MANAGED BY:
SENIN
23 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

MASKULIN

Minggu, 15 November 2015 07:30
Remaja Samarinda menuju Moto3

M Raafly Sani, dari Balap Liar jadi Jagoan Sirkuit

SEMPAT SELIP: Aksi M Raafly Sani dengan Kawasi Ninja 250 FI tunggangannya. Memulai balapan dari pole position, Raafly sempat ketinggalan ke posisi delapan namun kembali menutup balapan sebagai juara.(ist)

PROKAL.CO, v>

HOBI balap liar kala usia SMP menjadi salah satu faktor pendukung M Raafly Sani mampu menjadi pemenang dalam race kelas 250 cc Indonesian Trackday Series (ITS) di Sirkuit Sentul, Bogor, Minggu (8/11) pekan lalu. Tunggangan yang mengantarkannya naik ke podium satu itu adalah Kawasi Ninja 250 FI. Terlebih, lawan-lawannya adalah pembalap profesional yang jauh lebih lama terjun ke dunia tersebut.

“Sebelum ini memang suka balapan. Tapi, kalau balap liar itu risikonya besar sekali. Saya juga baru sadar belakangan ini,” selorohnya lantas tertawa ketika ditemui Maskulin, Rabu (11/11). Disebutkan, ia mulai serius menekuni race resmi sejak September lalu.

Diceritakan, race yang pekan lalu di lakoni laki-laki asli Samarinda itu bukan perkara mudah. Meski start dari pole position, pada lap awal ia sudah tertinggal hingga posisi delapan karena selip mesin di motornya. Raafly penuh keyakinan dan ambisi. Perlahan-lahan, posisi pertama berhasil ia rebut hingga garis finis ia lewati.

Yang menjadi penyebab mesin motornya selip adalah terlalu lamanya memasang RPM sebelum start. Sehingga, ketika pembalap lain mulai memacu motor, RPM kendaraannya masih dalam kondisi down. “Sebelum race dimulai saya juga ada update status di media sosial kalau mesti naik podium untuk race kali ini. Lah, enggak tahunya benar-benar bisa terwujud,” ucap laki-laki 16 tahun itu.

Pembalap yang menjadi lawannya sempat menjadi kecemasan Raafly sebelum bertanding. “Yang naik podium dua itu pembalap asal DKI Jakarta. Terus yang kedua itu pembalap level Asia pada 2000,” urai laki-laki kelahiran 18 April 1999 itu.

Tidak ada trik khusus yang ia lakukan sehingga sampai ke podium satu. Menurut dia, urusan teknik sama saja dari semua pembalap. Namun, ia merasa support penuh orangtua, percaya diri, dan doa yang menjadi alasan ia lebih kencang dari pembalap lain.

Dia merasa beruntung belum pernah mengalami kecelakaan selama mengikuti race. Namun demikian, kecelakaan tak serius pernah dialaminya ketika sesi latihan. Menurutnya, itu cara berkenalan dengan sirkuit yang menjadi lintasan balapnya. “Ya, memang kebanyakan begitu. Yang juara pasti yang pernah mengalami insiden di sana. Walau bukan saat race, saya pernah juga merasa ‘cium’ aspal di sirkuit,” pungkas dia kemudian tertawa.

Raafly berkeinginan maju ke jenjang Moto3 pada 2017 mendatang. Namun demikian, agar dapat maju ke jenjang Moto3 ia meyakinkan diri untuk menuai prestasi lebih banyak dulu di kelas 250 cc. Dari prestasi dan banyaknya race diikuti, akan semakin banyak pengalaman yang dimiliki untuk menjadi bekal di Moto3. “Ya, doakan saja. Untuk ‘naik’ ke cc yang lebih besar juga butuh adaptasi . Untuk kelas 250 cc saja saya mesti satu bulan lebih sampai benar-benar mahir,” tukas bungsu dari empat bersaudara itu.

Selama mengikuti latihan di Kawasaki Racing Academy (KRA), ia dilatih khusus oleh pembalap asal Jepang, Kenichi Takemura. Raafly pun menjadi yang termuda sebagai peserta didik Kenichi. Pasalnya, rekan-rekan Raafly lainnya berusia jauh di atasnya. Bahkan, ada yang berusia sekitar 50 tahun.

Namun demikian, Kenichi tampaknya sadar potensi yang dimiliki Raafly. Ia kini didaulat sebagai asisten instruktur dalam timnya tersebut. “Agak susah juga menjadi asisten instruktur. Soalnya, kalau instrukturnya sedang berhalangan, ya, saya yang menggantikan. Kadang suka enggak didengarkan juga kalau saya yang bicara. Ya, karena saya yang termuda,” lanjut dia sambil tersenyum.

Di benaknya, ada semacam kerinduan muncul tentang balap liar. Namun, ia pilih membuangnya jauh-jauh untuk terwujud kembali. Menurut dia, risiko balap liar sangat tinggi. Meski sudah hati-hati, ada kalanya pengendara lain kurang hati-hati. “Yang terpenting, bisa ditilang juga. Itu sangat enggak enak,” ucap dia kemudian terkekeh.

Ia menilai pemuda Samarinda memiliki potensi yang mampu bersaing dengan pemuda dari kota lainnya untuk urusan balapan. “Ya, untuk teman-teman yang sekarang masih suka ikut balap liar, lebih baik bakatnya dikembangkan di balap resmi. Daripada membahayakan dan tidak ada apa-apa yang dihasilkan,” imbau Raafly yang juga hobi fotografi. (*/mrd/bby/k18)
 
loading...

BACA JUGA

Senin, 22 Oktober 2012 10:16

Mitra Teras Mantap di Puncak

<div> <div> <strong>BALIKPAPAN</strong> &ndash; Kesebelasan Mitra Teras…

Pemain Buangan yang Jadi Pembeda?

Tangis Bahagia Carolina Marin

Inter Menangi Derby De La Madoninna

Pemerintah Diminta Tunda Kenaikan Cukai Rokok

Adakah Peluang Bagi Timnas U-16 Menang Melawan China

Aksi Global Tuntut Perlindungan Lingkungan

Dana Reboisasi Tak Bisa Dicairkan, Kapolres Minta Perusahaan Membantu Personel dan Sarpras

1 Pelaku Karhutla Diungkap Polres Paser

Kabut Asap Belum Ganggu Aktivitas Lalu Lintas Air

THM Itu Bukan Milik Polisi
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*