MANAGED BY:
SENIN
16 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Rabu, 08 Agustus 2018 12:00
Menolak karena Status Halal dan Efek Samping
-

PROKAL.CO, SUARA penolakan vaksin Measles Rubella di Kota Minyak tak terelakkan. Ada dua alasan mendasari orangtua enggan mengikuti imunisasi MR. Pertama, soal status kehalalan. Kedua ketakutan akibat dampak vaksin.

Alasan tersebut membuat orangtua harus mengisi surat formulir skrining imunisasi MR. Lalu mengatakan tidak ingin menerima imunisasi serta membubuhkan tanda tangan. Dalam selembar kertas itu juga tertulis tentang keterangan riwayat kesehatan anak.

Seperti yang dilakukan Jumiati. Warga RT 17, Kelurahan Gunung Sari Ulu, ini tidak mengizinkan dua cucunya mendapatkan imunisasi MR. Kedua cucunya ini siswa SD 014 Balikpapan Tengah. Jumiati tanpa ragu mengisi formulir yang menyatakan tidak bersedia menerima imunisasi MR. "Iya, saya akan tanggung jawab dengan mengisi formulir ini," katanya.

Kepada Kaltim Post, Jumiati menuturkan penolakan tersebut karena takut efek samping imunisasi MR. Dia bercerita, ada tetangganya yang mengalami kelumpuhan akibat imunisasi. Namun, dia menegaskan, kasus tersebut bukan berasal dari imunisasi MR. "Kalau ada kenapa-kenapa, siapa yang mau tanggung jawab nanti? Ada yang sakit sehabis imunisasi, saya jadi takut," ucapnya.

Belum lagi, berita korban imunisasi MR yang tersebar di Jawa semakin menguatkan niatnya untuk tidak mengizinkan cucu ikut imunisasi MR. Dia mengaku, sebelumnya tidak pernah mendapat sosialisasi soal imunisasi MR. Penjelasan ini baru kali pertama dia dengar saat tim Puskesmas Gunung Sari Ulu melakukan kampanye imunisasi MR di sekolah, Sabtu (4/8).

Meski telah mengikuti sosialisasi, tetap saja tidak mengurungkan niatnya untuk menolak imunisasi. "Tidak berubah, saya tetap saja takut. Terutama karena takut kasus orang salah suntik. Jadi bukan hanya soal halal atau tidaknya vaksin ini," imbuhnya.

Jumiati menuturkan, saat ini dia seorang diri merawat kedua cucunya. Lantaran ayah kedua cucunya itu sibuk mencari nafkah. Sedangkan ibunya telah meninggal dunia. "Sekarang kami berharap tidak ada masalah di kemudian hari," harapnya.

Beda dengan Jumiati, warga lain juga beralasan menunda imunisasi MR karena menunggu kepastian MUI. Hal ini disampaikan oleh Tambunan yang bermukim di Kelurahan Karang Rejo. Dia mengatakan, bukan maksud menolak vaksin. Sebagai warga negara yang baik, dia tetap akan menuruti aturan pemerintah dalam pemberian vaksin untuk anak.

Hanya yang kini menjadi alasannya menunda semata-mata karena menunggu fatwa halal dari MUI. "Jadi bukan menolak, saya tetap menerima vaksin. Namun baru akan saya lakukan setelah ada kepastian soal halal atau tidaknya vaksin ini," bebernya.

Dia berharap, pemerintah bisa tegas dan tak lagi membuat masyarakat bingung. "Saya bersyukur kalau pelaksanaan imunisasi ditunda dulu sambil menunggu keputusan MUI," ungkapnya. Tambunan mengungkapkan, perihal status halal atau tidaknya vaksin bukan perkara gampang. Apalagi sebagai umat muslim, elemen halal hukumnya wajib.

Dia mengibaratkan, seseorang yang ingin menikah saja perlu mendapatkan legalitas  secara agama dan negara. "Begitu pula dengan makanan, harus cari yang halal. Apalagi ini soal vaksin, sesuatu yang masuk ke tubuh. Jadi penting sekali status halal atau tidaknya," tegasnya.

Sebagai warga dan muslim yang taat, Tambunan kini hanya bisa menunggu hasil keputusan MUI. Apabila MUI menyatakan vaksin tersebut halal, dia tidak akan ragu mengizinkan sang anak melakukan imunisasi MR. "Jadi kami bisa patuh pada aturan pemerintah sekaligus sesuai agama juga. Kalau memang ternyata halal, saya bisa ikut vaksin susulan," tuturnya.

Dia mengatakan, secara garis besar sudah mengetahui latar belakang dan tujuan imunisasi MR. Termasuk soal potensi yang timbul setelah proses imunisasi. Misalnya demam ringan. Dia tak masalah dan setuju dengan program pemerintah ini. Namun sekali lagi, dia hanya mempertanyakan soal status halal vaksin.

"Kenapa belum ada status halal karena saya juga mencoba taat pada agama. Saya juga tidak ingin menolak, bagaimana pun cara ini yang terbaik untuk anak," pungkasnya. (timkp)


BACA JUGA

Senin, 16 Desember 2019 11:39

Baru 72 Persen Target, Penerimaan Pajak Jauh dari Harapan

JAKARTA– Realisasi penerimaan pajak pada tahun ini masih jauh dari…

Senin, 16 Desember 2019 11:23

Tuah Perang Dagang, CPO Kaltim Membaik

Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok berdampak baik pada…

Minggu, 15 Desember 2019 21:04

WUIHH MAKIN ENAK..!! Tahun 2020, PNS Tak Perlu Ngantor

Abdi negara bisa segera berkantor di mana saja. Pola perhitungan…

Minggu, 15 Desember 2019 21:03

Tak Semua Eselon III dan IV Dihapus

Jabatan Eselon III dan IV bakal tidak ada lagi. Aparatur…

Minggu, 15 Desember 2019 21:00

Jembatan Mahakam IV Diperkirakan Bisa Dipakai Maret 2020

SAMARINDA–Masyarakat Kota Tepian tampaknya harus banyak bersabar. Sebab, Jembatan Mahakam…

Minggu, 15 Desember 2019 20:57

Azura Luna, Warga Kediri yang Jadi Buronan Interpol Hong Kong

Sosialita asal Kediri terlibat banyak kasus penipuan. Kemudian, menghilang setelah…

Minggu, 15 Desember 2019 20:50

Progres Jalan Bontang - Samarinda dan Sangatta 95 Persen, Rampung Bulan Ini

BALIKPAPAN – Proyek preservasi jalan nasional Samarinda, Bontang, dan Sangatta…

Minggu, 15 Desember 2019 20:11

BPS Sebut Ekonomi Indonesia Tahun 2020 Bakal Suram

JAKARTA- Secara mengejutkan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan pernyataan yang…

Minggu, 15 Desember 2019 14:02

Bandara APT Pranoto Kembali Beroperasi Besok, Maskapai Ini Sudah Buka Reservasi

SAMARINDA - Bandara APT Pranoto akan kembali beroperasi pada hari…

Minggu, 15 Desember 2019 10:00

Pemerintah Kaji Bus Amfibi Jadi Moda Transportasi di Calon Ibu Kota Negara

Melihat karakter geografis calon ibu kota negara, Kalimantan Timur, banyak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.