MANAGED BY:
SENIN
20 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Minggu, 12 Juni 2016 11:34
Menjalani Ramadan saat Musim Panas di Newcastle (2)

Di Durham Ada Masjid di Belakang Bar, Selalu Dingin bagi Asia

TIDAK BIASA: Aktivitas anak-anak muslim yang bermain tarik tambang di Newcastle Central Mosque. (IST)

PROKAL.CO, Labelnya memang musim panas. Tapi, musim panas di Inggris tak sepanas di Tanah Air.

CATATAN: MUHAMMAD SALIS YUNIARI (*)

SELAMA di Inggris, saya tinggal di Newcastle. Sebuah kota di utara, berbatasan dengan Skotlandia. Di kota ini, suhu musim panas rata-rata adalah 18-20 derajat celcius. Cukup dingin dibanding London di selatan, yang saat musim panas suhu bisa menyentuh 27 derajat celcius.

Namun, masih lebih hangat dibanding kota-kota di Skotlandia semacam Glasgow ataupun Aberdeen. Di dua kota itu, musim panas pun suhu masih di kisaran 15 derajat celcius.

Walaupun begitu, menurut orang sini, cuaca adalah satu dari tiga hal yang tidak bisa dipercaya. Dua yang lain adalah politikus dan sopir bus. Hal ini karena mudahnya cuaca berubah, sekalipun bagi kita orang Asia tetap saja bisa diprediksi; selalu dingin.

Contoh sulitnya cuaca diprediksi adalah awal April lalu. April seharusnya sudah musim semi, artinya mulai hangat, namun tiba-tiba saja pada satu hari salju kembali turun. Jadi, meskipun musim panas, dan puasa harus dijalani sekira 20 jam, cuaca tak begitu memberatkan. Karena memang musim panasnya lebih dingin ketimbang di Tanah Air. Dan walaupun berbuka puasa baru pukul 22.00, hal itu tidaklah terasa sangat berat.

Di United Kingdom (UK) -- Inggris, Wales, Skotlandia --  komunitas muslim saat ini jumlahnya cukup besar. Menurut sensus terakhir, sudah lebih dari 3 juta jiwa atau kisaran 6 persen dari total populasi. Jumlah yang cukup signifikan inilah salah satu faktor  membuat kehidupan sebagai muslim di UK tidaklah sulit.

Hal inilah yang membuat penulis kaget pada awal kedatangan dulu. Sulit mencari masjid dan toko daging atau makanan halal adalah bayangan sebelum berangkat dari Indonesia. Namun demikian, alhamdulillah, ternyata bayangan itu salah, meski tidak bisa dibayangkan hal yang sama sebagaimana di Indonesia.

Saat ini, di Newcastle sudah berdiri 14 masjid. Komunitas muslim kebanyakan hidup di sekitarnya. Namun demikian, masjid-masjid ini lokasinya tidak menyebar sepenuhnya. Ada area (desa) semacam Gosforth ataupun Washington yang tidak ada masjid. Umumnya, ini adalah daerah permukiman dengan mayoritas penghuni asli (pribumi). Berbeda dengan area perdagangan ataupun sekitaran kampus yang penghuninya multiras.

Contohnya Fenham, tempat saya tinggal. Di sini mayoritas penghuninya adalah mahasiswa terutama dari Newcastle University dan Northumbria University.

Fenham memiliki empat masjid. Dari satu masjid ke masjid lain berjarak tempuh antara 5-20 menit menit jalan kaki. Demikian pula toko yang menjual daging dan makanan halal cukup banyak dan menyebar di Fenham. Kebanyakan penjualnya adalah orang-orang dari Timur Tengah atau Asia Selatan, terutama Pakistan dan Bangladesh. 

Menu kebab, nasi biryani, kari adalah makanan-makanan yang mudah ditemui. Jika umumnya di Indonesia pisang goreng adalah makanan kecil teman minum teh, maka samosa adalah makanan favorit teman ngobrol di sini. Samosa semacam lumpia goreng namun bentuknya segitiga.

Isinya bukan rebung dan wortel, namun kacang polong dan kentang tumbuk yang bisa juga dicampur daging kambing atau ayam. Gurih, renyah, dan sangat lezat dicocol dengan saus tomat sedikit pedas.

Gambaran di Newcastle ini juga mencerminkan penyebaran muslim di UK. Ada beberapa kota tertentu yang jumlah muslimnya masih sangat kecil, sehingga jumlah masjid sangat terbatas. Hal ini sekaligus menjadi tanda sedikitnya toko halal di kota tersebut. Contohnya adalah Durham. Kota kecil di sebelah Newcastle. Atau York, salah satu kota wisata yang terkenal dengan bangunan-bangunan tuanya yang indah.

Di Durham hanya ada satu masjid kecil. Letaknya di belakang sebuah bar. Namun, tidak perlu takut akan adanya gangguan, hal ini karena hukum di UK sangat tegas. Walaupun saat melewati gang kecil menuju masjid tersebut aroma alkohol akan tercium begitu pekat. Di Durham juga tidak ada toko yang menjual daging halal.

Muslim di Durham harus datang ke Newcastle bila ingin membeli daging halal. Umumnya mereka membeli langsung lebih dari sepuluh kilogram, jadi persediaan sebulan. Bergantung jumlah anggota keluarga.

Jika berkunjung ke kota ini, maka fish and chips (kentang goreng) adalah menu andalan yang cocok dengan lidah Indonesia. Sandwich dengan isi tuna, keju ataupun telur bisa juga menjadi pilihan. Jangan membeli ayam goreng, sekalipun ayam namun tidaklah halal karena tidak disembelih sesuai syariat.

Sebaliknya, ada banyak kota yang persentase komunitas muslimnya cukup besar. London, Birmingham, dan Manchester adalah tiga di antaranya. Hampir di setiap sudut kotanya ada masjid dan mencari toko makanan halal tidaklah sulit. London Central Mosque adalah yang terbesar di London, sebagai contohnya.

Dengan arsitektur yang indah dan megah, perpaduan gaya Eropa yang khas dengan desain kotak dan lancip bertemu lonjong dan bulat ciri khas Timur Tengah. Di kompleks masjid, ada beberapa kantin yang menjual makanan halal dengan rasa yang lezat dan harga terjangkau. Jika hari Jumat, sering banyak orang yang bersedekah kue-kue gratis seusai Jumatan. Sebuah tradisi yang jamak ditemui di banyak masjid di UK.

Perkembangan Islam dan kehidupan dakwah di UK sangat baik. Pertumbuhan jumlah muslim adalah yang paling pesat dibanding pertumbuhan pemeluk agama lain. Menariknya, pertumbuhan muslim ini seiring dengan semakin besarnya jumlah orang yang tidak meyakini adanya Tuhan (atheis) ataupun percaya Tuhan namun menolak agama (agnostik).

Dari kalangan “no-religion” inilah, yang kebanyakan kaum muda, umumnya mualaf berasal. Mengutip gurauan pendakwah di sini, mereka sebenarnya sudah separuh muslim. Yakni, sudah mengakui bahwa tidak ada Tuhan (La Illaha), kurangnya hanya belum mengenal dan mengakui Allah.

Dakwah di UK bukan hanya dilakukan melalui masjid-masjid, namun juga melalui kegiatan kemasyarakatan, terutama universitas. Kedatangan para mahasiswa internasional dari negara-negara muslim menjadi tambahan tenaga dakwah.

Melalui Islamic Society (Isoc) di tiap kampus, mereka rutin mengadakan kegiatan dakwah Islam. Seperti Discover Islam Week. Yakni, ajang memperkenalkan budaya, sejarah, seni dan juga kuliner dari negara-negara muslim. Termasuk beberapa pakar yang akan menjawab setiap pertanyaan mengenai Islam.

Ada pengalaman menarik saat Idulfitri 2015. Ini menggambarkan indahnya ukhuwah islamiah komunitas muslim di UK. Penulis, dan kebanyakan pelajar Indonesia, umumnya lebih senang bergabung dengan Newcastle Central Mosque karena jamaahnya yang multibudaya dan setiap kegiatan selalu dengan pengantar bahasa Inggris.

Hal ini berbeda dengan Madina Mosque yang mayoritas jamaahnya dari Pakistan sehingga khotbah sering dilakukan dalam bahasa Urdu. Atau Masjid Turkish yang selalu dengan bahasa Turki. Idulfitri tahun lalu untuk pertama kali, panitianya adalah gabungan dan salat Id dilakukan bersama di Nunsmoor Park.

Menjadi khatib adalah giliran dari Newcastle Central Mosque, sedang imam salat dari Madina Mosque. Saat  salat, ternyata takbir yang berulang (tujuh dan lima kali) dilakukan setelah berdiri dari rukuk, bukan setelah takbiratul ihram sebagaimana di Indonesia maupun di Newcastle Central Mosque.

Banyak jamaah yang biasa bergabung Newcastle Central Mosque yang kebingungan. Namun setelahnya, didapat pemahaman bahwa kedua cara itu ada hadisnya.

Kami pun warga Indonesia setelah salat mengobrol dan berkata, pasti kejadian seperti ini jika di Indonesia sudah ramai di media sosial dan menjadi perdebatan. Namun, dengan melihat hal yang berbeda, kami menjadi belajar lebih banyak. (far/k15)

(*) PhD Student, Institute of Neuroscience Faculty of Medical Sciences, Newcastle University, United Kingdom


BACA JUGA

Minggu, 19 Januari 2020 11:21

Lapan Garap Pesawat Amphibi, Target 2024 Bisa Terbang Perdana

JAKARTA– Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) terus menggarap proyek…

Minggu, 19 Januari 2020 10:39

Banjir Surut, Tapi Tetap Waspada Karena Samarinda Masih Potensi Hujan Lebat

 Samarinda - Empat hari sudah warga Jalan Pakis Merah, Kelurahan Sempaja…

Sabtu, 18 Januari 2020 10:50

Perpanjangan Runway Bandara Ini Masih Abu-Abu

SAMARINDA–Untuk menunjang transportasi di ibu kota negara (IKN), landasan pacu…

Sabtu, 18 Januari 2020 10:49

Daerah Resapan Air Berubah Jadi Beton, Jangan Heran Banjir Terus Datang

Kurangnya ruang terbuka hijau hingga sistem drainase yang buruk membuat…

Sabtu, 18 Januari 2020 10:47

Kemenaker Siapkan Kartu Pra Kerja Proyek IKN

BALIKPAPAN–Pemindahan ibu kota negara (IKN) ke Kaltim membuka banyak kesempatan…

Sabtu, 18 Januari 2020 10:34

Tersangka Jiwasraya Juga Dijerat Pasal Pencucian Uang

JAKARTA-- Para tersangka kasus PT Asuransi Jiwasraya dikenakan pasal tindak…

Sabtu, 18 Januari 2020 10:34

Ini Alasan Mengapa Bangun IKN Ada Keterlibatan Asing

JAKARTA- Dipilihnya tiga warga negara Asing (WNA) sebagai dewan pengarah…

Sabtu, 18 Januari 2020 10:07
Jalinan Kedekatan Natuna dengan Negara-Negara Tetangga

Berobat ke Johor, Jual Ikan ke Singapura dan Hongkong

Di luar ketegangan di lautan, ada kedekatan antara warga Kepulauan…

Sabtu, 18 Januari 2020 10:03

Diduga Penularan Antraks dari Daerah Lain

JAKARTA- Kementerian Kesehatan kemarin (17/1) mengunjungi Gunung Kidul guna memastikan…

Jumat, 17 Januari 2020 23:00

Banjir Samarinda Cuma Komoditas Politik

SAMARINDA-Gaya komunikasi Wali Kota Syaharie Jaang dalam menyikapi banjir di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers