MANAGED BY:
SENIN
18 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

SELISIK/LAPSUS

Senin, 02 Juli 2018 12:00
Kurang Nafkah Batin Bisa Timbul Cekcok

PROKAL.CO, SEPANJANG 2017, sebanyak 1.913 perkara perceraian masuk ke Pengadilan Agama (PA) Samarinda. Mayoritas adalah gugat cerai yang jumlahnya mencapai 1.479 kasus. Para perempuan lebih banyak mengajukan perceraian ketimbang laki-laki. Penyebab perpisahan paling banyak adalah pertengkaran terus-menerus (PTM).

Diungkapkan Panitera Muda PA Samarinda Muhammad Rizal, pada 2017 ada 674 perceraian yang terjadi karena PTM. “Pertengkaran ini beragam masalahnya. Dari yang berat sampai yang sepele tetapi berlarut-larut. Jadi, sebenarnya masih bisa dijabarkan lagi. Tetapi, pada intinya mereka bertengkar terus dan tidak ada kecocokan,” terang Rizal.

Diungkapkan Rizal, masalah fisik dan seksual tak jarang menjadi penyebab.  Pada 2017, penyebab perceraian akibat cacat badan ada empat. Angka tersebut memang tergolong rendah. Namun, poin tersebut secara tak langsung berkaitan dengan PTM. “Kalau kondisi begitu, biasanya mereka kurang harmonis, kerap cekcok dan jadinya masuk ke kategori pertengkaran terus-menerus,” imbuh Rizal.

Urusan ranjang memang tak sedikit memberi masalah besar.  Dalam pernikahan, istri berhak mendapatkan nafkah lahir dan batin. Nafkah batin tak terpenuhi dengan baik, risiko gangguan keharmonisan menjadi kian rentan. Menurut Rizal, tiap pasangan yang akan menikah perlu bersikap jujur terhadap kondisi masing-masing. Selain itu, ketika sudah menikah dan mendapati masalah kesehatan, bijak untuk mencari solusi bersama. Dengan cara ini, angka perceraian yang tinggi bisa dihindari.

Pada 2017, catatan Pengadilan Agama Kelas I-A Samarinda, banyaknya perkara gugat cerai diterima sepanjang tahun lalu mencapai 1.479, ditambah 227 perkara sisa tahun lalu. Dari angka tersebut, hanya 99 di antaranya yang dicabut. Sedangkan 1.316 lainnya dikabulkan.

Tiga penyebab utama perceraian di Samarinda adalah PTM (674), meninggalkan salah satu pihak (359), dan faktor ekonomi (353).

Memang, diakui Rizal, perkara perceraian yang masuk ke PA kerap berakhir ketuk palu hakim yang berujung perpisahan. Sebab, pada dasarnya, mereka yang memasukkan berkas ke PA sudah bersiap dengan perpisahan. Mengingat, mereka pasti sudah melewati serangkaian proses untuk tetap bersama. “Mediasi keluarga tentu sudah dilakukan. Tetapi, kalau sudah ke PA, ya berarti memang mau pisah. Ada yang masalahnya sudah bertahun-tahun, baru urus cerai,” ucapnya.

Meski begitu, prosedur PA tetap melakukan mediasi terhadap pasangan yang mengajukan berkas perceraian. Sehingga, diharapkan pasangan tersebut bisa terus bersama. Namun, mediasi kerap hanya didatangi salah satu pihak.  Padahal, idealnya mediasi harus ada kedua belah pihak.

Menurut psikolog Yulia Wahyu Ningrum, perempuan pada dasarnya sangat ingin disayang. Pun dalam urusan ranjang, keharmonisan tak ditentukan ukuran hingga durasi. Perlakuan pria terhadap pasangan menjadi poin yang begitu krusial dalam hal ini. “Kurang memahami pasangan. Padahal, lebih ke bagaimana perilaku sebelum berhubungan, making love, dan sesudah berhubungan. Misalnya dengan perilaku ramah, romantis, dan ada foreplay sebelum berhubungan seksual,” imbuhnya. (tim kp)


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*