MANAGED BY:
MINGGU
22 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Sabtu, 25 Juni 2016 08:31
POLITIK BUSAM
ACHMAD RIDWAN

PROKAL.CO, JIKA Busam adalah partai politik, jumlah anggotanya sudah mengungguli partai mana pun di Samarinda.

Busam (Bubuhan Samarinda) menjadi grup raksasa di jagat maya, khususnya Samarinda. Sekarang anggotanya lebih 127 ribu akun. Yakinlah, pemilik akun itu orang benaran. Mungkin ada beberapa akun robot, ada juga akun ganda dengan pemilik sama, atau orang luar Samarinda, tapi persentasenya tak seberapa. Busam tetaplah grup berbasis Facebook paling kesohor di ibu kota Kaltim.

Grup yang banyak diwarnai urusan jual-beli itu menjelma menjadi pemasok informasi paling dicari. Contoh sederhana, ketika kami di kantor mendengar sirene pemadam kebakaran, Selasa lalu, seorang kawan spontan nyeletuk, “Eh, kebakaran di mana itu? Coba cek di Busam!”

Beragam informasi bisa Anda petik di grup yang anggotanya makin rimbun itu. Dari yang sifatnya sosial seperti menggalang simpati untuk warga yang sakit atau terkena musibah, info kecelakaan, mencari jodoh, hingga curhat member yang kehilangan kucingnya. Demi merawat keunikan itu pula, STV memproduksi program berjudul Busam What’s Up.

Busam pertama kali dibentuk pada 2008. Enam tahun berselang, saat anggota sudah mencapai 90 ribu, grup itu ditutup oleh Facebook. Notifikasi yang diterima admin Busam adalah penutupan dikarenakan content melanggar standar ketentuan FB, yakni mengandung SARA, pornografi, kebencian, dan lain-lain.

Para admin, yakni Vichtor Herman, Luqmanul Hakeem, Donny Fahrochi, Wawan, M Abdillah, dan Novian Nur, tidak tinggal diam. Mereka membuat grup baru. Mengumpulkan lagi anggota dari nihil. Hasilnya, hanya perlu waktu dua tahun, anggota Busam dua kali lebih besar daripada perolehan suara partai pemenang Pemilu Legislatif Samarinda 2014.

 MODAL

 Isu-isu yang diperbincangkan di Busam bermacam-macam. Dari juru parkir liar, infrastruktur, sampai masalah banjir yang tak kunjung berujung. Semua boleh berkomentar, sangat demokratis. Di Busam, ada remaja, ibu rumah tangga, karyawan baik perusahaan kecil maupun besar, pengusaha, pengurus ormas, partai, bahkan Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang.

Dengan penghuni yang heterogen itu, silang sengkarut pendapat menjadi sangat menarik. Ada yang menyampaikan argumentasi dengan ilmiah, tata bahasa baik, dan runtut, tapi banyak pula yang ngeramput.

Trending topic anyar yang masih hot adalah tentang seorang warga Busam yang mempertanyakan apakah akun Syaharie Jaang yang terdaftar di Busam adalah akun asli yang dikelola sendiri oleh Pak Wali Kota.

Akun Endar Nata Sanjaya itu heran kenapa akun Syaharie Jaang sering update status tapi tak pernah menanggapi keluhan-keluhan warga lewat media sosial. “Saya ingat kok, akun Anda begitu aktif waktu masa kampanye dulu,” sindir Nata. Posting-annya itu menuai 4.000 lebih like dan 3.000 lebih komentar khalayak Busam.

Rupanya, sebagian warga Busam ingin punya pemimpin yang melek media sosial. Yang sigap merespons keluhan mereka di dunia maya–tentu dengan harapan diteruskan menjadi aksi di dunia nyata.

Busam memang terbukti memiliki kekuatan menggerakkan. Masih ingatkah beberapa bulan lalu ada pemilik akun yang menghina-hina Samarinda? Tanpa komando dari admin, penduduk Busam berinisiatif mencari dan memberi pelajaran kepada orang itu. Aksi ini tentu kurang baik, tetapi, tetap saja ini menjadi bukti “kekuatan” Busam.

Alangkah baiknya jika kekuatan itu benar-benar digunakan untuk membantu menyelesaikan krisis kepemimpinan di daerah ini. Hitung-hitung membantu partai politik yang tampaknya berhasil mencetak politikus tapi gagal mengader pemimpin.

Dengan modal ragam manusia yang dimiliki, saya membayangkan Busam menjadi rahim bagi munculnya sosok-sosok pemimpin baru di Samarinda. Cukuplah grup ini menjadi sekadar tempat mencurahkan kekesalan terhadap masalah kota yang tak selesai-selesai.

Sudah saatnya Busam ambil bagian menjadi solusi. Misalnya, dengan berdiskusi secara serius (lewat ajang kopi darat) untuk menentukan kriteria pemimpin masa depan Samarinda. Dari kriteria tersebut, mulailah screening siapa saja orang Samarinda yang memenuhinya. Setelah itu, adakan polling berkelanjutan.

Kalau perlu, bikin award untuk orang-orang yang menginspirasi di Samarinda. Untuk pemuda-pemudi hebat. Untuk pemimpin-pemimpin di lingkup tertentu. Siapa tahu, dari situ muncul mutiara-mutiara baru yang layak memimpin Samarinda. Mumpung calon independen lagi tren dalam pemilihan-pemilihan kepala daerah. Kita sebut saja ini momentum. Saya tidak menganjurkan Busam jadi partai politik, saya cuma menyarankan Busam berpolitik.

Hari ini, Busam mengadakan gathering yang bakal dihadiri ratusan anggota. Semoga pemikiran ini bisa dipertimbangkan. Jika Busam tak mengambil peran, empat tahun ke depan grup ini juga masih akan sama seperti sekarang: muara tumpah ruahnya kekesalan warga kepada pemimpin produk partai yang dirasa inkompeten.

 Dan ingatlah, jeritan di dunia maya adalah lolongan sia-sia jika tidak diikuti aksi nyata. (awan@samarindatv.co.id)

 

*) Penulis adalah Direktur STV (televisi lokal jaringan Kaltim Post Group).

 

 


BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2012 07:14

Sambaliung-Gunung Tabur Bakal Terhubung

<div> <div> <strong>TANJUNG REDEB</strong> - Selain Pembangunan Jembatan Kelay…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*