MANAGED BY:
KAMIS
21 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Jumat, 21 Oktober 2016 10:15
Hasan Aspahani, Penyair Asal Kaltim yang Buku Puisinya Terbaik Se-Indonesia

Gunakan Kata Tak Lazim, Terasa Spesial dan Berbeda

Hasan Aspahani

Kamis malam pada 13 Oktober lalu menjadi salah satu hari terbaik bagi Hasan Aspahani. Pria kelahiran Samboja, Kutai Kartanegara itu meraih penghargaan buku puisi terbaik. Sebuah bukti dan eksistensinya sebagai seorang penyair.

DINA ANGELINA, Balikpapan

ITUKAH Sajak yang Kau Tulis Untukku? Apakah sajak-sajak cinta yang tak menyebut namaku itu? Aku sering tersesat di sana. Terkejut pada kata yang tak pernah aku tahu, padaku mereka ingin mengucap apa.

Aku kerap terjerembap di sana. Berjalan di bait-bait yang rumit, yang aku tak tahu hendak mengantarku ke mana. Tapi aku betah di sana. Seakan sembunyi dari banyak bunyi, yang bertahun-tahun memaksa aku memekakkan telinga sendiri.

Ah, alangkah kamusnya engkau. Sebetapa sempitnya lidahku. Aku ingin tahu, apakah sajak-sajak itu kau tulis untukku?

Kutipan di atas merupakan salah satu puisi dalam buku berjudul Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering. Buku karya Hasan Aspahani itu mendapatkan penghargaan sebagai Buku Puisi Terbaik Anugerah Hari Puisi Indonesia 2016.

Buku itu menyisihkan 260 buku yang menjadi kompetitornya. Dewan juri terdiri dari Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi, dan Maman Mahayana. Mereka kompak memilih karya Hasan sebagai buku puisi terbaik. “Kalau dilihat dari keahlian para juri, mereka mencari kebaruan dalam pengucapan puisi, sajak dan lirik yang kuat, serta struktur puisi,” papar Hasan kepada Kaltim Post.

Dalam peringatan Hari Puisi Indonesia (HPI), hadir beberapa tokoh seperti Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Agama Lukman Hakim, dan Kedutaan Besar Lebanon Joanna Azzi. Malam itu, bertempat di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jusuf Kalla secara langsung menyerahkan piala kepada Hasan sebagai peraih anugerah. Hasan memboyong hadiah sebesar Rp 50 juta.

Kompetisi buku puisi terbaik, sesungguhnya telah berjalan selama tiga tahun. Bagi yang berminat ikut kompetisi ini, penyair dapat mengirimkan hasil karyanya kepada panitia HPI. Hasan mengaku, baru mengirim hasil karyanya menjelang deadline, akhir September. Ia pun tidak menyangka mampu menang setelah melawan karya penyair lainnya.

Sedangkan HPI sendiri baru diperingati empat tahun terakhir. Deklarasi HPI dilakukan di Pekanbaru, 2013 lalu. Setiap tahun, penyair dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul untuk merayakan HPI. Hasan bercerita, contohnya pada HPI 2016, acara berlangsung berlangsung selama dua hari. Pada 12-13 Oktober. Para penyair berpesta puisi baik di pelataran TIM dan Graha Bhakti Budaya.

---------- SPLIT TEXT ----------

Bicara soal buku Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering merupakan buku keenam Hasan. Buku berisi 192 halaman tersebut terasa spesial. Sebab, bentuk dan temanya sangat beragam. Mulai sajak yang hanya terdiri dari tujuh kata hingga sajak yang menghabiskan empat halaman buku.

Pengantar buku disampaikan oleh Sapardi Djoko Damono (sastrawan) dan penutup oleh Goenawan Muhammad (sastrawan). Menurut Sapardi, sajak-sajak yang dikumpulkan dalam buku tersebut menunjukkan perkembangan kepenyairan seorang Hasan. Sedangkan bagi GM, sajak yang disampaikan Hasan terasa spesial dan berbeda. Sebab, menggunakan kata-kata yang tidak lazim berada dalam puisi.

“Tetapi, menurut beliau itulah keberhasilan saya dalam memungut kata-kata itu menjadi puisi. Kata itu biasa diucapkan dalam sehari-hari, namun mungkin tidak lazim di sebuah puisi. Saya ketika menulis tidak ada merasa aneh. Saat Pak Goenawan yang mengatakannya, baru saya sadar,” ungkapnya lantas tertawa.

Sejak serius menggeluti puisi pada 2000 lalu, Hasan mulai melahirkan buku pertamanya pada 2007 lalu. Tiga di antara enam buku itu mampu meraih posisi lima besar dalam kompetisi Kusala Sastra Khatulistiwa, sebuah kompetisi tertinggi untuk bidang sastra di Indonesia.

Ketiga buku itu di antaranya Orgasmaya, Luka Mata, dan Mahna Hauri. Sementara satu buku berjudul Telimpuh berhasil meraih posisi 10 besar dalam Kusala Sastra Khatulistiwa.

Hasan mengungkapkan, ketertarikannya dalam dunia puisi telah hidup ketika berada di bangku SMP. Walau sajak-sajak puisi tersebut hanya tertuang dalam buku tulis, Hasan secara konsisten membangun kata demi kata.

“Bahkan saat SMA saya ada minat ke jurusan bahasa. Tetapi, keinginan itu gagal karena kelas tidak jadi dibuka. Tidak ada siswa yang berminat,” sebut alumnus SMA 2 Balikpapan tersebut.

Namun, semua itu tidak mengurungkan niatnya mempelajari sastra terutama puisi. Hingga berstatus mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB), Hasan tetap menulis dan berlangganan majalah sastra. Kegemaran itu mengalir saja tanpa beban dan rasa ganjil.

“Mulai serius dan punya target mendapatkan sesuatu dalam puisi, tahun 2000. Saya belajar bagaimana pengucapan puisi yang berbeda dari penyair lainnya, menganalisis karya para penyair. Serta mulai mencoba mengirim puisi saya ke beberapa media massa secara intens,” katanya saat dihubungi via telepon.

---------- SPLIT TEXT ----------

Alasan menjadi seorang pujangga bermula kekagumannya pada bahasa Indonesia. Kala itu, saat berada di bangku SMP, seorang gurunya memberikan pengaruh baik tentang bahasa. Guru itu mampu menyampaikan bahasa dan sastra secara menarik. Setiap siswa tidak luput untuk mencoba membaca puisi. Hasan masih ingat, ia mendapat giliran membaca puisi karya Rendra.

“Dalam sehari-hari, keluarga saya menggunakan bahasa Banjar. Namun ketika sekolah, saya harus menerima pengetahuan dalam bahasa Indonesia. Saya sadar bahasa Indonesia memiliki daya tarik,” papar pria kelahiran 9 Maret 1971 itu.

“Kemudian dengan puisi, ternyata bahasa bisa dibuat seindah ini. Puisi membuat bahasa Indonesia mampu dipakai untuk mengekspresikan diri. Puisi memuliakan bahasa dan menjadi sesuatu yang bernilai. Akhirnya saya mulai menulis sajak,” sambungnya.

Selain itu, ada beberapa faktor lain, yakni lingkungan dan pekerjaan. Sejak lulus dari masa kuliahnya, Hasan pernah bekerja di beberapa media. Seperti Kaltim Post dan kemudian pindah ke Batam Pos. Berdomisili di daerah yang masuk Kepulauan Riau, membuat naluri sastra dalam dirinya semakin hidup.

Batam memiliki tokoh penyair besar bernama Raja Ali Haji yang menulis Gurindam Dua Belas. Sehingga nuansa dan lingkungan sastra di wilayah tersebut begitu hidup. Banyak festival sastra yang membuatnya terdorong untuk berkarya.

Lalu, bekerja di media menuntutnya untuk lebih banyak membaca buku dan majalah. Lagi-lagi, semua itu berhubungan dengan bahasa. Pengalamannya menangani peliputan kriminal, kerap memaksa Hasan melihat beragam isu “berdarah”. Seperti perampokan, pembunuhan, perkosaan, dan sebagainya.

Baginya, sosok Chairil Anwar dan Sapardi Djoko Darmono tak lepas menjadi inspirasinya dalam berkarya. Dari sudut pandangnya, Chairil mampu memperbarui bahasa puisi menjadi modern. Sedangkan Sapardi memiliki sajak kuat dan semua alat persajakan dapat maksimal tanpa dibuat-buat.

Pria berusia 45 tahun itu mengaku, sedari dulu, ia selalu membawa buku puisi pertama yang dilahirkan Sapardi. Buku berjudul Dukamu Abadi selalu dibawanya ke manapun dirinya berada. Bahkan kondisi buku bisa terbilang lecek.

Kini, Hasan telah berdomisili di Jakarta selama tiga tahun. Ia dalam misi menyelesaikan pendidikan S-2 Jurusan Management Strategic Prasetiya Mulya Business School. Sembari meraih gelar master, Hasan mampu merampungkan tulisan yang berisi biografi Chairil. Saat ini, dirinya tengah sibuk menulis biografi Sapardi. (rom/k15)


BACA JUGA

Rabu, 20 Oktober 2021 19:47

Wacana Terapkan Parkir Berlangganan, Berencana Gandeng Polda Kaltim

SAMARINDA–Karut-marut pengelolaan parkir di berbagai penjuru ruas jalan Samarinda, menjadi…

Selasa, 19 Oktober 2021 21:24

Proyek Jalan Lingkar IKN Bisa Dimulai 2022

BALIKPAPAN–Perencanaan infrastruktur kawasan inti pusat pemerintahan (KIPP) ibu kota negara…

Selasa, 19 Oktober 2021 21:21

Imbas Curah Hujan Tinggi dan Pembukaan Lahan, Akses Bandara Lumpuh

SAMARINDA-Lalu lintas di Samarinda Utara nyaris lumpuh Senin (18/10). Banjir…

Selasa, 19 Oktober 2021 21:18

Fungsi Kaltim “Disunat”, Tak Bisa Banyak Berbuat

  HARGA batu bara lagi tinggi-tingginya. Kondisi itu bisa memicu terjadinya…

Selasa, 19 Oktober 2021 21:12

Membebaskan Pelabuhan Feri Penajam dari Praktik Cashback Perlu Ketegasan dari Regulator

SAMARINDA–Praktik cashback di pelabuhan feri masih terjadi. Terutama kendaraan yang…

Selasa, 19 Oktober 2021 14:46

Drama Pencopotan Makmur Bakal Panjang, Berlanjut ke Pengadilan, Golkar Singgung Senioritas dan Legawa

SAMARINDA–Langkah Makmur HAPK untuk mengadang upaya DPD Golkar Kaltim yang…

Selasa, 19 Oktober 2021 14:44

IKN yang Tanpa Merusak Hutan

Oleh: Dr Isradi Zainal Rektor Universitas Balikpapan   GREEN city merupakan…

Selasa, 19 Oktober 2021 14:29

Masih Ada Cashback, Operator Diminta Lapor

Pelabuhan Feri Kariangau, Balikpapan diyakini sudah terbebas dari praktik cashback atau uang…

Senin, 18 Oktober 2021 13:55

Bandara APT Pranoto "Hilang", Banjir Tenggelamkan 32 Titik Jalan di Samarinda

SAMARINDA - Hujan yang deras terjadi sejak Senin (18/10/2021) dini…

Senin, 18 Oktober 2021 13:28

Sulitnya Pelabuhan Feri Terbebas dari Praktik Cashback, Sepi di Kariangau, Kini Masif di Penajam

Pengondisian muatan di pelabuhan feri belum sepenuhnya hilang. Nyatanya masih…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers