MANAGED BY:
JUMAT
19 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 05 Juli 2019 12:03
Anjing (di)-Masuk-(kan) Masjid

PROKAL.CO, Oleh: Bambang Iswanto*

 

Tiba-tiba saja berita terkait anjing menjadi viral. Ada kejadian seorang penggiat lini masa mengunggah sebuah gambar editan yang memperlihatkan hakim sedang bertugas di Mahkamah Konstitusi, dengan penampakan berkepala anjing, bukan kepala manusia. Pemilik akun media sosial yang mengunggah gambar tersebut harus berhadapan dengan proses hukum.

Berita lainnya terkait anjing yang lebih heboh adalah di sebuah masjid daerah Bogor. Tampak dalam video yang beredar, seekor anjing berlari-lari dalam masjid. Anjing ini bukan anjing nyasar. Tetapi sengaja dibawa oleh pemiliknya ke dalam masjid dan diletakkan di lantai masjid yang berkarpet.

Sama halnya dengan pengunggah gambar hakim berkepala anjing, empunya anjing itu sekarang juga harus berhadapan dengan hukum. Ada dugaan bahwa perempuan pemilik anjing tersebut menderita stres dan gangguan jiwa. Biarkan pengadilan yang membuktikannya. Jika terbukti sakit jiwa, harus dibebaskan dari jerat hukum. Karena hukum tidak berlaku bagi pelaku yang tidak sehat akal alias gila.

Dalam nalar pikir sederhana, susah memahami bahwa ada orang waras sanggup melakukan perbuatan “bunuh diri”, membawa masuk anjing ke dalam masjid pada siang hari dan di tengah hirup pikuk pengunjung lainnya. Apalagi jika si pembawa anjing mafhum, orang-orang sekitar sangat marah masjidnya “dikotori” seekor anjing.

Kalaupun tidak menganggapnya gila, hanya kebodohan karena ketidaktahuan yang menyebabkan orang bisa bertindak membawa anjing ke masjid. Dua hal, yakni gila dan tidak tahu saja yang membuat orang ini dibebaskan dari jerat hukum.

Dalam kasus anjing di masjid, sangat terang benderang yang menjadi korban adalah anjing. Tidak lama setelah peristiwa, anjing tersebut ditemukan sudah tidak bernyawa, tidak jauh dari masjid tempat kejadian. Jika kematian anjing sebagai hukuman atas keberadaannya di masjid, sungguh sangat kasihan sekali nasib anjing ini. Tak ada kesalahan yang dilakukan tetapi nyawa yang menjadi tebusannya. Dia hanya mengikuti ke mana tuannya membawanya. Mengikuti insting sebagai binatang yang setia kepada tuannya. Anjing tidak akan masuk masjid jika tidak dibawa tuannya.

ANJING MASUK SURGA

Anjing sering menjadi simbol kerendahan moral seseorang, sebagai padanan sikap orang yang sering menjilat. Entah mengapa anjing yang dijadikan simbol. Padahal, masih banyak contoh hewan lain yang memiliki kebiasaan menjilat seperti anjing.

Tidak jarang anjing dijadikan sebagai ungkapan sumpah serapah kepada orang lain. Seolah anjing adalah makhluk terhina yang disejajarkan dengan orang yang dibuat emosi. Tidak hanya saat marah, anjing dipakai sebagai alat menghina ataupun mengolok orang lain dengan menyamakan kedudukannya dengan anjing.

Sesungguhnya tidak layak anjing dijadikan simbol makian atau hinaan. Bisa jadi, orang yang bersumpah serapah dan mengolok dengan kata-kata anjing, tidak mengerti bahwa anjing adalah makhluk Tuhan yang mesti mendapat perlakuan yang baik dari manusia sebagai sesama makhluk Tuhan.

Bahkan, anjing disebut-sebut dalam sebuah hadis sebagai media yang bisa membawa manusia menjadi mulia di hadapan Tuhan dan mendapatkan ganjaran masuk surga. Imam al-Bukhari meriwayatkan cerita Rasulullah tentang sebab musabab seorang pelacur masuk surga.

Hina dina pekerjaan perempuan tersebut di mata manusia ternyata tidak serta membuatnya hina di hadapan Tuhan. Justru pelacur tersebut mendapatkan balasan surga karena anjing yang ditolongnya saat kehausan mencari air di pinggir sumur. Pelacur membantu mengambilkan air dengan sepatunya dan meminumkannya kepada anjing, membuat anjing terhindar dari kehausan dan kematian.

Harkat martabat seorang yang dianggap sampah masyarakat ternyata terangkat dan mendapatkan derajat tinggi yang berbuah surga berkat media anjing. Rasulullah mungkin menyentil bagi siapa pun yang memandang anjing sebagai makhluk yang tidak bermanfaat. Dan ternyata Allah menjadikannya sebagai sarana bagi manusia yang dianggap hina dapat masuk surga.

Berbuat baik itu tidak hanya kepada manusia, makhluk lain selain manusia tidak kalah ganjarannya, termasuk kepada anjing. Anjing dan binatang lain berhak mendapatkan perlakuan baik dari orang yang berakal seperti manusia.

Tidak hanya disebutkan dalam hadis. Dalam Alquran pun ada cerita khusus tentang anjing. Anjing adalah salah satu makhluk Allah yang disebutkan dalam Alquran sebagai bagian dari Ashabul Kahfi dan mendapatkan keistimewaan masuk ke surga.

Setelah tahu tentang cerita anjing, pilihan ada di tangan manusia sendiri. Apakah memilih menjadi mulia dengan berlaku baik terhadap anjing seperti pelacur dalam cerita Rasulullah. Ataukah memilih menjadi hina dengan menjadikan mulut kita dipenuhi kata-kata anjing sebagai bentuk penghinaan kepada orang lain. Atau berlaku zalim kepada anjing dengan menyiksanya bahkan membunuhnya karena menganggap sebagai makhluk yang tidak berharga. (dwi/k8)

 

*)dosen IAIN Samarinda

 

 


BACA JUGA

Kamis, 18 Juli 2019 10:23

Selamat Datang IKN

Oleh: Heru Cahyono, Ketua LPJKP Kalimantan Timur     Rencana…

Kamis, 18 Juli 2019 10:21

Wujudkan PLTSa Ramah Lingkungan

Oleh: Priyo Adi Sesotyo Mahasiswa Magister Energi, Universitas Diponegoro   Belum…

Senin, 15 Juli 2019 08:09

Kaltim Sebagai Ibukota NKRI: Kenapa tidak?

Oleh: Apri Gunawan, SE Pilihan untuk menjadikan Kalimantan Timur sebagai…

Jumat, 12 Juli 2019 11:23

Pelajaran dari Kasus Bau Ikan Asin

Bambang Iswanto* MAKNA denotasi frasa bau ikan asin adalah aroma…

Minggu, 07 Juli 2019 21:36

Mengutamakan Moral Dalam Pembangunan

Oleh: Apri Gunawan, SE  Ketua IPDP Kaltim Kota Samarinda  …

Jumat, 05 Juli 2019 12:03

Anjing (di)-Masuk-(kan) Masjid

Oleh: Bambang Iswanto*   Tiba-tiba saja berita terkait anjing menjadi…

Sabtu, 29 Juni 2019 12:02

Memenuhi Kebutuhan Air Bersih Tanggung Jawab Negara

Ratna Munjiah Pemerhati Sosial Masyarakat   MASYARAKAT Kutim dihadapkan dengan…