MANAGED BY:
JUMAT
07 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Senin, 28 Desember 2015 11:01
Pedagang Arab Sangat Mengenal Karakter Jamaah Indonesia

Cerita dari Madinah dan Makkah usai Umrah di Bulan Desember (3)

RUPIAH PUN DIBURU: Budaya oleh-oleh di kalangan jamaah Indonesia adalah sasaran menarik bagi para pedagang di Arab. Termasuk kedua toko bernama unik di Makkah ini.

PROKAL.CO,

Setiap bulan, rata-rata 5.602 warga Indonesia berangkat umrah ke Arab Saudi. Itu berarti ada 195 orang per hari yang datang ke Madinah lalu lanjut ke Makkah. Bagi pedagang, itu uang besar.

CHRISNA ENDRAWIJAYA, Makkah

MENURUT Kementerian Agama, tingkat kunjungan umrah Indonesia memang begitu tinggi tahun ini. Jumlah itu bisa makin membengkak bila kena liburan sekolah, hari besar Islam, atau selama bulan puasa dan pada awal Idulfitri.

Bila satu orang membawa uang minimal 1.000 riyal untuk belanja oleh-oleh, sedikitnya uang dari jamaah umrah Indonesia yang beredar di Madinah dan Makkah lebih dari Rp 300 miliar per tahun. Angka itu bisa untuk membangun dua jembatan seperti di Tenggarong, Kutai Kartanegara, setiap tahun. Atau membeli satu pesawat Airbus A330-200 setiap enam tahun sekali.

Belum termasuk uang yang digelontor jamaah Indonesia yang berangkat haji. Pastinya lebih banyak karena menghabiskan waktu sebulan di sana. Intinya, warga Indonesia adalah berkah bagi para pedagang di Arab. Tak heran, di bus-bus travel Arab yang membawa jamaah, selalu ada tulisan I Love Indonesia.

Berburu rupiah, para pedagang di Arab pun menerapkan prinsip-prinsip ekonomi. Seperti menurut Philip Kotler dan Gary Armstrong (1996), bahwa keputusan pembelian sangat dipengaruhi faktor kebudayaan, sosial, pribadi, dan psikologi konsumen. Mereka sudah menerapkan sejak lama kepada warga Indonesia.

Para pedagang di Arab yang juga banyak dari Pakistan dan India begitu mengenal target orang Indonesia. Mereka paham budaya membawa oleh-oleh untuk istri/suami, anak, kakek-nenek, tetangga, saudara-saudara, dan seterusnya. Para pedagang di Madinah dan Makkah juga paham sisi sosial, pribadi, dan psikologi rata-rata jamaah Indonesia yang pasti mencari buah tangan yang menandakan bahwa mereka pernah datang ke Tanah Suci.

Tak heran, bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa dagang. Di Madinah dan Makkah, hampir semua pedagang paham bahasa Indonesia.

“Murah, Bu, Bapak, hanya 1 riyal, 2 riyal, 5 riyal,” adalah rangkaian kalimat yang mudah terdengar di pasar dadakan depan Masjid Nabawi di Madinah atau lorong jalan depan Masjidilharam, Makkah. Lihat, mereka bahkan paham bahwa kata “murah” itu sangat menarik minat rata-rata jamaah Indonesia.

Mereka juga kerap mengatakan, “Ayo beli, 5 riyal, halal, halal.” Kata halal itu selalu diucapkan sebagai penegasan bahwa mereka tak menipu. Selain marketing, hal itu juga bagian dari menerapkan gaya berdagang Rasulullah yang jujur. Katakan baik bila barangnya berkualitas dan katakan tidak bila sebaliknya. Itu mengunci faktor kepercayaan yang menjadi salah satu faktor yang menentukan keputusan membeli jamaah asal Tanah Air.

Meski demikian, menurut pengalaman kami, tempat yang lebih pas membeli (bila ingin) adalah di Madinah. Harganya terkesan lebih murah dan proses tawar menawar tak keras. Namun, bila tak pandai menawar, lebih baik membeli oleh-oleh pakaian, kurma, atau sajadah di shopping center. Jangan di pinggir jalan atau lapak-lapak yang bertebaran di depan Masjid Nabawi. Harga yang mereka patok biasanya dua kali lipat.

Sebagai contoh sajadah buatan Turki yang mestinya hanya 35 riyal ditawarkan kepada jamaah dengan harga 60 riyal. Biasanya, setelah ditawar, harganya jatuh di 45–50 riyal. Selisih yang cukup tinggi bila ingin membeli banyak oleh-oleh.

Soal merayu konsumen, para pedagang pinggir jalan di Madinah juga sangat lihai. Dari jauh melihat Anda, dia sudah tersenyum manis. Dia lalu mengucapkan assalamualaikum, mengulurkan tangan untuk bersalaman, lalu merangkul sambil berkata, “Sahabatku, saudaraku, apa kabar? Ayo masuk dulu, lihat-lihat tidak bayar. Beli baru bayar. Tidak apa-apa, tidak apa-apa.”

Semua dalam bahasa Indonesia yang cukup fasih, sambil menarik tangan Anda dengan halus masuk ke kios. Biasanya setelah itu, paling tidak satu item terbeli. Begitu Anda masuk, mereka sangat gigih menawarkan apapun yang menurut Anda murah.

Tak perlu takut kehabisan riyal karena mereka juga menerima rupiah. Mereka pun hafal kurs sehingga tak merugikan Anda karena uang kembalian tetap diberikan meski dalam bentuk riyal.

Begitu favorit warga Indonesia di Arab, sampai-sampai di Makkah, malah ada sebuah toko bernama Ali Murah. Di bawah nama itu tertulis lagi wilujeng sumping, dalam bahasa Sunda berarti selamat datang. Toko di sebelahnya bernama Gani Murah, di bawahnya lengkap tertulis wilujeng sumping dan sugeng rawuh, kata terakhir dari bahasa Jawa yang artinya juga selamat datang.

“Kadieu, kadieu,” kata seorang karyawan toko berwajah Timur Tengah, mengagetkan kami saat di depan kedua toko itu. Kadieu, juga bahasa Sunda, yang berarti ke sini.

Sebenarnya, barang oleh-oleh yang dijual di toko-toko tersebut tak ubahnya yang banyak beredar di Indonesia. Terutama di Tanah Abang, Jakarta. Hanya budaya oleh-oleh khas Indonesia lah yang membuatnya terasa spesial.

“Beli oleh-oleh sah saja. Yang penting ibadahnya sudah tuntas dulu dan ada waktu kosong atau saat tidak ada program dari travel. Niat umrah adalah ibadah, bukan melontar riyal (belanja, Red),” ujar Effendi, ustaz dari NRA Tour and Travel, lantas tersenyum.

Yang agak unik, sebelum pulang ke Tanah Air, ada saja jamaah yang membeli hajar jahanam sebagai oleh-oleh. Ada yang pesanan teman sambil bercanda, ada pula karena penasaran. Sejenis kayu berwarna hitam itu dikenal membantu kejantanan pria. Khasiatnya konon bikin tahan lama namun kadang bagi sebagian orang berefek negatif memberikan dampak “panas”. Dua potongan kecil dihargai 15 riyal.

“Setiap hari pasti ada saja orang Indonesia yang beli. Mungkin penasaran. Kalau kami orang Arab, tidak perlu yang begini. Sudah anugerah,” kata salah satu karyawan di Toko Ali Murah, lantas tersenyum simpul. (che/fel/k8/bersambung)


BACA JUGA

Kamis, 06 Agustus 2020 14:12

Pemerintah Fokus Penanganan Stunting di 10 Provinsi, Termasuk 3 Provinsi di Kalimantan

JAKARTA – Percepatan penurunan angka stunting (gagal pertumbuhan) bakal lebih…

Kamis, 06 Agustus 2020 14:09

Obat Tradisional Tidak Bisa Gantikan Vaksin.

JAKARTA—Kementerian kesehatan menegaskan bahwa tidak ada obat tradisional yang bisa…

Kamis, 06 Agustus 2020 13:59

Pertama Sejak 1998, Ekonomi Kembali Minus, Tapi RI Belum Masuk Jurang Resesi

JAKARTA– Usai dua dekade berlalu, kini sejarah kelam pertumbuhan ekonomi…

Kamis, 06 Agustus 2020 12:49

Pasien Sembuh Covid-19 Alami Gangguan Kejiwaan

MILAN – Manajemen Rumah Sakit (RS) San Raffaele di Milan,…

Kamis, 06 Agustus 2020 11:53

Video Detik-detik Terakhir Kematian George Floyd Beredar

WASHINGTON DC – Kepolisian Minnesota, AS, kecolongan. Video detik-detik terakhir…

Kamis, 06 Agustus 2020 11:42
Dibalik Ledakan Dahsyat di Beirut, Lebanon

Bumerang Sistem Politik Sekte

Pertanyaan apakah ledakan di Pelabuhan Beirut merupakan kecelakaan atau aksi…

Rabu, 05 Agustus 2020 12:55

Angka Kematian Covid-19 di Indonesia Masih di Atas Rata-Rata Global

JAKARTA - Angka kematian karena Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)…

Rabu, 05 Agustus 2020 12:19
Enam Fraksi Setuju Bentuk Pansus

Setelah Reses, Masalah Tarif Tol Balsam Dibahas di DPR

Besaran tarif Jalan Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) menuai kritik. Wakil rakyat…

Rabu, 05 Agustus 2020 12:18

Kasus Penjemputan Aktivis Terduga Positif Covid-19, Pemkot Klaim Sesuai Prosedur

SAMARINDA–Seorang aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kaltim dan dua orang…

Rabu, 05 Agustus 2020 12:18

Kerek Ekonomi, Optimalkan Konsumsi Warga, Belanja Daerah Jadi Stimulus

SAMARINDA–Terpukul sejak awal tahun, diperkirakan semester kedua ini perekonomian mulai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers