MANAGED BY:
SELASA
28 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Jumat, 16 Februari 2018 07:17
Alamnya Makmur dan Menggoda, tapi Provinsinya Kosong

Bincang dengan Rhenald Kasali di Sela Kaltim Summit III

SANTAI: Rhenald Kasali (pakai batik) menyebut sumber daya manusia berdaya saing harus dilahirkan sejak usia dini.

PROKAL.CO, Berdaya saing. Transformasi ekonomi. Itulah yang dibicarakan Rhenald Kasali dalam Kaltim Summit III kemarin. Masa depan Kaltim selepas era tambang dan migas diprediksi mengarah kepada sektor pertanian dan pariwisata. Dua bidang itu menjadi opsi struktur perekonomian. Berikut petikan wawancara dengan pakar ekonomi Indonesia itu.

Tahapan transformasi yang aman bagi Kaltim itu seperti apa?

Pertama, infrastruktur dasar, itu mutlak. Wilayah yang ditetapkan harus jadi kawasan ekonomi terpadu. Harus ada pelabuhan dan bea cukai. Kedua, menyasar investor yang sungguh-sungguh, bukan seperti sekarang ini. Tapi nanti bakal belajar seiring waktu. Ketiga, membangun pendidikan yang benar-benar mampu mengisi industri masa depan.

Kalimantan ini di tengah-tengah, alamnya makmur dan menggoda, tapi provinsinya kosong, SDM tidak banyak. Jika didiamkan, akan diisi pendatang. Sekarang ini petani di Sumatra kesulitan, ada regulasi lahan gambut dibatasi. Sedangkan di sini relatif mudah, itu yang harus disambut. Supaya punya kesempatan untuk membantu perkebunan yang cocok bagi investor. Tahapan-tahapan ini harus disiplin tinggi penerapannya. Harus konsisten.

Bagaimana tentang SDM Kaltim, khususnya jumlah petani yang menurun, sedangkan perekonomian ke depan potensial di bidang tersebut?

Memang ada kendala karena Kaltim ini adalah provinsi yang aksesnya dibangun belakangan. Tahap pertama memang infrastruktur dasar yang mesti dibangun. Lalu masuk ke pertanian dan perkebunan hingga industri pengolahannya. Pertanian itu masih tergoda oleh tambang, sangat menggoda memang. Pertanian harus dibangun dengan kesungguhan, dibarengi dengan sasaran pendidikan khususnya vokasi. Baru mulai memasukkan digital seperti robot, kemudian ada badan riset.

Lalu, seperti apa di bidang pariwisata?

Mulai kelihatan benihnya. Jangan lupa, harus ada pendukungnya. SDM tidak bisa langsung mengisi. Dulu di Makassar, ketika pariwisata dibangun, Pak JK (Jusuf Kalla) mendatangkan orang Bali. Untuk melatih masyarakat di sana, bagaimana penanganan service. Demikian pula di Kaltim, karena di sini pusatnya di Balikpapan. Harus disebar dan memberi akses daerah lain.

Pendukung seperti apa yang dimaksud?

Pendidikan adalah kesempatan bagi pemerintah daerah (pemda) membangun masyarakat. Khususnya usia mendasar, yaitu taman kanak-kanak dan pendidikan anak usia dini (PAUD). Biasanya pemimpin inginnya hasil cepat, ke perguruan tinggi dan langsung dilihat di dunia kerja. Padahal dari usia dini, kita bisa berhubungan dengan orangtua siswa, melakukan parenting. Di situlah kesempatan pemda membangun hubungan sosial dan nilai dalam masyarakat. Padahal, ingin membangun masa depan, menekan kemiskinan, mengurangi pengangguran, ya fokus ke hal mendasar itu.

Jika begitu, bersinggungan pula dengan kualitas pengajar. Bagaimana seharusnya?

Nah, memang harus bersamaan dibangun software-nya, ya kualitas guru. Masalahnya, banyak sekali orang yang tidak punya panggilan menjadi guru, tapi malah jadi guru. Sekadar mengejar jadi PNS. Itu tidak boleh! Kaltim harus menyeleksi ulang para gurunya, benar-benar diperiksa. Ada guru yang seharusnya jadi tenaga kritis, menguji kebenaran, malah tidak melakukan itu. Dari pendidikan dan kualitas guru, kita bisa hasilkan SDM berdaya saing, industri yang berkembang nantinya diisi orang-orang sini semua. Jangan sampai pendatang ambil kesempatan.

Berapa lama proses transformasi di Kaltim bisa benar-benar dirasakan?

Dua periode gubernur lagi, jangka panjang. Dengan catatan, meneruskan perencanaan yang sudah dibuat, diperkuat. Jangan bikin perencanaan baru lagi. Belajar dari evaluasi yang ada.

***

Empat pasang calon gubernur dan wakil gubernur Kaltim yang menghadiri Kaltim Summit III kemarin turut mendiskusikan ekonomi Bumi Etam yang rapuh. Sejarah membuktikan, Kaltim sejak 1990 hingga saat ini masih bergantung terhadap sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Saat jaya pada era kayu 1920–1990, ekonomi Kaltim tumbuh tinggi mencapai 7,42 persen per tahun.

Saat era minyak bumi, gas, dan batu bara pada 2000–2012, meski turun, namun laju pertumbuhan ekonomi Kaltim masih relatif tinggi, yakni 5,71 persen per tahun. Tapi, saat semua sektor SDA tak lagi bisa diandalkan, harga minyak, gas, dan batu bara dunia anjlok laju pertumbuhan ekonomi Kaltim minus. Pada 2015 minus 1,21 persen dan minus 0,38 persen pada 2016.

Tahun lalu, ekonomi Kaltim mulai membaik. Laju pertumbuhan ekonomi Kaltim berhasil didongkrak menjadi 3,54 persen. Namun, pertumbuhan itu masih berada di bawah laju pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,05 persen.

Andi Sofyan Hasdam menyebut, transformasi ekonomi masuk program prioritas yang dia tawarkan. Hanya, bakal dikawal lebih ketat agar tercapai sesuai yang diharapkan. Sebab, sudah 10 tahun ide itu dicanangkan, namun tidak kunjung selesai dan terlihat hasilnya.

“Kalau mau tanam sawit di Kaltim silakan saja, tapi wajib bangun pabrik turunannya di Kaltim. Mulai minyak makan, sabun, dan lainnya. Jangan lingkungan Kaltim dirusak, tapi CPO-nya dibawa ke luar daerah atau luar negeri,” tegas mantan wali kota Bontang dua periode itu.

Demi memastikan transformasi ekonomi Kaltim itu terwujud, dia bakal membentuk dewan industri yang beranggotakan perwakilan pakar di bidang industri dan ilmuwan dari perguruan tinggi. Itu penting agar ada badan khusus yang memikirkan cara memacu sektor industri bisa tumbuh di Bumi Etam. Termasuk mendorong balai latihan kerja memberikan pelatihan dan sertifikasi yang pas untuk memenuhi kebutuhan industri Kaltim pada masa yang akan datang.

“Kalau masih bergantung dengan SDA, ekonomi Kaltim pasti minus. APBD jungkir balik. Transformasi harus, tapi tidak bisa cepat. Perlu proses,” ucapnya.

Syaharie Jaang setuju dengan transformasi karena dilakukan demi lompatan ekonomi. Hal itu, menurut dia, harus jadi visi dan rencana strategis Kaltim. Lima tahun pertama, wajib meletakkan dasar ekonomi yang tidak lagi bergantung SDA. Seperti memperkuat sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan.

“Potensi perikanan dan kelautan Kaltim luar biasa. Garis pantai Kaltim begitu panjang dan luas. Kaltim sudah tidak bisa berharap tambang, sudah cukup terbuai SDA,” tuturnya.

Hadi Mulyadi pun mengaminkan transformasi ekonomi Kaltim perlu dan wajib dilakukan. Kaltim, sebut dia, sudah harus beralih dari ekonomi konservatif yang hanya mengandalkan SDA sebagai sumber utama pendapatan daerah ke hilirisasi melalui industri. Ada banyak turunan minyak kelapa sawit yang semestinya diolah di Kaltim tapi tidak dilakukan. Sayangnya, hal tersebut tidak dilakukan sejak lima tahun lalu. Jika itu dilakukan lebih cepat, saat ini Kaltim sudah menuai hasilnya.

“Kalau baru mau dimulai sekarang sebenarnya telat. Harusnya sudah diantisipasi sejak lima tahun lalu,” ujar Hadi Mulyadi.

Disebutkan politikus PKS itu, transformasi harus jadi prioritas. Tapi, butuh gubernur yang berani mengubah kebijakan dengan cara yang tetap demokratis. Kebijakan harus fokus terhadap program hilirisasi. Jika dobrakan tidak dilakukan dengan dukungan dari pemerintah pusat dan investor, transformasi ekonomi yang diharapkan sulit terwujud. Padahal, dengan hilirisasi tersebut ekonomi Kaltim bakal membaik. Pertumbuhan ekonomi yang tadinya minus bisa merangkak naik dan bisa menyerap ribuan tenaga kerja.

“Kalau hilirisasi betul-betul dilaksanakan, tingkat kemiskinan dan pengangguran pasti bakal berkurang,” tegasnya.

Rusmadi pun sependapat transformasi ekonomi tetap harus dilanjutkan. Namun, demi mewujudkan visi tersebut, pemerintah harus fokus. Tidak banyak program. Tetapi tetap memperhatikan keseimbangan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Apalagi transformasi itu dikerjakan untuk waktu yang panjang.

“Kaltim punya potensi batu bara jangan sekadar dibakar jadi pembangkit PLTU, bisa diolah jadi produk yang lebih bernilai jual. Seperti gas, urea, dan plastik,” tuturnya. (*/him/rdm/dwi/k8)


BACA JUGA

Selasa, 28 Januari 2020 14:43

Soal Penciutan Status Lahan WKP Migas, Pemprov Akan Negosiasi dengan Pusat

Wacana penciutan WKP milik Pertamina kembali mengemuka. Setelah upaya Pemkab…

Selasa, 28 Januari 2020 13:42

81 Orang Meninggal, 43 Ribu Diperkirakan Tertular

KETAKUTAN pada penularan virus 2019-novel Coronavirus (2019-nCov) melanda berbagai negara.…

Selasa, 28 Januari 2020 12:19

Selamat Jalan Black Mamba

LOS ANGELES -Perjalanan Kobe Bryant menggunakan helikopter pribadi pada Minggu…

Selasa, 28 Januari 2020 10:47

Pemerintah Tak Larang Warga Tiongkok ke Indonesia

JAKARTA– Rapat koordinasi mengenai antisipasi masuknya 2019 novel coronavirus (2019-nCoV)…

Selasa, 28 Januari 2020 10:34

Corona Buat Harga CPO Terkapar

Virus corona yang melanda Tiongkok ternyata tak hanya membuat sektor…

Senin, 27 Januari 2020 13:59

Virus Korona Lebih Berbahaya daripada SARS

BEIJING – Kewaspadaan terhadap merebaknya virus korona harus lebih ditingkatkan.…

Senin, 27 Januari 2020 13:57

2030 Tak Ada Lagi Tambang, Izin Dimoratorium, Jatam Curiga Ada Transaksi Gelap

BALIKPAPAN–Pemulihan lahan pascatambang di sekitar lokasi ibu kota negara (IKN)…

Senin, 27 Januari 2020 13:55

Masih Aman tapi Mulai Siaga

TIGA malam sudah Hong Kong diguyur hujan. Dari gerimis hingga…

Senin, 27 Januari 2020 13:54
Backpacker-an ke Hong Kong setelah Demonstrasi (4)

Siapkan Fisik Kunjungi Ten Thousand Buddhas Monastery

Ten Thousand Buddhas Monastery di Distrik Sha Tin jadi daya…

Senin, 27 Januari 2020 13:42

Virus Corona (2019-nCoV) Mengancam Gelaran Olahraga di Tiongkok, Pilih Menunda, Pindah Venue atau Tanpa Penonton

SAAT ini, virus Corona (2019-nCoV) yang terjadi di Tiongkok menjadi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers