MANAGED BY:
SABTU
04 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

LIFESTYLE

Minggu, 12 November 2017 12:05
Merdeka dan Biola

Wage

JALUR BERBEDA: Lantaran bingung mengekspresikan dirinya, Wage memilih berjuang dengan lagu. Bukan dengan orasi, politik atau senjata.

PROKAL.CO,

“Aku harus ikut berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini dengan lagu dan biolaku. Untuk itu, aku pun harus terlibat langsung dalam pergerakan kemerdekaan bangsa ini.” Demikianlah semangat membara dari Wage Rudolf (WR) Soepratman.

SIAPA tak kenal dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Gita itu kerap dinyanyikan kala kibarkan sang merah putih. Dan umumnya hanya satu stanza (kumpulan lirik). Padahal, penggubahnya, WR Soepratman membuat Indonesia Raya ke dalam tiga stanza. Bersama dengan biola dan lirik dia membakar semangat pejuang kemerdekaan saat ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 silam. Itu sebab melalui film Wage, sineas John De Rantau ingin mengenalkan kepada masyarakat Indonesia, lagu Indonesia Raya tak hanya satu kumpulan lirik melainkan tiga.

Wage yang diperankan Rendra Bagus Pamungkas  menceritakan secara runut mengenai kehidupan WR Soepratman dengan jelas. Mulai dari kecil hingga dewasa, keluarga serta orangtuanya. Dengan latar waktu 1908-1938.

Ketika film dimulai, penulis skenario Gunawan BS dan Fredy Aryanto menyentakkan penonton dengan alur mundur, dengan puncak konflik sebagai pembuka babak.
Yaitu ketika pemerintah Belanda melarang WR Soepratman memainkan lagu ciptaannya, Indonesia Raya. Dengan durasi dua jam penonton akan dibuat takjub, pahlawan negara yang berjuang raih kemerdekaan lewat suara biola.  Bukan dengan pistol atau granat. Film tersebut juga mengungkap sisi lain dari WR Soepratman, yang dulunya pernah menjadi wartawan di harian  Kaoem Moeda dan Kaoem Kita. Tak cuma itu, dia juga merupakan novelis. Salah satu karyanya ialah roman berjudul Perawan Desa.

Mengambil sinema dengan sentuhan masa lalu tentu tidak mudah. Namun, film ini berhasil mengajak penonton berpetualang ke masa itu, kala pemuda nusantara gerilya untuk merdeka. Lantaran berkaitan dengan komposer, sepanjang film Anda akan ditemani alunan musik indah yang ditata oleh Indra Q dan M Subchi Azal Tsani.

Banyak hal baik yang bisa dipetik kala menonton Wage. Misalnya saat Mas Sosro (Bram Makahekum) menjelaskan kepada WR Soepratman mengenai filosofi huruf alif yang lurus seperti stik biola yang digunakan untuk menggesek senar sehingga lahir alunan nada indah. Walau bukan genre teologi namun rasa yang diangkat begitu islami dan tak menggurui.

Halaman:
loading...

BACA JUGA

Selasa, 30 Juni 2020 11:45

Pembahasan Perppu Pilkada Mandeg

JAKARTA - Rapat pengambilan keputusan tingkat pertama terkait Rancangan UU…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers