SAMARINDA – Dua kali menggelar lelang, dua kali gagal. Begitulah nasib pembongkaran eks gedung SMP 1 dan SMA 1 Samarinda di Jalan Bhayangkara yang diproyeksikan menjadi taman kota. Dalam lelang yang dilangsungkan dua hari lalu (23/7), kembali sepi peminat.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Aset Daerah, Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Samarinda Prayitno selepas melaporkan perihal tersebut kepada Sekretaris Kota Samarinda Zulfakar Noor. Dijelaskannya, lelang kedua pembongkaran itu kembali sepi peminat. “Mau tidak mau kembali dilelang. Karena kami hanya mengikuti prosedur penghapusan aset daerah,” ucapnya kepada Kaltim Post, kemarin (24/7) siang.
Berdasar perhitungan pertama, pembongkaran gedung SMP 1 Samarinda bernilai Rp 265 juta. Sedangkan, gedung SMA 1 Samarinda, Rp 248 juta. Total nilainya sebesar Rp 513 juta.
Tak butuh waktu lama, kata dia, untuk kembali menggelar lelang ulang. Untuk penawaran lelang untuk kali ketiga ini, harganya turun sekitar 30 persen.
“Nilai bongkar kedua sekolah masih Rp 358 juta. Besok (hari ini, Red.) kami umumkan lagi di media massa. Insya Allah, Senin mendatang sudah bisa dilelang,” ungkap dia.
Pihaknya berharap pada lelang kali ini, sudah mendapat pemenang yang menangani pembongkaran itu. “Tentu semua berharap ada berminat sehingga cepat dibongkar,” ujar Prayitno. Jika tidak maka sesuai prosedur dikaji ulang besaran nilai tersebut oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN). Namun sebutnya, penurunan nilai itu bertahap. “Tidak bisa langsung turun 50 persen. Menurut aturan tidak boleh,” sebutnya.
Makanya kini pihaknya telah mengantisipasi jika lelang tersebut kembali gagal. “Kami sudah membuat surat ditujukan kepada DJKN perihal perhitungan ulang. Kalau waktu pelaksanaan lelang hasilnya sama, maka surat itu langsung dikirim,” terang dia.
Dia mengungkapkan, sebenarnya pihaknya bisa menangani penilaian itu. Namun lantaran dirasa kompleks makanya diserahkan kepada DJKN. “Kami memercayakan kepada mereka (DJKN, Red.),” tuturnya. (*/ril/ibr/k7)