MANAGED BY:
MINGGU
18 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

OLAHRAGA

Senin, 25 November 2013 07:47
Bertje, Anatoli, Selanjutnya?

PROKAL.CO, v>

CATATAN: RENDY FAUZAN
(Wartawan Kaltim Post)
 

TIDAK banyak publik yang mengetahui siapa sosok di balik layar kesuksesan Indonesia memboyong emas pertama dari cabang olahraga (cabor) sepak bola sepanjang sejarah SEA Games. Ialah Bertje Matulapelwa, sang suksesor pembawa Garuda 1, julukan tim nasional Indonesia kala itu yang sukses membawa emas bergengsi ini pada 1987 silam.

Kenapa suksesor? Ya, kala itu kariernya sebagai pelatih kepala di tim nasional baru berbilang bulan. Dia yang saat itu sebelumnya berstatus asisten pelatih, ditunjuk menggantikan sang pelatih kepala, Sinyo Aliandroe yang diberhentikan lantaran disebut gagal membawa timnas masuk ke fase kualifikasi Piala Dunia 1986.

Menunjuk Bertje Matulapelwa menjadi pelatih bukan tanpa pertimbangan. Terkenal sebagai pelatih yang taktis dalam perhitungan statistik sebuah pertandingan, merupakan keunggulan pelatih kelahiran 1941 tersebut. Bahkan ada anekdot yang menyebutkan, dalam sebuah pergantian pemain saja, Bertje disebut sudah bisa mengubah angin permainan menjadi miliknya.

Hasilnya, ceplosan bola dari penyerang Indonesia kala itu, Ribut Waidi  ke gawang Malaysia di partai puncak SEA Games 1987, menjadi satu-satunya gol dan berhasil mengantarkan Indonesia membawa pulang emas dari cabor sepak bola. Kemenangan tersebut sekaligus menjadi bukti jitunya sang pelatih. Kemenangan tersebut kian melengkapi kebahagiaan publik Tanah Air setelah Indonesia dinobatkan sebagai juara umum dalam event tersebut.

Emas dari SEA Games 1987 itu disebut-sebut sebagai kebangkitan dari sang Macan Asia. Beralasan jika dikatakan demikian, karena berturut-turut pada dua gelaran setelahnya, Indonesia selalu masuk hingga semifinal. Pada 1989 Indonesia hanya mampu mendulang perunggu setelah dikalahkan Singapura di semifinal dan mengalahkan Thailand pada fase perebutan peringkat tiga dalam drama adu penalti.

Pada 1991 ketika SEA Games dilangsungkan di Manila, Indonesia kembali sukses melenggang naik podium setelah berhasil mengandaskan perlawanan timnas negeri Gajah Putih, Thailand dalam drama adu penalti. Kala itu timnas sudah dikendalikan penuh oleh pelatih Anatoli Polosin.

Mengorek sedikit mengenai pola kepelatihan pria bernama lengkap Anatoli Fyodorovich Polosin ini, pria kelahiran Rusia tersebut terkenal sebagai pelatih berkarakter keras. Menu latihannya yang disebut-sebut di luar batas kewajaran menjadi salah satu senjatanya menggembleng skuad timnas merah putih.

Bahkan sederet nama bintang sepak bola terkenal pada zamannya, seperti Fachri Husaini, Ansyari Lubis, dan Eryono Kasiha harus mundur teratur karena disebut tidak kuat lagi dengan tempaan sang arsitek asal Rusia tersebut. Namun, raihan perunggu pada SEA Games 1989 dan emas pada SEA Games 1991, menjadi bukti sahih gemblengan keras sang pelatih bukan tanpa hasil.

                                                                                                            ***

Desember mendatang, Indonesia kembali berkesempatan menambah catatan sejarahnya sebagai pendulang emas di cabang sepak bola pada SEA Games kali ini.

Apabila benar nanti emas sepak bola SEA Games bisa kembali ke Indonesia, momen tersebut akan menjadi dejavu bagi dunia sepak bola Tanah Air. Seperti 1987 silam ketika Indonesia gagal di Piala Asia, dan gagal masuk ke babak kualifikasi piala dunia, namun berhasil di SEA Games.

Menghadapi perhelatan tersebut, skuad muda ditunjuk sebagai perwakilan Nusantara berjibaku di ajang yang kali ini digelar di Myanmar. Tanpa posisi pertama setelah 22 tahun pada event ini, membuat skuad Garuda Muda ditargetkan kembali membawa pulang emas tersebut.

Demi memenuhi target tersebut, persiapan pun digelar sedini mungkin. Sejak Oktober silam, skuad Indonesia U-23 sudah dikumpulkan untuk mengikuti Training Camp yang berlangsung di Jogja. Tetapi persiapan Bayu Gatra cs bukan hanya sejak TC tersebut. Bahkan jauh hari TC tersebut, ikut serta dalam Islamic Solidarity Games (ISG) sudah menjadi ajang persiapan bagi Indonesia U-23.

Mundur sedikit ketika sebelum perhelatan ISG, mereka sudah terlebih dulu disertakan dalam seleksi untuk memantapkan kerangka skuad yang bakal bertolak ke Myanmar. Sejak itu, sudah tidak terhitung berapa laga yang dilakoni skuad besutan Rahmad Darmawan dalam laga bertajuk uji coba, resmi maupun tak resmi.

Dengan serangkaian persiapan dan pemanasan yang silih berganti membuat Rahmad Darmawan mulai dikenal sebagai sosok pelatih yang benar-benar perfeksionis dalam membina sebuah klub. Bukan dalam artian negatif, namun stimulus uji coba dan latihan tersebut menjadi pertimbangannya menentukan skuad terbaik Garuda Muda. Yah, pelatih mana yang tidak ingin capaian tim besutannya sempurna.

Apakah dengan metode tersebut Rahmad bisa menyaingi dua pelatih sebelumnya yang sukses membawa emas bagi Indonesia di SEA Games? ataukah karena latihan dan uji coba yang silih berganti tersebut malah membuat pemain menjadi lebih dulu aus sehingga kedodoran dari tujuan utama? Hanya Tuhan yang tahu.

Kendati demikian, harapan dua ratusan juta umat ber-KTP Indonesia ini untuk bisa kembali mendapatkan emas tidak akan luntur. Motto olahraga sebagai pemersatu bangsa, menjadikan harapan tersebut terus akan terpatri di sanubari. Merasakan gegap gempita atas satu persatu gol yang didapatkan menjadikan rasa nasionalisme publik kian membuncah.

“Garuda di dadaku… Garuda kebanggaanku… Kuyakin kali ini pasti menang,” ujar lirik salah satu lagu grup band Tanah Air. Semoga bisa segera terwujud. ([email protected]/obi/k1)
 
loading...

BACA JUGA

Sabtu, 17 November 2018 12:10

MENDAMBA FORTUNA

SERUI–Meretas posisi papan atas jadi misi Borneo FC jelang berakhirnya Liga 1 2018. Peluang itu…

Sabtu, 17 November 2018 12:05

Menambal Kekosongan

MENANTANG Perseru Serui nanti siang Wita, skuat Borneo FC mengalami situasi krisis di sektor bek kiri.…

Sabtu, 17 November 2018 12:04

Runtuhkan Kutukan San Siro

MILAN–Kembali ke San Siro, Milan, timnas Italia seperti kembali mengungkit mimpi buruk setahun…

Sabtu, 17 November 2018 12:00

Bukan soal Centurion

BEK TENGAH Italia Giorgio Chiellini termasuk satu dari empat pilar timnas Italia yang telah memutuskan…

Sabtu, 17 November 2018 11:49

Bingung Khotbah Bahasa Thailand

MESKI berada di negeri dengan penduduk muslimnya yang berjumlah minoritas, skuat timnas tetap menunaikan…

Sabtu, 17 November 2018 01:24

Terlambat Panas, Simic Kikuk

MAKASSAR  -  PSM Makassar harus puas berbagi angka 2-2 dengan Persija Jakarta di Stadion Andi…

Sabtu, 17 November 2018 01:23

Eks Striker PSG Menggila

LAMONGAN  -   Eks striker Paris Saint-Germain (PSG), Loris Arnaud tampil menggila saat Persela…

Sabtu, 17 November 2018 01:22

Kas Turunkan Kekuatan Penuh

PALANGKARAYA – Pertandingan ”hidup mati” dalam lanjutan babak delapan besar Liga 2…

Sabtu, 17 November 2018 01:22

MENGEJAR KEBERUNTUNGAN

BANJARMASIN –  Laga krusial kembali akan dilakoni Mitra Kukar, sore ini (17/11). Menantang…

Sabtu, 17 November 2018 01:21

Guthrie On Fire!

DANNY Sean Guthrie tampil apik di beberapa pertandingan terakhir Mitra Kukar. Pemain asal Inggris itu…

Terbius Keindahan Jepang

Warga Kehormatan Yorkshire

Dampak Kemarau, Ikan Sungai Langka

Acciuga Ingin Selamanya

Sujiati Gantikan Anwar Sanusi di DPRD

Bankaltimra Masih Butuh Tambahan Modal Inti

BPK: Klasifikasi Data sebelum Diberi ke Wartawan

Buru Poin di Serui

Nana Begitu Dibela Anak Autisnya

Fenomena Digitalisasi, Akankah Menjadi Solusi?
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .