SAMARINDA - Bakal ada lahan Hutan Tanaman Industri (HTI) besar terbaru di Benua Etam ini. Tepatnya di Penajam Paser Utara (PPU). Hal ini karena adanya rekomendasi dari Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak. Perusahaan yang mendaratkan investasi kayu kertas tersebut adalah Djarum Group, yang telah bergelut di bisnis rokok selama lebih dari enam dekade sejak 1951.
Kepala Badan Penanaman Modal PerizinanTerpadu Satu Pintu (BPMPTSP) Kaltim, Diddy Rusdiansyah menyebut, pihaknya telah mengeluarkan izin untuk PT Agra Bareksa Indonesia (ABI).
“Kami memantau saat ini dalam proses pembangunan. Perusahaan itu bergerak di bidang industri chip, pulp, wood panel, dan wood pellet. Nilai investasi sekitar Rp 1,2 triliun dan akan dibuka di Kawasan Industri Buluminung (KIB), PPU, ” jelas Diddy, Kamis (8/10) kemarin.
Perusahaan Djarum Group itu bahkan berencana membangun rel kereta api sebagai angkutan penyuplai bahan baku. Namun, Kepala Dinas Kehutanan Kaltim Chairil Anwar justru mengaku tak tahu pasti.
“Belum ada informasi secara resmi dari perusahaan itu (Djarum Group, Red), berupa surat. Sebab, prosesnya panjang. Harus melalui menteri kehutanan dulu, maupun melewati Gubernur,” ujar Chairil, saat ditemui Kaltim Post, kemarin (8/10).
Dia menuturkan, pembukaan lahan investasi tersebut merupakan gagasan Gubernur Kaltim Awang Faroek. Yang jelas, kata dia, luasan lahan yang bakal dibuka di atas enam ribu meter per kubik.
“Saya harap, kalau industri dibuka di sini (Kaltim), bisa membantu mendongkrak PAD (pendapatan asli daerah), dan bisa meningkatkan jumlah tenaga kerja. Selain itu, PPU dan sekitarnya bisa menjadi tempat perputaran perekonomian karena adanya perusahaan tersebut,” jelasnya.
Namun, dia “menggaris bawahi”, perusahaan yang berinvestasi HTI di Kaltim mesti mengutamakan realisasi hasil produksi untuk ekonomi Borneo. Walau yang biasa terjadi –seperti halnya batu bara, selalu Kaltim kebagian jumlah lebih sedikit dari hasil prosuksi (lebih banyak untuk pusat).
“Biasanya sih, kalau yang terjadi seperti itu (lebih banyak ke pusat) Kaltim hanya dapat dari pembagian hasil. Makanya kami akan upayakan supaya Kaltim tak merugi,” imbuhnya. Selain itu, dia menjanjikan, akan mengutamakan tenaga kerja yang berasal dari Kaltim, agar tak jadi beban ketika pemerintah sedang kolap.
Semantara itu, Kasi rehabilitasi Lahan dan Hutan, Dinas Perhutanan Kaltim, Sutrisno Hardadi menjelaskan, saat ini perusahaan Djarum Group memiliki dua anak perusahaannya yang telah menanam HTI di Kaltim. Yakni, PT Fajar Surya Swadaya yang memiliki lahan 66.659 hektare di PPU. Juga, PT Silva Rimba Lestari yang memiliki 88 ribu hektare lahan HTI di Kembang Janggut, Kukar.
Diperjelasnya, PT Fajar Surya Swadaya diperkirakan akan panen sekira dua tahun lagi. Hingga saat ini belum ada satu daur pun panen yang dilakukan perusahaan tersebut. Sementara PT Silva Rimba Lestari telah melakukan penanaman selama empat tahun. “Saat ini, untuk dua perusahaan tersebut sudah beroperasi menggunakan lebih banyak tenaga kerja dari lokal, untuk yang berada di lapangan. Yang atasan-atasan mereka, tentu dari luar Kaltim,” ujarnya.
Saat ini, dia menambah keterangan, terdapat 34 perusahaan aktif yang membuka lahan HTI di Kaltim. Dan, ditambah 12 perusahaan lagi yang sedang diproses kementerian kehutanan. Dari jumlah seluruhnya, 46 perusahaan tersebut, tercatat 1.847.430 hektare HTI di Kaltim ini. (*/roe/*/mon/lhl/k18)