbantukan hadirnya warung telepon atau wartel. Tidak ada gambar atau video dapat dikirim antara si penelepon dan si penerima telepon. Telepon hanya bisa digunakan untuk berkirim suara dan terkadang berkirim pesan tertulis. Tidak ada perbuatan negatif dapat ditiru anak dengan menggunakan telepon, karena hanya ada tombol angka dan huruf serta gagang telepon untuk berbicara.

Pada masa itu, kasus kekerasan kepada anak begitu tabu sampai di telinga maupun disaksikan di layar kaca televisi. Jika pun ada kekerasan terhadap anak yang terjadi, peluangnya kecil disebabkan dampak alat komunikasi jarak jauh bernama telepon. Berbeda dengan masa sekarang, kecanggihan teknologi berkembang mengikuti arus zaman yang terus bergerak.

Telepon kian waktu makin tertinggal. Kebutuhan masyarakat dalam berkomunikasi dapat dilakukan dengan singkat dan dapat berkomunikasi tanpa harus menggunakan pulsa. Telepon hanya dijumpai di perkantoran, perusahaan, dan mal. Di rumah jarang dijumpai.

Lain zaman lain kebutuhan. Alat komunikasi pun berubah ke arah yang cepat dan canggih. Alat komunikasi tidak hanya berkirim suara dan pesan, namun dapat digunakan untuk berkirim gambar data berupa foto dan video yang dapat didistribusikan dengan cepat. Sekali klik dapat berkirim gambar atau video ke ratusan, bahkan ribuan orang dalam waktu sepersekian detik.

Smartphone atau ponsel cerdas pun hadir dengan menawarkan  fitur-fitur atau aplikasi yang tidak hanya  membantu dalam komunikasi, namun juga berkirim gambar dan video. Tanpa harus menggunakan pulsa, cukup memiliki paket data atau tersambung dengan Wi-Fi.

Smartphone juga memberikan fitur permainan yang tidak hanya dilakukan sendiri namun dapat bermain secara kelompok atau grup. Penggunaan ponsel cerdas tidak hanya digunakan orang dewasa namun juga usia anak. Harga terjangkau serta penggunaan yang mudah memberikan kemudahan kepada anak untuk memiliki dan menggunakan smartphone dengan mudah. Selain itu, smartphone menjadi kebutuhan anak di sekolah dengan dimanfaatkan dalam pemberian tugas-tugas oleh guru secara online melalui akun sosial baik pribadi maupun grup kelas.

Tugas ini sangat jelas menjadi tanggung jawab orangtua. Tugas diberikan untuk dikerjakan di rumah, bukan sekolah. Namun, pada kenyataannya, tidak semua orangtua dapat melakukan pengawasan atau mendampingi anak ketika mengerjakan tugas.

Perkembangan teknologi tidak dapat kita hindari. Jika tidak diimbangi penyaring yang baik untuk penggunanya, khususnya kepada anak, maka berisiko terhadap tumbuh kembang anak.

Smartphone menjadi simalakama. Diperlukan untuk mengimbangi era digital, di sisi lain dapat mengancam pertumbuhan anak. Berisiko terhadap kekerasan anak. Begitulah smartphone memiliki sisi positif dan negatif, khususnya kepada anak.

SISI POSITIF UNTUK PERKEMBANGAN ANAK

Penggunaan smartphone kepada anak menandakan keinginan agar anak mengetahui era digital sejak dini telah terpenuhi. Era yang mengajarkan bahwa pentingnya mengerjakan sesuatu dengan cepat dan tepat. Tanpa harus memakan waktu berhari-hari serta biaya tinggi.

Era digital dapat membantu siapa pun, tidak terkecuali anak, dalam mengakses informasi dari smartphone. Anak hanya memerlukan paket data atau Wi-Fi agar tersambung koneksi internet sehingga dapat membuka informasi yang jaraknya mencapai jutaan bahkan miliaran kilometer.

Semua dapat dilakukan dengan cara klik kata kunci yang dicari. Semua menjadi dekat. Sedekat mata memandang. Bahkan, dengan smartphone anak bebas memilih permainan apa yang dikehendaki. Anak akan dengan cepat bermain tanpa harus berpanas-panasan atau mencari tanah lapang yang saat ini susah ditemukan.

Kemampuan mengolah smartphone memberikan anak kecerdasan dalam berpikir dan mengenal gambar-gambar yang dilihat. Kemudian mengetahui apa saja nama serta karakternya. Berbagai kemudahan smartphone sangat membantu pertumbuhan anak masa kini.

