MANAGED BY:
RABU
23 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

PRO BISNIS

Rabu, 30 Mei 2018 06:39
Kinerja BPR Butuh Perhatian
-

PROKAL.CO, SAMARINDA - Meski kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sudah sesuai fungsi, mereka tetap butuh perhatian serius. Pasalnya, kredit BPR pada 2017 mengalami penurunan hingga 8,48 persen. Diikuti penurunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai 3,01 persen.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim, Dwi Ariyanto membenarkan bahwa kinerja BPR sedang mengalami penurunan dari sisi kredit dan DPK. Pada 2017, jumlah penyaluran kredit BPR hanya Rp 225 miliar dan DPK mencapai Rp 186 miliar.

“Ini memang menjadi perhatian serius untuk meningkatkan inklusi keuangan BPR. Penurunan kinerja tersebut salah satunya karena banyak nasabah yang potensial justru diambil bank umum,” tuturnya kepada Kaltim Post, Selasa (29/5).

Menurutnya, penyaluran kredit BPR saat ini sebagian besar disalurkan untuk modal kerja. Hal itu tecermin dari porsi kredit modal kerja yang mencapai 44,45 persen. Disusul oleh kredit konsumsi sebesar 42,12 persen dan porsi kredit investasi sebesar 13,43 persen.

“Kredit pada sektor lapangan usaha 43,85 persen berasal dari perdagangan besar dan eceran sebesar Rp 57,16 miliar,” ungkapnya.

Perkembangan usaha, mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kaltim juga tidak lepas dari dukungan BPR. Penyaluran kredit BPR untuk UMKM pada 2017 mencapai Rp 121 miliar. Namun sayangnya, jumlah tersebut menurun 15 persen dibandingkan 2016.

“Tak hanya penyaluran kredit dan DPK. Untuk LDR (loan to deposit ratio) juga mengalami penurunan dari 116,98 persen, saat ini hanya 60,93 persen. Tentunya hal itu terjadi sejalan dengan penurunan penyaluran kredit,” katanya.

Dia menjelaskan, penyaluran kredit yang menurun tentunya membuat non-performing loan (NPL) gross BPR membaik. Tapi masih sangat tinggi, yaitu dari 11,92 persen, saat ini hanya 11 persen. NPL kredit BPR tertinggi berdasarkan jenis penggunaan berasal pada kredit modal kerja, yaitu sebesar 14,22 persen.

“NPL sektor ekonomi tertinggi berasal dari jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 54,12 persen. Sementara itu pada sektor UMKM, NPL tertinggi berasal dari usaha menengah sebesar 18,33 persen,” tutupnya. (*/ctr/ndu/k15)


BACA JUGA

Senin, 21 Oktober 2019 13:40

Investasi Terhambat, Konsumsi Tersendat

JAKARTA– Kondisi ekonomi global belum juga menunjukkan sinyal yang membaik.…

Senin, 21 Oktober 2019 10:12

Terdampak Perang Dagang AS-Tiongkok, Kinerja Ekspor Kaltim Melemah

SAMARINDA – Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang…

Senin, 21 Oktober 2019 10:11

Tekan Biaya Investasi dengan Konsorsium

BALIKPAPAN – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) bersama dengan PT…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:14

Nikmati Diskon Natal dari Sekarang

SAMARINDA – Tak perlu menunggu akhir tahun untuk menikmati diskon…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:03

April 2020, Ponsel BM Tak Lagi Bisa Beredar

JAKARTA– Rencana penegakan peraturan validasi International Mobile Equipment Identity (IMEI)…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:26

Ekspor CPO ke India Bisa Membesar

SAMARINDA – Pengusaha kelapa sawit tampaknya bisa memperbesar ekspor crude…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:18

Perusahaan Kaltim Minat IPO, Sudah Ada 12 Perusahaan yang Serius

BALIKPAPAN – Bursa Efek Indonesia (BEI) Balikpapan terus mendorong minat…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:33

10 BUMN Bantu Merpati Terbang Lagi

JAKARTA– Sepuluh badan usaha milik negara (BUMN) bersinergi untuk membangkitkan…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:18

Tanpa IKN, Investasi Hilirisasi Harus Masuk

SAMARINDA – Tumbuhnya sektor lain selain pertambangan batu bara diharapkan…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:17

Apindo Berencana Bangun Kawasan Ekonomi, Lirik Lahan 10 Hektare di Kawasan IKN

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltim bertekad untuk berkontribusi dalam pembangunan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*