MANAGED BY:
SABTU
16 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

SELISIK/LAPSUS

Senin, 02 Juli 2018 14:00
Suntik Penis yang Lagi Tren di Kaltim
Ukuran Hanya Sugesti
Subirman

PROKAL.CO, SUGESTI bahwa kepuasan berhubungan intim ditentukan oleh ukuran, menjadi magnet yang menyedot pria ke jurang sesat. Bukti kegagalan dari pengalaman yang sudah-sudah, nyatanya tak bikin takut yang lain. Pasien terus berdatangan.

Praktik memperbesar alat kelamin pria yang dilakukan di luar ketentuan medis menjadi keresahan Perhimpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Kaltim.  Edukasi kesadaran kesehatan reproduksi bukan hal yang baru dijumpai. Namun, selalu ada saja pria mengambil jalan pintas menambah ukuran Mr P.  Kepada Kaltim Post, Ketua Persakmi Kaltim Subirman mengungkapkan pandangannya terhadap praktik ini.

Praktik suntik kelamin banyak dilakukan oleh pria untuk memperbesar ukuran organ vitalnya. Bagaimana Anda memandang hal ini secara medis?

Memang hal-hal seperti itu masuk pengobatan tradisional yang juga diatur dalam Undang-Undang Kesehatan 36/2009. Tapi terkait praktik vitalitas, misalnya memperpanjang atau apapun itu, secara anatomi dan secara medis, setahu saya tidak ada di dalam ilmu dunia medis. Terapi untuk itu dalam dunia kedokteran juga tak dilakukan dengan cara tersebut. Praktis, semua itu masih dalam koridor tradisional.

Siapa pun yang menjalankan praktik seperti itu, tentu tenaga kesehatan yang bertugas sudah harus memiliki SIP yaitu surat izin praktik. Meskipun, di dalam dunia kedokteran, IDI (Ikatan Dokter Indonesia) pun tidak merekomendasikan secara medis. Pengobatan seperti itu di dalam dunia medis, sepertinya memang sudah tidak ada. Tidak direkomendasi.

Langkah apa yang sebaiknya dilakukan untuk menghindari praktik seperti ini mewabah?

Kalau dari sisi ilmu public health, yang dilakukan adalah upaya pencegahan. Masyarakat kita harus diedukasi soal seperti ini. Bahwa dalam penggunaan obat kuat atau serupa, perlu juga hati-hati. Sebab efeknya, terutama untuk orang-orang yang punya riwayat jantung misalnya, tak sedikit kasus meninggal di lokalisasi karena serangan jantung. Mungkin secara umur, sudah tidak seperti waktu masih muda. Sel-sel tubuhnya yang diberikan tenaga kuda pun tidak siap dengan kemampuan jantung. Jadi berakibatlah seperti itu.

Berarti yang selama ini menjadi kendala adalah kesadaran publik sendiri?

Perlu ada pemahaman untuk mengedukasi bahwa pengobatan-pengobatan seperti itu kalau bisa dihindari. Sebab, secara medis, perubahan, pertumbuhan alat kelamin, besar atau panjang, terjadi secara alamiah, secara bawaan. Dan ciri ukurannya pun memang ada. Misal orang Asia, panjang, pendek, diamater, semua ada ciri-cirinya. Meskipun ada orang juga yang mungkin berhasil, tapi dari sisi medis itu tidak direkomendasi.

Meski tak direkomendasi secara medis dan banyak contoh kasus kegagalan, mengapa layanan seperti ini masih menjadi magnet bagi sebagian pria?

Ini memang dua sisi mata uang yang agak lucu. Misal, selama ini hampir tidak ada yang melapor kalau dia gagal, setelah mengonsumsi obat atau menjalani terapi tak kunjung ada perubahan. Mungkin karena faktor lingkungan, pergaulan, dia merasa tidak nyaman untuk melapor. Maka tak melaporkan karena malu. Itu juga jadi kendala. Memang dalam hal ini harus ada pengawasan dari yang berwenang.  Pasalnya, orang malu melaporkan karena ini berkaitan kelamin. Misal ada yang terjadi bengkak sebelah karena disuntik jenis seperti kolagen atau kandungan kecantikan lain untuk payudara, di situ masalahnya.

Apa yang perlu diketahui pria sebelum nekat mengambil langkah alternatif seperti itu?

Harus ada edukasi bahwa secara anatomi, secara medis, pertumbuhan alat kelamin secara alami demikian. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ukuran orang Asia juga sesuai postur tubuhnya. Ada beberapa penelitian yang menunjukkan ukuran berdasar panjang, diameter, semua ada ciri-cirinya. Dan itu tumbuh secara alami. Kalaupun ada kegagalan pertumbuhan, pasti ada pemicu. Misal dia gemuk, obesitas sejak kecil, maka akan mengecil karena timbunan lemak.

Jelas di dunia medis tak dikenal, sehingga perlu mengedukasi publik untuk menghindari hal-hal seperti itu. Karena tentu saja ini dilakukan menghindari  hal-hal yang merugikan pasien itu sendiri. Kalau sudah jadi korban tentu malu melaporkan.

Yang rugi dia sendiri karena sudah bayar mahal. Buat mereka yang menjalankan bisnis ini, itu menjadi lahan. Karena secara sosial, para korbannya akan malu untuk melaporkan. Garansi uang kembali pun bisa tak dipakai karena orang malu dan tak masyarakat tahu. Maka di satu sisi, praktik ini menjadi menguntungkan dan justru semakin menjamur.

Dari edukasi yang selama ini dilakukan, bagaimana reaksi publik?

Hal-hal seperti ini diedukasi lewat kesadaran menjaga kesehatan reproduksi. Bagaimana seseorang harus bertanggung jawab terhadap kesehatan reproduksi mereka. Misal tak menggunakan obat kuat, apalagi terhadap pasangan sendiri.

Dan memang menarik untuk mengetahui apa yang melatarbelakangi orang mengakses layanan itu. Tapi saya pikir, kalau dilihat rata-rata adalah orang dengan latar belakang pendidikan menengah ke bawah. Karena, tentu saja orang-orang terdidik, saya pikir tak akan mengakses itu karena tahu risikonya.

Sudah banyak kasus dari efek suntik tapi tetap saja ada yang melakukan. Ini  tergambar dari banyaknya pasien berobat ke dokter, menurut Anda?

Perlu kesadaran publik untuk tak mengakses. Artinya, buat apa kalau hanya untuk kepuasan. Dari sudut pandang kespro (kesehatan reproduksi), kepuasan bukan terletak dari besar kecilnya, panjang dan pendek. Namun, lebih kepada psikologi ketika seseorang melakukan hubungan intim dengan pasangan legal, pasangan resmi. Maka timbul chemistry di situ. Besar kecilnya itu hanya sugesti. (tim kp)


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*