MANAGED BY:
SABTU
24 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA
Kamis, 08 Oktober 2015 08:15
Risiko Lensa Kontak

PROKAL.CO,

AWALNYA benda ini diperuntukkan keperluan medis. Namun, seiring berjalan waktu menjadi salah satu item kosmetik andalan karena memberikan kesan dramatis pada mata.

Ya, lensa kontak kini diburu. Terutama yang berwarna cerah seperti ungu, hijau, biru, atau abu-abu. Sayangnya, peredaran lensa kontak mengkhawatirkan. Sebab, tak sedikit lensa kontak abal-abal dijual bukan di apotek.

Pembeli pun banyak, alasannya lebih murah. Padahal, penggunaan lensa kontak yang sembarangan bisa berbahaya. “Lensa kontak itu pemakaiannya harus hati-hati. Sebab, langsung menempel di mata. Namanya saja lensa kontak,” terang Baswara NEW, dokter spesialis mata Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie (RSUD AWS) Samarinda.

Karena itu, kebersihan dan kualitas lensa kontak menjadi faktor utama. Meski dibeli di apotek dan berkualitas, lensa kontak tetap berisiko jika pemasangannya tidak bersih.

Apalagi yang beraktivitas di lingkungan penuh polusi. Mereka sangat berisiko terkontaminasi debu dan bakteri. Awal gangguan mata karena lensa kontak biasanya ditandai iritasi, kemudian infeksi.

Jika tidak segera ditangani, berisiko infeksi parah yang menyebabkan kornea bolong dan membutuhkan tindakan pembedahan.

“Makanya, jika hanya alasan estetika, saya anjurkan tidak perlu. Sedangkan, kalau untuk keperluan medis, saya anjurkan dengan kacamata saja,” imbuhnya.

Baswara menuturkan, tak sedikit pasiennya yang datang sudah dalam keadaan infeksi parah karena penggunaan lensa kontak. Penyebab utamanya adalah membeli lensa kontak abal-abal di toko online dan penggunaan yang tak hati-hati. Bahkan, mereka ada yang lupa melepas lensa kontaknya saat tidur. (*/nyc/kri/k8)

loading...

BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers