PROKAL.CO,
SANGATTA – Penutupan secara serentak lokalisasi yang ada di Kaltim per 1 Juni, nyatanya tak berjalan mulus. Praktik prostitusi terindikasi masih berjalan, namun modusnya pindah ke hotel kelas melati. Hal itu tumbuh subur karena penutupan lokalisasi berjalan tanpa pengawasan menyeluruh.
Menurut Camat Sangatta Utara Didi Herdiansyah, dari pemantauan dan laporan masyarakat, kegiatan prostitusi disinyalir masih ada. “Lokasinya di beberapa penginapan seperti di poros Sangatta-Bontang, Jalan Yos Sudarso, hingga Jalan Munthe,” sebutnya.
Dari pengamatannya, aktivitas prostitusi yang berjalan di hotel sukar dideteksi. Kondisi ini jauh berbeda dengan kegiatan yang terpusat di suatu lokalisasi. Kalau di hotel, pelaku prostitusi hanya datang jika ada pelanggan. Terkadang mereka mangkal di dekat hotel.
“Indikasi lain, PSK tinggal di indekos dan tidak pulang kampung. Nah, praktik prostitusi pun berjalan di indekos tersebut. Yang datang biasanya konsumen yang sudah sepakat dengan harga melalui telepon atau SMS,” terangnya.
Dia mengaku telah berkoordinasi dengan satpol PP sebagai aparat penegak perda agar memeriksa. Dia berharap, ada ketegasan dari Pemkab Kutim. Misalnya, dengan memberi sanksi tindak pidana ringan (tipiting) atau menyesuaikan dengan perbup terkait aturan pelarangan dan penutupan lokalisasi.
“Intinya harus ada sanksi, bukan hanya pendataan seperti yang terjadi selama ini. Itu sebagai efek jera terhadap pelaku prostitusi,” tegasnya. (*/dns/ica/k11)