MANAGED BY:
MINGGU
24 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

PRO BISNIS

Senin, 02 Mei 2016 07:37
Pengusaha Berharap Kemudahan Kredit Bank
DILEMATIS: Kehati-hatian diperlukan bank agar tidak terjerumus dalam NPL. Namun pengetatan kredit tentu akan mempersulit pengusaha untuk pengembangkan usaha.(dok/kp)

SAMARINDA - Peran perbankan terhadap perekonomian yang melemah saat ini sangat krusial. Lesunya sektor pertambangan batu bara yang berimbas pada pelemahan sektor lainnya, membuat perbankan lebih berhati-hati mengeluarkan kreditnya. Namun, bagi pengusaha tentu ini jadi masalah.

Kala batu bara naik pada beberapa tahun lalu --puncaknya pada 2012, perbankan hanya benar-benar mau memberi kreditnya untuk sektor pendukung batu bara, seperti alat berat, dan lain sebagainya. Namun, saat pertambangan batu bara  melemah seperti saat ini, kucuran kredit juga ikut melemah. Bahkan, belum menunjukkan kecenderungan pada suatu sektor. Atau masih belum begitu merata. Pengusaha menilai perbankan mestinya mempermudah dan memperluas kredit untuk sektor lainnya, bukan menunjukkan kecenderungan kehati-hatian.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua Bidang Perdagangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim Fakhruddin Noor, kepada Kaltim Post.

Dia mengatakan, sebenarnya perbankan dari dulu seharusnya sudah memberi kemudahan-kemudahan pembiayaan untuk sektor lain. Justru salah, jika saat batu bara tengah lesu seperti saat ini baru perbankan sibuk memperluas ke sektor lainnya.

"Artinya apa? Artinya sektor selain tambang batu bara selama ini dianggap kurang potensial. Padahal, ada sektor lain seperti perkebunan, maupun sektor jasa-jasa. Kenapa baru ekspansi ke sektor lainnya saat sulit seperti ini. Itu pun masih kurang. Masih mempersulit pembiayaannya. Itu artinya pilih kasih. Tak boleh begitu," tukasnya.

Fakhruddin menilai, perbankan saat ini masih memiliki uang yang banyak, namun bingung hendak menggunakannya seperti apa. Menurutnya, hanya ada sedikit bank yang mau mempermudah pencairan dana kredit. Yakni, Bank Pembangunan Daerah (BPD).

Contohnya saja, lanjut dia, kredit untuk proyek konstruksi. "Sepengetahuan saya, saat ini hanya BPD yang mempermudah kredit. Ketika diminta, asal syarat terpenuhi, dalam waktu satu minggu selesai. Berbeda dengan bank lain, memerlukan waktu yang bisa sampai sebulan. Sebab, mereka nunggu persetujuan dari bank pusatnya. Sedangkan pengusaha perlu cepat," ujarnya.

Dampak lesunya batu bara, terang pengusaha di bidang konstruksi ini, memang memengaruhi sektor lainnya, sehingga menjadi ikut lemah. "Apa ada sektor ekonomi lain yang tiba-tiba naik saat batu bara lesu saat ini? Tidak ada kan? Jadi, perbankan pun memang belum mau beri kreditnya untuk sektor lain. Sehingga dampaknya sektor lain tak begitu terbantu," ungkapnya.

Dia menegaskan, masalah kredit memang bergantung dari aturan masing-masing bank. Lesunya batu bara asalkan diimbangi regulasi perbankan yang mempermudah pembiayaan, secara otomatis mempermudah sektor lain. Sehingga, sangat penting peran perbankan mengendalikan ekonomi melalui bantuan pembiayaannya ke sektor-sektor ekonomi lain.

"Saat ini, batu bara mau dimoratorium, bersama dengan sawit. Bagaimana sektor lain mau berkembang kalau kredit atau pembiayaan bank tidak mudah. Ya, kecuali UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah), tidak terpengaruh lesunya batu bara," tuturnya.

Diketahui, data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim pada Februari melaporkan, non-performing loan (NPL) alias kredit bermasalah di perbankan Benua Etam meningkat dari 6,16 persen pada 2015 menjadi 6,97 persen pada Februari tahun ini. Hal tersebut dikatakan Deputi Kepala KPw-BI Kaltim Harry Aginta adalah alasan mengapa perbankan begitu berhati-hati dalam mengeluarkan kreditnya.

Dari NPL tersebut, sektor pertambangan yang mendominasinya sejak 2014. Hingga kini, trennya sedikit menurun, namun dominasinya masih besar ketimbang sektor lain. Yakni, hingga 22,52 persen. Sementara jasa konstruksi, terus menunjukkan tren kenaikan NPL dari 12 persen pada 2014, menjadi 13,54 persen pada 2015, dan terus meningkat ke 19,40 persen pada Februari 2016. (mon/lhl/k15)


BACA JUGA

Jumat, 22 Oktober 2021 20:12
Dorong Produktivitas Pertanian, Dongkrak Kesejahteraan

Pupuk Kaltim Tingkatkan SDM Petani Binaan Sektor Hortikultura

BONTANG - PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) menggelar pelatihan…

Jumat, 22 Oktober 2021 16:24

Peduli Korban Banjir Samarinda, BRI Salurkan Bantuan Bahan Pokok di Kelurahan Temindung Permai

SAMARINDA - Banjir yang melanda Kota Samarinda sejak Rabu (20/10)…

Jumat, 22 Oktober 2021 13:26

TKDN Hulu Migas Menjadi Lokomotif Ekonomi Nasional

JAKARTA – Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) masih…

Rabu, 20 Oktober 2021 22:48

Arsjad Rasjid Lantik Pengurus KADIN Indonesia Periode 2021 - 2026

JAKARTA --- Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia,…

Rabu, 20 Oktober 2021 00:22

SKK Migas dan Seluruh KKKS, Ciptakan Multiplier Effect Hulu Migas Bagi Daerah

SKK Migas dan seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) terus…

Selasa, 19 Oktober 2021 14:55

Vaksinasi Bantu UMKM Bangkit

BALIKPAPAN - Pelaksanaan vaksinasi di Bumi Etam yang semakin masif…

Selasa, 19 Oktober 2021 14:54

Penjualan Alat Berat Meroket

BALIKPAPAN - Industri alat berat menunjukkan tren kenaikan penjualan pada…

Senin, 18 Oktober 2021 11:55

Buka Opsi Pailit, Kementerian BUMN Siapkan Pelita Air Gantikan Garuda

Kementerian Negara BUMN membuka opsi memailitkan Garuda Indonesia (GIAA) yang…

Sabtu, 16 Oktober 2021 20:33

FIFGROUP FEST Beri Kejuatan Promo Untuk Warga Samarinda

SAMARINDA –FIFGROUP FEST kembali hadirkan event promo pertamanya di bulan…

Sabtu, 16 Oktober 2021 10:58
Tingkatkan Literasi Pasar Modal dengan CMSE 2021

Investor Kaltim Tumbuh 65 Persen

Literasi serta edukasi pasar modal terus digencarkan oleh Self-Regulatory Organization…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers