MANAGED BY:
SENIN
27 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

LIFESTYLE

Minggu, 12 November 2017 11:38
Restu Membawa Untung

Hasilkan Puluhan Juta dari Gambar

TEKUN: Meski sempat tak diperhitungkan, Nayakotetap tekun berkarya melalui medium tato, hasilnya prestasi dan rupiah mendekat.

PROKAL.CO, Boleh jadi apa saja, yang penting enggak jahat sama orang lain.

KUKUH KURNIAWAN, Samarinda

KALIMAT tersebut adalah nasihat dari orangtuanya yang tetap dipegang Nayako hingga sekarang. Ditemui di Jalan Kemangi, Rabu pekan lalu, dia berkisah mengenai awal mula menjadi tattoo artist. Tentu tak mudah, selalu saja ada yang menentang. Diakuinya 12 tahun lalu saat dia meminta restu keluarga untuk menjadi profesional tattooist, kakaknya menolak keras permintaan tersebut. Terlebih ibunya merupakan guru SD sedangkan mendiang ayahnya dulu merupakan seorang pekerja kantoran. Hidup dari seni memang jauh dari keluarganya. “Karena hobi dan sudah dapat restu Ibu, perkataan orang lain yang meremehkan tidak perlu dihiraukan,” katanya.

Minat terhadap dunia rajah tubuh sudah menggodanya sejak 2005. Bakat di dunia gambar itu terasa sejak usia tiga tahun kala Nayako kecil mulai senang menggambar. Pelajaran di sekolah tak terlalu menarik baginya, kecuali guru pandai menarik perhatiannya. “Jalan sebagai tattoo artist terbuka saat kenal dengan teman yang pandai merajah tubuh,” jelasnya.

Saat itu, temannya sendiri yang menjadi sasaran. Dia ingat benar tato pertama yang dibuat adalah simbol salib dan ayam jago, niatnya sekadar coba-coba. “Saya sudah bilang waktu itu, kalau salah jangan marah, ya, tapi  teman saya puas dengan hasilnya,” kelakar Nayako.

Awalnya, dia sempat merasa kagok saat memegang jarum, menanamkan tinta di kulit dan melihat temannya merasa kesakitan. Perasaan berdebar-debar berulang kali dirasakan, terlebih ketika diminta membuat tato gaya realistic yang memiliki tingkat kerumitan tinggi. “Pekan pertama latihan sempat empat kali membuat kesalahan. Namun, kesalahan itu jadi pelajaran agar tak berbuat hal serupa,” kenangnya.

Bermula dari hobi, Nayako semakin keranjingan dengan seni menato tubuh. Sebab, selain menyalurkan minat, dia juga bisa mendapatkan banyak teman dan rupiah melalui Catrocks Tattoo Studio, bisnis tato yang dibangunnya. Tidak ada pelatihan khusus yang dilakukan, hanya berkembang secara autodidak. “Karena dulu memang belum ada tempat untuk belajar tato,” ungkapnya.

Nama Catrocks diambil dari gengnya di masa remaja yang berisi sekumpulan seniman pahat, lukis, tato hingga sulap. Catrocks merupakan akronim dari cat yang berarti kucing dan rocks yang berarti batu. Nayako menjabarkan jika nama tersebut bermakna pandai mencari makan di mana saja dan mampu meraih rupiah meski hanya bermodal pahatan batu. “Seiring waktu teman-teman mulai berpencar ke luar kota. Jadi ingin mengabadikan nama geng menjadi nama bisnis,” katanya.

Belasan tahun berselang, Nayako mampu hidup berkat jasa tatonya. Hingga kini, tidak kurang dari 5.000 karyanya melekat di tubuh pelanggannya. Sekali buka segel perlengkapan steril yang hanya boleh digunakan satu kali dan tato berukuran 5x6 cm dihargai Rp 500 ribu. Sementara itu, bila ingin ukuran lebih besar, tarifnya Rp 9-15 ribu per cm tergantung kerumitan. “Pernah untuk tato realistic seluruh punggung sepakat di angka Rp 58 juta,” bebernya.

Walhasil, berawal dari tudingan miring tentang masa depannya, kini dia mampu mengantongi Rp 15-50 juta per bulan dari seni merajah tubuh. Bahkan berbagai kontes lokal dan nasional sudah diikuti. Salah satunya event nasional dari Indonesian Subculture. Satu per satu keraguan mampu dijawabnya berkat persisten. “Kalau terus tekun berkarya dengan sungguh-sungguh, rupiah akan datang sendiri,” tutupnya. (ypl/k16)

loading...

BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers