MANAGED BY:
JUMAT
18 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Kamis, 25 Januari 2018 08:40
Ketahanan Pangan dan Potensi Pertanian (2-Habis)

PROKAL.CO,

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO MM
(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan,
Mahasiswa S-3 Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti)
e-mail: [email protected]; www.webkita.net

KETAHANAN pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tecermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

Setidaknya ada empat aspek penting yang harus diperhatikan, yaitu produksi dan ketersediaan pangan, distribusi, konsumsi, dan kemiskinan. Strategi yang dilakukan, antara lain peningkatan kapasitas produksi pangan nasional secara berkelanjutan (minimum setara laju pertumbuhan penduduk) melalui intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi.

Revitalisasi industri hulu produksi pangan (benih, pupuk, pestisida dan alat dan mesin pertanian), revitalisasi industri pascapanen dan pengolahan pangan; revitalisasi dan restrukturisasi kelembagaan pangan yang ada; koperasi, UKM dan lumbung desa. Pengembangan kebijakan yang kondusif untuk terciptanya kemandirian pangan yang melindungi pelaku bisnis pangan dari hulu hingga hilir. meliputi penerapan technical barrier for trade (TBT) pada produk pangan, insentif, alokasi kredit, dan harmonisasi tarif bea masuk, pajak resmi dan tak resmi.

DIVERSIFIKASI PANGAN

Diversifikasi pangan diartikan sebagai pengurangan konsumsi beras yang dikompensasi oleh penambahan konsumsi bahan pangan nonberas diiringi dengan ditambahnya makanan pendamping. Dimensi diversifikasi konsumsi pangan tidak hanya terbatas pada pangan pokok, tetapi juga pangan jenis lainnya, karena konteks diversifikasi tersebut adalah meningkatkan mutu gizi masyarakat secara kualitas dan kuantitas, sebagai usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Gerakan untuk beralih ke substitusi (pengganti) beras berupa singkong, ubi, jagung, dan lain-lain harus dilakukan untuk mengurangi konsumsi beras mengingat keterbatasan lahan pertanian yang beralih fungsi maupun untuk mengantisipasi jumlah penduduk yang semakin bertambah banyak. Lepas dari persoalan impor beras; setidaknya ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi krisis beras, yaitu mempercepat/memacu peningkatan produksi beras dan menurunkan konsumsi beras melalui metode substitusi.

Cara pertama bisa dilakukan melalui tiga hal, yaitu menggunakan bibit yang lebih bagus, pupuk yang lebih berimbang, dan metode penanaman yang lebih baik. Terkait metode penanaman yang lebih baik, dapat dilakukan dengan system of rice intensification (SRI). SRI merupakan suatu metode menanam padi dengan menggunakan bibit, pupuk, dan air yang lebih sedikit, namun hasil produksinya lebih tinggi.

Cara kedua melalui metode substitusi. Metode ini juga sudah lama dilakukan di Indonesia, mulai dari substitusi jagung, singkong, sagu, sukun, dan sebagainya. Namun, pola konsumsi masyarakat Indonesia di mana “belum makan kalau belum makan nasi” membuat program diversifikasi pangan ini belum berjalan optimal. Terkait substitusi beras, IPB telah membuat diversifikasi untuk memenuhi pola konsumsi Indonesia. Substitusi ini bernama Beras Analog. Beras ini mirip dengan dengan beras padi, namun berbahan sagu, sorgum, dan jagung.

POTENSI PERTANIAN KALTIM

Halaman:

BACA JUGA

Jumat, 18 Juni 2021 12:51

Menjaga Asa Lansia di Masa Pandemi

Oleh: Rinnelya AgustienPerawat di Balikpapan Bagaimana bila perpisahan terakhir kali…

Kamis, 17 Juni 2021 11:38

Beberapa Catatan Perihal Polemik SMA 10

Polemik antara Yayasan Melati dan SMA 10 Samarinda belum juga …

Kamis, 17 Juni 2021 11:26

Ibu Kota Negara Harapan Baru Sektor Pertanian di Kaltim

Oleh: M Hidayanto Peneliti & Pemerhati Pertanian Kaltim   Presiden…

Rabu, 16 Juni 2021 18:23

Pertahankan Kawasan Bertutupan Hutan di Lahan Peruntukan Perkebunan

Oleh :  M. Windrawan Inantha*  Kalimantan Timur adalah provinsi yang terdepan…

Rabu, 16 Juni 2021 18:12

ASN sebagai Pelayan Publik Penguat KPK

Prof Sarosa Hamongpranoto Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Mulawarman Samarinda…

Selasa, 15 Juni 2021 11:33

PTM dalam Perspektif SKB 4 Menteri

Oleh: Suwoto Kepala SMP 31 Samarinda   Sekitar 85 persen…

Minggu, 13 Juni 2021 13:30

Tanah Datar yang Tak Datar

Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda  …

Senin, 07 Juni 2021 10:57

Revitalisasi dan Pembudayaan Nilai-Nilai Pancasila

Oleh: Jamil Badaing Sunusi Dosen Universitas Mulawarman   Revitalisasi Pancasila…

Minggu, 06 Juni 2021 12:02

Pilih Al-Qur’an atau Pancasila?

Oleh; Bambang Iswanto Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris  …

Selasa, 01 Juni 2021 11:59

PPDB, Zonasi Adalah Solusi atau Masalah?

Oleh: Suwardi Sagama Dosen, Peneliti, Konsultan, dan Pendamping Hukum  …
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers