MANAGED BY:
SELASA
12 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Selasa, 14 Agustus 2018 09:03
Anggrek, si Eksotis yang Terus Terkikis
KELESTARIAN TERANCAM: Surya Sili menunjukkan anggrek Vanda, yang mayoritas tumbuh di luar Kaltim. (RENDY FAUZAN/KP)

PROKAL.CO, Anggrek menjadi salah satu tumbuhan favorit pencinta tanaman hias. Namun, tingginya minat itu berisiko mengancam kelestarian tanaman bernama latin Orchidaceae itu.

SEDIKITNYA 70 spesies anggrek di Indonesia terancam punah. Demikian menurut data yang diterima Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Kaltim. “Di Kaltim, ada anggrek hitam yang kelestariannya menjadi sorotan,” ucap Wakil Ketua PAI Kaltim Refrimen. Beberapa hal mengancam kelestarian anggrek. Salah satunya angka permintaan yang tinggi. Anggrek berada di puncak popularitas di kalangan pencinta tanaman hias. “Saking tingginya permintaan, pedagang sering kehabisan pada momen tertentu, hingga harus mendatangkan dari luar daerah,” ucapnya.

Jawa Barat dan Jawa Timur jadi daerah pendistribusi anggrek terbanyak ke Kaltim. Anggrek berjenis Dendrobium, Cattleya, dan Vanda jadi spesies yang awam didatangkan.

Tingginya permintaan tak diimbangi upaya budi daya. Padahal, anggrek memiliki rentang waktu pengembangbiakan yang tergolong panjang. “Dengan pengembangan konvensional, budi daya anggrek baru optimal dalam hitungan tahun,” jelas Surya Sili, ketua PAI Kaltim, saat ditemui di pelatihan penyilangan dan kultur jaringan anggrek, di Fakultas Pertanian, Universitas Mulawarman, Senin (13/8).

Mencegah kepunahan, beberapa langkah ditempuh. Diawali dengan menekan komersialisasi anggrek yang tumbuh alami. “Jadi, yang dijual adalah tanaman hasil budi daya, bukan dari alam. Di Kaltim, langkah itu sudah ditegakkan sejak lama,” terang dia. Selain itu, budi daya juga dioptimalkan menggunakan metode kultur jaringan. Yakni metode penanaman dengan menggunakan media khusus yang steril dari kuman. Kultur jaringan disebut terbukti membuat durasi budi daya lebih efektif. “Masa tumbuh menjadi lebih cepat dengan jumlah bibit yang lebih banyak,” imbuh Surya.

Refrimen menambahkan, pemanfaatan metode kultur jaringan lebih optimal bila digarap di laboratorium. Itu karena pertimbangan kesterilan ruang. Saat ini, terdapat beberapa laboratorium di Kaltim yang menggunakan metode tersebut. “Seperti di agrowisata milik Dinas Pertanian Kaltim; Unmul (Universitas Mulawarman); di Tarakan yang kini bagian dari Kaltara. Di Kersik Luway, Kutai Barat, ada juga laboratorium mini untuk menjalankan metode ini,” terang dia. Meski terdengar rumit, metode kultur jaringan tetap bisa diaplikasikan dengan cara yang lebih sederhana. “Sehingga ibu rumah tangga pun bisa menerapkan metode itu,” imbuh Surya.

Bila metode ini bisa berjalan massal, diharapkan ke depan Kaltim tidak perlu lagi mendatangkan anggrek dari luar hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar. “Jadi, pengusaha juga bisa mengoptimalkan bisnis mereka. Kalau perlu kita yang menjadi penyedianya,” tegas perempuan yang juga akademisi itu. Surya menjelaskan, dari beberapa jenis tanaman hias, nilai ekonomis anggrek tergolong stabil. Bahkan, menurut hasil survei terakhir mereka, perlahan terjadi peningkatan harga bunga. “Biasanya dulu hanya Rp 35 ribu, kini bisa mencapai Rp 70–100 ribu per pot.” Keelokan corak dan warna bunga menjadi salah satu penentu nilai anggrek. “Semakin eksotik corak dan warnanya, semakin tinggi harganya,” pungkas dia.

Sementara itu, Yusuf, pedagang tanaman hias di Jalan Letjen Soeprapto, Samarinda Ulu, menjelaskan, bahwa kini anggrek bersaing dengan beberapa jenis tanaman lain, seperti bugenvil dan mawar. “Dua itu (mawar dan bugenvil) juga sedang banyak dicari pelanggan,” terang pedagang 45 tahun itu. Dia pun menjadi salah satu pedagang yang mendatangkan anggrek dari luar pulau. “Biasanya mengambil dari Jawa Timur. Terkadang dari Jakarta,” ucap pria yang sudah menggeluti bidang itu selama dua dekade. Pilihan “mengimpor” anggrek dari daerah lain juga karena alasan senada, pengembangbiakan yang terlampau lamban.(ndy/riz/k15)

 


BACA JUGA

Kamis, 07 November 2019 11:54
Achmad Zulkarnaen, Kekurangan Fisik yang Jadi Fotografer

Berguru ke Darwis Triadi, Pegang Kalimat Ali bin Abi Thalib

Achmad Zulkarnaen, pria ini patut menjadi panutan. Memiliki kekurangan fisik…

Sabtu, 02 November 2019 21:28

Selamat Jalan Alfin Lestaluhu, Pemain Timnas U-16 Bersuara Merdu

Kesehatan Alfin Lestaluhu menurun saat berada di pengungsian akibat jarang…

Kamis, 31 Oktober 2019 11:48

Cara Felix K. Nesi Melahirkan Orang-Orang Oetimu

Orang-Orang Oetimu lahir lewat kertas folio, lalu dipindah ke laptop…

Jumat, 25 Oktober 2019 12:03
Komunitas Bocah Pelawak Ngapak Polapike

Mau Jadi Tuntunan, Tak Sekedar Tontonan

Para bocah berbahasa Ngapak ini sekarang sudah jadi selebriti. Mereka…

Jumat, 11 Oktober 2019 11:43

Menghafalkan Alquran Hanya Setahun di Pesantren Asy-Syahadah Surabaya

Menghafalkan Alquran sering terasa berat. Namun, itu tidak berlaku bagi…

Jumat, 04 Oktober 2019 09:33

Fadil Muzakki Syah setelah Foto Bersama Tiga Istri di Gedung DPR Jadi Sorotan

Ketiga istrinya ikut jadi tim sukses yang mengantarkan Achmad Fadil…

Rabu, 02 Oktober 2019 13:44

Sepenggal Kemeriahan Menuju Pesta Perayaan HUT Ke-20 Kutim, Dari Tradisional Ingatkan Milenial

Bisa dihitung jari, bahkan sudah benar-benar tidak diketahui. Permainan tradisional…

Sabtu, 28 September 2019 11:13

Jatuh Cinta dengan Matematika, Bawa Amel Rebut Emas di Hong Kong

Matematika. Kerap punya pamor tak baik di kalangan siswa. Dianggap…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*