Permainan di tanah lapang yang menjadi kebutuhan anak mulai tergerus pembangunan yang signifikan. Lapangan bermain untuk anak seperti tidak direstui. Lapangan yang dahulu tempat bermain berubah fungsi menjadi ruko atau bangunan mewah milik kapital atau pemegang modal besar.

Pilihan bermain pun dilakukan di jalan yang diperuntukkan kendaraan bermotor. Sangat berisiko terhadap keselamatan. Bermain dengan smartphone pun jadi solusi. Hak mutlak anak untuk tumbuh berkembang melalui permainan, tergantikan smartphone.

Selain sebagai media permainan, baik secara individu maupun terkoneksi kelompok, smartphone digunakan sebagian sekolah sebagai media distribusi tugas atau pekerjaan rumah. Tugas diberikan kepada siswa/i melalui akun sosial. Guru mengirim pertanyaan dengan jumlah soal tertentu kepada murid kelas melalui ketua kelas atau langsung di grup kelas yang telah dibuat sebelumnya. Bahkan smartphone dapat dibawa ke sekolah untuk dimanfaatkan dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah yang harus diselesaikan di sekolah.

Pemberian tugas melalui akun sosial baik WhatsApp maupun Line adalah kemajuan teknologi yang harus diterima. Namun, bukan menerima dengan tangan tertutup melainkan terbuka untuk melihat sisi positif terhadap perkembangan anak.

Tugas yang diberikan secara online akan memudahkan siswa/i membaca dan mengerjakan. Siswa/i tidak lagi harus membeli lembar kerja siswa (LKS) atau membawa buku yang seabrek hanya untuk menyiapkan apabila diberikan tugas rumah atau tugas sekolah langsung dikerjakan. Tidak jarang buku yang sudah dibawa siswa/i ketika tidak diberikan tugas sekolah atau tugas rumah, hanya menjadi beban yang harus dipikul. Belum lagi buku paket yang tebal harus dipikul dalam tas yang dibawa.

Oleh karena itu, dengan adanya smartphone siswa/i tidak lagi harus membawa buku dengan jumlah banyak serta beban berat. Tinggal menyiapkan smartphone. Tugas sekolah atau tugas rumah akan didistribusikan melalui akun sosial baik melalui perwakilan kelas atau grup kelas. Dengan demikian, tugas sekolah dapat diselesaikan dengan cepat dan tepat.

DAMPAK NEGATIF SMARTPHONE UNTUK ANAK

Dalam setiap kesempatan, dengan mudah kita melihat anak-anak masih berusia belia sudah memegang handphone. Tidak jarang anak-anak akan makan apabila diberikan smartphone. Kondisi ini di tengah masyarakat tidak mengherankan lagi. Tidak jarang sejak bayi, smartphone telah diberikan oleh orangtua. Pola yang terbangun sejak bayi membiasakan penggunaan smartphone baik memperlihatkan video-video lucu atau sekadar mendengarkan musik. Ini berdampak terhadap kesempatan anak yang akan memaksa harus menggunakan smartphone. Bahkan smartphone menjadi “alat” oleh sebagian orangtua untuk mendiamkan anak ketika menangis, menenangkan anak ketika mengamuk, dan menjadi pengganti kebutuhan anak agar tidak rewel ketika ingin membeli sesuatu di warung terdekat.

Tidak jarang sebagian orangtua terlibat aktif menggunakan smartphone ketika anak yang berada di sampingnya menggunakan smartphone. Kalau sudah begini, anak menjadi korban smartphone dan korban penelantaran orangtua akibat dibiarkan.

Penggunaan smartphone untuk anak bukanlah sesuatu yang baik. Apalagi anak yang belum mengenal angka dan tulisan. Usia anak adalah waktu yang baik untuk mengenal lingkungan, termasuk apa yang digunakan. Pemberian smartphone kepada anak akan mengajarkan sifat pasif dan malas kepada anak tersebut. Anak akan bersifat pasif dalam berkomunikasi karena saat itu yang menjadi teman berkomunikasi adalah smartphone. Tidak akan ada interaksi atas komunikasi yang dilakukan dengan smartphone, karena smartphone dibentuk bukan sebagai alat komunikasi antara pemegang dan smartphone.

Anak juga berpeluang menjadi malas. Smartphone mengajarkan bahwa dalam bermain tidak perlu mencari arena bermain. Anak akan berpikir bahwa bermain cukup menggunakan smartphone maka permainan yang dicari akan dengan mudah dilakukan. Dampaknya secara langsung dirasakan anak dalam memenuhi hak untuk tumbuh kembangnya.

