MANAGED BY:
MINGGU
18 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

SELISIK/LAPSUS

Rabu, 19 Agustus 2015 09:39
Jejak "Kota Tua" Loa Kulu dalam Industri Pertambangan, Tertua di Indonesia, Berpotensi Jadi Objek Wisata Geologi
TIDAK TERAWAT: Magazijn merupakan saksi bisu bangunan Belanda yang awalnya digunakan untuk kantor OBM (Oost Borneo Maatschappij).(Rifqi/KP)

PROKAL.CO,

Dulu Kecamatan Loa Kulu menjadi bagian penting dari sejarah pertambangan di Indonesia. Kawasan tersebut menjadi andalan Pemerintah Hindia Belanda untuk perluasan sektor perdagangan komoditas hasil tambang batu bara. Juga, untuk memenuhi kebutuhan energi dan transportasi di dalam negeri.

SEJAK abad ke-16, sebenarnya Pemerintah Hindia Belanda sudah mengembangkan sektor perdagangan lain. Di antaranya, konveksi dan agronomi. Namun, bisnis batu bara dianggap lebih menggiurkan. Terlebih, kala itu, masyarakat pribumi oleh kolonial Belanda dianggap terbelakang dalam urusan industri batu bara. Sebagian besar masyarakat pribumi hanya menjadi buruh kasar dan pekerja lapangan.

Berbagai jejak peninggalan penjajah Belanda dalam industri pertambangan di Loa Kulu, sebenarnya terlihat jelas. Sebut saja bekas lubang gali, bangunan perkantoran, bangunan permukiman (mes kerja, tempat tinggal), dan bangunan lain yang berhubungan dengan tempat penambangan. Belum lagi secara geologi, Loa Kulu ternyata menyimpan potensi sebagai objek wisata geologi.

Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Kaltim pun sudah meneliti sejarah pertambangan di Loa Kulu tersebut. Ketua IAGI Kaltim Fajar Alam mengatakan, lokasi pertambangan di Loa Kulu salah satu yang tertua di Indonesia. Kondisi itu harusnya berperan menjadi sarana pembelajaran dan potensi pariwisata bertema sejarah. “Di Loa Kulu, ini lokasinya tiada duanya. Sangat mungkin bisa menjadi objek wisata pertambangan kota tua, seperti di eks pertambangan Sawahlunto di Sumatra Barat,” ujarnya.

Tambang besar di Sawahlunto dulunya juga dikuasai Belanda. Sejumlah tahanan kolonial, di Sawahlunto yang dikenal dengan sebutan orang rantai pun dipekerjakan di tambang dalam dengan upah 25 sen. Sama halnya dengan di Loa Kulu, Sawahlunto merupakan tambang tertua di Indonesia. Salah satu lubang tambang dalam yang kini dijadikan objek wisata adalah Lubang Mbah Soero. Lubang tambang dalam pertama di Sawahlunto. Nama tersebut diambil dari nama seorang mandor saat itu. Baru pada 2007, lubang itu kembali dibuka untuk tujuan wisata. Diperkirakan, tambang dalam tersebut memiliki panjang hingga belasan kilometer. Namun, baru 186 meter yang dioperasikan untuk kegiatan wisata.

Berbagai bangunan dan bekas penggalian tambang di Loa Kulu, memiliki ciri khas tersendiri. Seolah pertanda bahwa Loa Kulu merupakan pusat industri pertambangan pada masa Pemerintahan  Hindia Belanda. Misalnya, berbagai fasilitas kaum petinggi kolonial Belanda juga terdapat di Loa Kulu. Di antaranya, rumah sakit yang kini menjadi puskesmas Lua Kulu serta bangunan pabrik. “Di Loa Kulu juga terdapat terowongan bekas tambang yang tidak dapat ditemukan di daerah lain. Ini menggambarkan tempat ini bernilai sejarah,” sebut Fajar.

Mestinya pembangunan infrastruktur di Loa Kulu tidak merusak keaslian bangunan bersejarah tersebut. Kalau Pemkab Kutai Kartanegara serius, mestinya Loa Kulu bisa menjadi destinasi tempat wisata geologi yang tersohor. Sangat mungkin itu terjadi. Bahkan, bisa melebihi Sawahlunto.

Jika sumur Matilda di Balikpapan menjadi sumur migas tertua di Indonesia, pertambangan di Loa Kulu bisa dikenalkan sebagai lokasi tambang tertua di Tanah Air. Lokasinya yang sangat dekat dengan Tenggarong, membuat tempat itu sangat mudah dikembangkan. “Asalkan lebih serius. Bahkan, karena lokasinya yang strategis, kawasan ini mudah dikelola dari pada Sangasanga,” tandasnya.

Dari hasil penelitiannya, berhasil menemukan tulisan tua yang dibuat Albert Gelissen, warga Belanda yang tinggal di Loa Kulu. Dalam tulisan itu, cukup menggambarkan betapa berjayanya Kecamatan Loa Kulu saat itu. Pundi-pundi pemasukan daerah tidak mungkin datang dari pengembangan kota yang satu ini. Kecamatan Loa Kulu sebenarnya pernah menjadi perhatian media nasional dan internasional. Selanjutnya, tinggal pemerintah daerah memaksimalkan kondisi tersebut. Apalagi, saat ini, banyak bangunan tua di Loa Kulu yang justru rusak karena pembangunan infrastruktur. “Jika ada perhatian serius dari pemerintah, maka pembangunan infrastruktur di Loa Kulu juga tidak akan merusak bangunan bernilai sejarah tersebut,” tambahnya lagi.

Kepala Desa Loh Sumber, Kecamatan Loa Kulu, Suprayitno mengatakan, sedang mengupayakan menjaga aset bersejarah di Desa Loa Sumber. Selain membukukan cerita sejarah berdasarkan para saksi hidup, dia telah mengusulkan sejumlah aset tersebut dapat dianggarkan perawatannya. Misalnya, kata dia, lokasi Tugu Pembantaian Jepang yang akses jalannya sulit ditempuh, kini sedang diupayakan dibuatkan jalan tembusnya, Melalui jalan ini, diharapkan membuat siapa pun yang ingin mendatangi lokasi ini menjadi lebih mudah. Selanjutnya, pada saat memperingati hari kemerdekaan, para pelajar juga bisa melakukan napak tilas di lokasi tersebut.

"Jujur saja, dulu sebelum saya belum menjadi kepala desa, saya ingin sekali mengusulkan adanya anggaran khusus untuk perawatan serta perbaikan fasilitas di sekitar tugu. Tapi, dulu kapasitas saya bukan siapa-siapa. Saat ini, sedang berusaha berkoordinasi dengan Pemkab Kukar," ujarnya.

Meski menyimpan kisah sejarah, tapi tugu tersebut kata dia terkesan tak dirawat. Saat ini belum ada orang yang digaji secara khusus untuk merawat tugu itu. Sosialisasi kepada masyarakat tentang keberadaan tugu tersebut juga masih minim. Karena itu, diduga tak banyak yang tahu tentang keberadaan dan sejarah tugu tersebut.

"Saya prihatin sekali kondisi tugu tersebut seperti sudah tidak terurus. Tahun ini kami usulkan pembuatan jalan menuju tugu tersebut," katanya pria yang sudah satu tahun menjabat kepala desa itu. (muhammad rifqi hidayatullah/waz/k8)
 


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers