MANAGED BY:
JUMAT
19 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Selasa, 09 Juli 2019 11:43
Neraca Perdagangan Masih Defisit, Jokowi Sentil Kinerja Menteri Ekonomi
Presiden Joko Widodo

PROKAL.CO,  BOGOR- Presiden Joko Widodo menyentil kinerja para menteri ekonominya terkait kondisi neraca perdagangan Indonesia. Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), selama Januari-Mei 2019, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit dibandingkan masa yang sama tahun lalu (yoy).

Seperti diketahui, ekspor Januari-Mei 2019 hanya mencapai USD 63,12 miliar. Turun 8,6 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai USD 68,11 miliar. Sementara untuk impor, tahun ini mencapai USD 70,60 miliar. Turun 9,2 persen dari dari tahun lalu yang ada diangka USD 77,78 miliar.

Meski penurunan impor lebih tinggi dari angka ekspor, namun secara komulatif masih terjadi defisit. "Hati-hati terhadap ini, artinya neraca perdagangan kita Januari-Mei ada defisit 2,14 miliar US Dollar," ujarnya saat membuka sidang kabinet di Istana Kepresidenan Bogor," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Jokowi memperingatkan Menteri ESDM Ignatius Jonan dan Menteri BUMN Rini Soemarmo terkait kinerja Minyak dan Gas. Pasalnya, sektor migas menyumbang peran besar dalam bengkaknya defisit perdagangan Indonesia. "Hati-hati di migas pak Menteri ESDM, Bu amenteri BUMN yang berkaitan dengan ini, karena ratenya yang paling banyak ada di situ," imbuhnya.

Jokowi menuturkan, peluang meningkatkan ekspor cukup terbuka di tengah situasi pernah dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Untuk pasar Amerika misalnya, tingginya pajak yang dikenakan terhadap produk Tiongkok membuat komoditas asal Indonesia bisa bersaing. Khususnya di garmen, furniture, dan tekstil.

Untuk merangsang ekspansi tersebut, Jokowi meminta jajarannya untuk memberikan insentif-insentif industri yang berpotensi tersebut. Baik berupa bunga, potongan pajak dan instrumen lainnya. Jika tidak, maka akan sulit. "Inilah yang selalu kita kalah memanfaatkan peluang, ada oppurtunity tidak bisa kita ambil karena insentif-insentif itu tidak kita berikan," terangnya.

Di sisi lain, investasi yang berorientasi pada ekspor atau komoditas substitusi impor harus terus didorong. Berdasarkan pantauan di lapangan, Jokowi masih menemukan hambatan terhadap proses masuknya investasi. 

"Kemarin kita ke Manado, kita kurang hotel. Hotel sudah berbondong-bondong mau bikin terkendala tata ruang," tuturnya. Padahal, lanjut dia, urusan teknis bisa dibicarakan bersama kementerian dengan kesepakatan-kesepakatan yang bisa diambil jalan tengahnya.

Sementara itu, Menteri BUMN Rini Soemarmo menanggapi santai teguran presiden. Menurutnya, apa yang disampaikan presiden harus memacunya untuk lebih bekerja keras. "Ya kita harus lebih kerja keras mengingat impor kita turun, tapi lebih turun lagi ekspor kita, jadi kita harus lebih banyak kerja keras," ujarnya.

Dia menuturkan, impor migas sangat berkaitan dengan permintaan di lapangan. Jika permintaan naik, maka impor pun otomatis naik. "Ya kita akan lihat. Kenapa bulan mei naik," imbuhnya lantas bergegas.

Menteri Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, berdasarkan diagnosa pihaknya, ada sejumlah faktor yang menghambat kinerja investasi dan perdagangan. Pertama adalah peforma institusi dan regulasi. Untuk institusi, birokrasi di Indonesia belum cukup handal di mana pelayanan masih lambat. Sementara untuk regulasi, aturan dan prosedur masih panjang.

Untuk ekspor misalnya, proses administrasi dan kepabeanan di Indonesia masih memakan waktu rata-rata 4,5 hari. "Lebih tinggi dibandingkan negera tetangga. Singapura setengah hari, Vietnam Thailand yang sekitar 2 harian," ujarnya.

Hal serupa juga terjadi dalam hal investasi. Di mana untuk memulai investasi di Indonesia diperlukan rata-rata 19 hari. "Biaya untuk memulai investasi di Indonesia pun lebih tinggi dibandingkan di negara-negara tetangga," imbuhnya. (far)


BACA JUGA

Jumat, 19 Juli 2019 10:29

Badai Tropis Mengamuk di Utara Filipina, Efeknya Hingga Indonesia

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi kemunculan…

Jumat, 19 Juli 2019 10:18

Evi Apita Maya, Caleg DPD yang Dituduh Terlalu Cantik di Surat Suara

Perolehan suara caleg DPD asal Provinsi Nusa Tenggara Barat Evi…

Jumat, 19 Juli 2019 10:15

Ngojol ke Istana

  Fenomena ojek online (ojol) sudah sangat familier. Hampir semua…

Jumat, 19 Juli 2019 10:05

Lagi-Lagi Mendag Tidak Penuhi Panggilan KPK

JAKARTA – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita kembali tidak memenuhi…

Jumat, 19 Juli 2019 10:05
Presiden Didesak Bentuk TGPF Kasus Novel

Hasil Kerja Tim Bentukan Polri Dinilai Tidak Memuaskan

JAKARTA – Pengungkapan kasus penyiraman air keras kepada penyidik KPK…

Kamis, 18 Juli 2019 11:08

Terbang 2 Jam, Pesawat Bawa Calon Jamaah Haji Balik ke Bandara

MAKKAH–Kedatangan kloter 14 dari Embarkasi Makassar (UPG) di Bandara Internasional…

Rabu, 17 Juli 2019 11:10

Prioritaskan Hujan Buatan di Lumbung Padi Nasional

JAKARTA – Pemerintah memilih opsi menerapkan teknologi modifikasi cuaca untuk…

Selasa, 16 Juli 2019 11:03

Cabut Hak Politik Wakil Ketua DPR

SEMARANG – Wakil Ketua DPR (nonaktif) Taufik Kurniawan memilih untuk…

Selasa, 16 Juli 2019 08:55

Warna-warni Hari Pertama Tahun Pelajaran Baru

Ada beragam cara yang dilakukan sekolah untuk menyambut siswa baru.…

Selasa, 16 Juli 2019 07:42

WASPADA..!! Kemarau Tahun Ini Lebih Panas

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta seluruh jajarannya untuk mengantisipasi dan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*