Smartphone juga dapat menjadi peniru yang tidak baik kepada anak ketika terjadi transaksi konten negatif. Sebagaimana kecanggihan dalam smartphone, yakni dapat berkirim foto dan video kepada jutaan orang dalam waktu cepat. Maka konten apa yang dikirim oleh anak baik disengaja maupun tidak disengaja, tidak dapat diketahui tanpa dilakukan pemeriksaan riwayat chat atau kirimannya. Kecanggihan ini adalah risiko dari penggunaan smartphone terhadap anak. Apa yang dilihat atau ditonton akan menjadi tantangan untuk dicoba. Apalagi orangtua tidak dapat melakukan pengawasan dengan baik terhadap anak. Potensi terjadinya kekerasan kepada anak baik menjadi pelaku atau korban tidak dapat dihindari. Dengan ukuran minimalis ketika anak menggunakan smartphone dapat berdalih mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Belum lagi dalam mengerjakan tugas sekolah menggunakan Google. Nyatanya anak tersebut telah bertransaksi foto atau video berisikan konten negatif bukan mengerjakan tugas. Hal ini diperparah oleh setiap anak “wajib” menggunakan smartphone dalam pendistribusian soal atau materi dari sekolah, sedangkan kurikulum sekolah tidak mengajarkan tata cara penggunaan smartphone yang baik.

Selain itu, sebagian anak memanfaatkan smartphone untuk memutar video YouTube. Berbagai adegan yang diputar dari video anak-anak di channel YouTube, sedangkan orangtua tidak mengetahui cara menyaring agar yang muncul bukan video bergenre “dewasa” dan asyik dengan kegiatan lain sehingga tidak melakukan pengawasan. Hal ini membahayakan untuk perkembangan anak dalam menonton video yang diputar. Video bergenre anak-anak pun tidak jarang ditemukan adegan-adegan yang tidak baik untuk anak. Bahkan pakaian yang dipakai di video bergenre anak tidak jarang ditemukan tidak layak ditonton anak. Inilah berbagai risiko atau dampak negatif dari penggunaan smartphone apabila tanpa pengawasan yang baik dan benar. (*)


BACA JUGA

Senin, 16 September 2019 20:51

Gubernur Isran Luncurkan Beasiswa Kaltim Tuntas, yang Dapat Ribuan....

PROKAL.CO, SAMARINDA - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur luncurkan program Beasiswa…

Senin, 16 September 2019 13:39

CELAKA WAL..!!! Angin Mengarah ke Kaltim, BMKG Prediksi Kabut Asap Makin Tebal

PROKAL.CO, SAMARINDA - Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi menghimbau masyarakat…

Senin, 16 September 2019 13:27

Ada Agenda Terselubung di Balik Revisi UU KPK

BALIKPAPAN–Rancangan Undang-undang (RUU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dianggap mengancam…

Senin, 16 September 2019 13:26
Cegah Spekulan Tanah di Lokasi Ibu Kota Negara

Moratorium Sementara Penerbitan SKT

PENAJAM- Ibu kota negara pindah ke Kaltim. Pemkab Penajam Paser…

Senin, 16 September 2019 13:24

333 Hektare Lahan Gambut Terbakar di Paser dan PPU

KABUT asap yang mengepung langit Kaltim tidak hanya berasal dari…

Senin, 16 September 2019 13:21

Belum Ada Jaminan Penerbangan Kembali Normal

BALIKPAPAN–Lalu lintas penerbangan di Kaltim nyaris lumpuh. Gempuran kabut asap…

Senin, 16 September 2019 13:11
Thareq Kemal Habibie Tak Mau Berkarir di Bawah Bayangan Bapak

Dikira Pebisnis, padahal PNS Merangkap Chef Lulusan Jerman

Penampilan serbahitam dengan penutup mata membuat sosoknya terlihat misterius. Mirip…

Senin, 16 September 2019 11:46

MENCURIGAKENNN..!! Pembahasan Revisi UU KPK Masih Tertutup

JAKARTA– Keputusan tiga pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyerahkan mandat…

Senin, 16 September 2019 01:19

Kabut Asap Ganggu Penerbangan, Kemenhub Minta Pengguna Jasa Transportasi Udara Sabarrrr.....

JAKARTA- Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengimbau seluruh…

Minggu, 15 September 2019 17:31

Makin Tak Terkendali, Kebakaran Lahan Menghampiri Bandara APT Pranoto

PROKAL.CO, SAMARINDA - Kebakaran lahan terjadi di areal dekat apron…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*