MANAGED BY:
MINGGU
07 FEBRUARI
HOME | UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KALTIM

Jumat, 01 November 2013 08:58
Pesut Masih Ada di Kukar (1)

Susuri Perairan Muara Kaman, Malah Ketemu Berang-Berang

BANYAK warga yang kemudian menganggap pesut sudah punah. Budi, salah satu warga Loa Kulu, kecamatan di hilir Kota Tenggarong, yang bermukim di tepi Sungai Mahakam mengaku tak pernah lagi melihat pesut muncul sejak di tahun 2000.
"Kalau sebelum tahun 2000, pesut masih kerap dijumpai di belakang rumah saya ini, munculnya  pagi hari, tapi setelah itu saya tak pernah melihat lagi," ujarnya. Namun, saat ini Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) itu masih bisa dijumpai di perairan antara kecamatan Kota Bangun dan Muara Kaman Kutai Kartanegara.
Menurut hasil monitoring Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) pada 2012, Pesut Mahakam diperkirakan tinggal berjumlah 92 ekor.
"Saat ini pesut di seluruh Mahakam diperkirakan hanya ada di perairan Kukar, yakni antara Kota Bangun dan Muara Kaman," ujar peneliti asal Belanda Danielle Kreb dari Yayasan Konservasi RASI, saat ditemui Mei lalu.
Berbekal informasi tersebut, media ini bersama tim liputan salah satu televisi swasta nasional dari Jakarta mencoba peruntungan melihat langsung hewan eksotis Mahakam tersebut, didampingi anggota YK RASI Innal Rahman. Kami menyusuri perairan antara Kota Bangun hingga Muara Kaman, Selasa (29/10) lalu.
Tim jurnalis mengawali perjalanan dari Tenggarong sekitar pukul 07.30 Wita menyusuri jalan darat dan tiba di Kota Bangun sekitar pukul 10.00 Wita.
Mengikuti saran Innal, tim terlebih dahulu mengisi perut di warung setempat, agak tidak kelaparan saat 'hunting' pesut yang akan diakhiri saat hari gelap. Setelah kenyang, tim langsung turun ke Mahakam untuk memulai pencarian pesut dengan transportasi lokal yang disebut ces atau perahu bermotor.
Hunting diawali di perairan Desa Sangkuliman hingga muara Danau Semayang. Namun, karena air terlalu surut, menurut warga setempat yang sempat ditanyai, pesut jarang terlihat. Mendengar informasi tersebut, sekitar pukul 11.30 Wita, tim pun berbalik ke arah hilir menuju perairan Muara Kaman.
Terik matahari terasa menyengat, tapi tak menyurutkan semangat dan niat melihat langsung Pesut Mahakam. Untungnya, cipratan air ke kepala akibat empasan haluan perahu dengan air yang sedikit berombak akibat angin, mampu menyejukkan kulit wajah.
Sekitar pukul 13.00 Wita, tim tiba di muara Sungai Kedang Rantau yang merupakan anak sungai Mahakam di Muara Kaman. Kami singgah di rakit pos penjagaan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Kaltim yang berada tepat di bibir muara tersebut.
"Kita coba tunggu di sini dulu, karena biasanya pesut sering terlihat di muara ini saat tengah hari," ujar Innal.
Namun, ada suasana berbeda di muara Kedang Rantau tersebut. Biasanya banyak gerombolan burung dara laut yang berburu ikan kecil, tetapi siang itu tak tampak.
Setelah setengah jam hewan yang dicari tak muncul, tim memutuskan masuk ke Kedang Rantau. Darwis, sang pengemudi ces pelan-pelan menarik gas, hingga perahu hanya berjalan pelan, menyusuri anak sungai dengan lebar kira-kira 30-50 meter itu.
Hewan pertama yang dijumpai adalah bangau yang sedang mencari ikan, kemudian burung Pekaka Emas yang sedang bertengger menunggu ikan kecil. Burung pemangsa ikan lainnya yaitu Pecuk Ular, juga sempat direkam gambarnya saat berada di air untuk berburu ikan.
Sesuai namanya, leher Pecuk Ular sepanjang kira-kira 40 cm yang muncul ke permukaan air sangat mirip hewan lata.
Biasanya, berbagai jenis burung lainnya sangat mudah dijumpai di Kedang Rantau, namun saat itu hanya segelintir yang terlihat. Kejenuhan akibat sudah lebih satu jam menyusuri anak sungai belum menemukan pesut, sedikit terobati dengan sepasang berang-berang yang mencari makan di tepi sungai.
Didekati dengan perahu, berang-berang itu tidak langsung kabur, melainkan hanya mendesis menunjukkan gigi besar mereka. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk mengambil gambar lebih
lama, sembari menunggu pesut-pesut menampakkan “batang hidung” mereka. (wan/k9/bersambung)
 

BACA JUGA
Sabtu, 06 Februari 2016 00:47

Remaja Jadi Bandar Narkoba

BONTANG – Usia Wa memang masih 17 tahun. Namun untuk urusan peredaran narkoba tak bisa dipandang…

Sabtu, 06 Februari 2016 00:44

Delineasi Pasca-Enklave Terhenti

        SANGATTA – Proses enklave lahan untuk Pemkab Kutim dari Taman Nasional…

Sabtu, 06 Februari 2016 00:43

Cetak 1.500 Hektare Sawah Baru

Untuk mencapai program swasembada beras, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutim terus menggenjot…

Sabtu, 06 Februari 2016 00:42

Satu Tersangka di Muara Badak

TIDAK hanya di Bontang. Dalam waktu yang hampir bersamaan, seorang terduga pengedar narkoba juga diringkus…

Sabtu, 06 Februari 2016 00:42

Kata Pengamat Ekonomi Ini, Pembangunan di Kaltim Tak Berkualitas

TANA PASER – Pengamat Ekonomi Ichsanuddin Noorsy mengkritik sejumlah petinggi pemerintahan, baik…

Sabtu, 06 Februari 2016 00:40

Diciduk setelah Konsumsi Sabu

        TANA PASER – Lima tahun menjadi target operasi (TO) polisi, atas keterlibatannya…

Sabtu, 06 Februari 2016 00:39

Terima Bantuan RS-RTLHA 2015

Sebanyak 40 keluarga miskin yang ada di wilayah Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser, mendapat bantuan…

Sabtu, 06 Februari 2016 00:36

Ada yang Mencurigakan, Lapor Polisi

        PENAJAM – Apa jadinya jika para remaja dibiarkan tanpa pemahaman memadai,…

Sabtu, 06 Februari 2016 00:33

Pasti Lepas, Berharap APBD Perubahan

        PENAJAM – KONI Penajam Paser Utara (PPU) harus gigit jari. Meski sudah…

Sabtu, 06 Februari 2016 00:32

Bantah Halangi Investor Masuk

        TANJUNG REDEB – Rencana perusahaan perkebunan Great Giant Pineapple…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2015 Kaltim Post Group. All Right Reserved.