MANAGED BY:
MINGGU
21 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Senin, 17 Juni 2019 14:45
Begini Sistem Anyar Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Negeri

Lebih Transparan, tapi Rumit

PROKAL.CO, Seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBM PTN) tahun ini menerapkan sistem baru. Siswa bisa makin bimbang saat menentukan pilihan.

 

NOVAL antusias dan langsung berdiri ketika diberi kesempatan menyampaikan pertanyaan dalam forum SBM PTN Day di Balairung Universitas Indonesia (UI) Depok Sabtu (15/6). Siswa kelas XII SMA swasta di Jakarta Selatan itu mengonfirmasi sejumlah informasi yang berseliweran terkait penerimaan mahasiswa baru di PTN.

”Ada informasi bobot tes potensi skolastik (TPS) dan tes potensi akademik (TPA) yang beda,” ujarnya. Dia melanjutkan, bobot untuk TPS dipatok 60 persen dan TPA 40 persen. Kemudian, diberlakukan juga sistem klaster berdasar rumpun keilmuan.

Di hadapan pimpinan Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), dia meminta penjelasan, apakah memang ada ketentuan pembobotan antara TPS dan TPA tersebut. Atau, hanya komponen subtes TPA yang diberi bobot karena terkait dengan rumpun ilmu program studi (prodi) yang bakal dilamar.

Lantaran banyak informasi yang beredar tersebut, Noval mengaku belum mendaftar SBM PTN hingga saat itu. Dia masih menimbang-nimbang prodi dan kampus yang akan dipilih.

Cerita lain dituturkan Rachma. Siswi penyuka K-pop itu mendaftar SBM PTN pada hari pertama pembukaan 10 Juni lalu. Dia mengaku langsung menentukan pilihan prodi bukan lantaran sudah mantap atau yakin. ”Tapi, setelah mengikuti dua ujian SBM PTN yang diselenggarakan LTMPT, saya mendapatkan nilai tengah,” ungkapnya.

Dengan nilai yang berada di tengah atau median tersebut, Rachma menyebut hasilnya tidak terlalu bagus. Beberapa hari sebelum pendaftaran SBM PTN dibuka, dia mencari informasi jurusan atau prodi yang cenderung sepi peminatnya. Pada H-1 pendaftaran SBM PTN, dia sudah memiliki prodi pilihan. Namun, dia tidak bersedia menyebutkan prodi dan universitas yang dipilih. Rachma hanya berharap bisa lolos masuk PTN tahun ini.

Rachma mengungkapkan sempat membuat simulasi terkait peluangnya lolos SBM PTN tahun ini. Dia memanfaatkan sejumlah website yang menawarkan jasa simulasi itu. ’’Hasilnya, saya pasrah. Karena nilai saya memang berada di bawah,’’ ucapnya.

Menurut dia, nilainya berada di bawah saat simulasi pemeringkatan. Lantas, dia menyadari bahwa peluangnya untuk lolos SBM PTN sangat kecil. Namun, bagi dia, yang terpenting adalah sudah berusaha dan pasrah apa pun hasilnya nanti.

Kesibukan menghadapi SBM PTN 2019 juga dialami Irfan. Padahal, dia telah berstatus mahasiswa. Irfan tidak sibuk mendaftar untuk diri sendiri, tetapi mendampingi siswa yang akan melamar SBM PTN.

Irfan memiliki pengalaman mendampingi para siswa untuk mendaftar SBM PTN sejak 2016. Saat kuliah dia bekerja part time di sebuah bimbingan belajar (bimbel). ”Job desc-nya kebetulan ngedaftarin siswa-siswa bimbel ke SBM PTN dan jalur mandiri,” jelasnya.

Irfan mengakui, ada perbedaan yang signifikan antara sistem SBM PTN tahun ini dan sebelumnya. Menurut dia, pada sistem SBM PTN sebelumnya, pusingnya cuma sekali. Siswa menentukan jurusan dan universitas, selanjutnya tinggal mengikuti ujian SBM PTN yang digelar serentak dan menunggu pengumuman. ”Tapi, kalau sekarang pusingnya jadi banyak,’’ katanya, lantas tertawa.

Irfan mengatakan, saat ini siswa mendaftar dan mengikuti ujian tulis berbasis komputer (UTBK) dua kali. Meski tidak wajib dua kali, ada kecenderungan siswa ikut dua kali. Berharap pada ujian kedua nilainya lebih baik. Alasannya, sudah mengetahui gambaran soal seperti saat ujian pertama.

Nah, ketika pendaftaran SBM PTN dibuka, siswa tidak kalah pusingnya dengan saat pelaksanaan UTBK. Saat ini anak-anak dibuat pusing karena harus membuat simulasi atau kalkulasi nilai. Sebab, informasi yang beredar, untuk tiap-tiap subtes UTBK berlaku pembobotan meski tidak signifikan.

Menurut Irfan, sistem yang baru memang memiliki sisi positif. Yakni, transparansi. Sebelum mendaftar SBM PTN, siswa mengetahui nilai ujian atau kemampuan mereka seperti apa. Yang mendapat nilai pas-pasan atau di tengah-tengah harus jeli memilih jurusan dan kampus mana.

Sistem penilaian dan materi ujian SBM PTN saat ini, kata dia, juga berbeda. Saat berlaku sistem minus alias jawaban salah mendapat nilai -1, peserta SBM PTN sangat berhati-hati dalam menjawab. Sebaliknya, ketika saat ini tidak berlaku sistem minus, kualitas hasil ujian menurun.

Irfan menuturkan, dengan dihapusnya sistem minus, tidak sedikit peserta yang menjawab asal. ”Karena faktanya (sekarang, Red) gak sedikit orang yang ngasal blok jawaban,’’ tutur pria yang pernah terlibat dalam tim koreksi SBM PTN 2017 itu. Misalnya, ada peserta UTBK yang ngeblok jawaban B semua. Ternyata, dengan cara tersebut, yang bersangkutan mendapatkan nilai besar.

Menurut dia, jawaban ngasal yang kebetulan benar bisa jadi mendapatkan bobot nilai tinggi. Sebab, tidak banyak peserta UTBK lain yang menjawab benar pada soal tersebut. Sebagaimana diketahui, LTMPT selaku pelaksana UTBK membuat aturan semakin sedikit orang yang menjawab benar sebuah butir soal, soal itu memiliki bobot besar. Sebab, soal itu dianggap memang sulit.

Meski begitu, Irfan mengapresiasi sistem baru saat ini. Sebab, pelaksanaan ujiannya berbasis komputer. Teknis pengerjaannya lebih mudah. Tidak perlu membulati lembar jawaban. Ujian berbasis komputer juga bisa menekan potensi human error yang memicu lembar jawaban pensil tidak terbaca saat dipindai.

Dia memiliki pengalaman bahwa banyak lembar jawaban tidak layak dikoreksi karena rusak atau sebab lainnya. Akibatnya, nilai ujian peserta SBM PTN yang bersangkutan tidak keluar. (wan/han/c10/fal)


BACA JUGA

Sabtu, 20 Juli 2019 13:10

TENANG AJA..!! Bank Mandiri Pastikan Rekening Nasabah Aman

PROKAL.CO, SAMARINDA - Bank Mandiri memastikan rekening nasabahnya tetap aman…

Sabtu, 20 Juli 2019 11:49

Hongkong Bergolak, Bisnis dan Wisata Lesu

Aksi massa penolakan RUU Hongkong berdampak luar biasa. Wisatawan takut…

Sabtu, 20 Juli 2019 11:36

Ratusan Pesawat Boeing Dikandangkan

NEW YORK – Boeing, perusahaan pesawat terbesar di dunia, mengalami…

Sabtu, 20 Juli 2019 11:33

Endus Kecurangan setelah PPDB, Ombudsman Bakal Gandeng Saber Pungli

Siswa-siswa titipan diduga masuk melalui pintu belakang setelah masa penerimaan…

Sabtu, 20 Juli 2019 11:32

Sani Jadi Sekprov, Pemprov Hemat Bicara

SAMARINDA–Gubernur Kaltim Isran Noor menanggapi santai pelantikan Abdullah Sani sebagai…

Sabtu, 20 Juli 2019 11:28

Luas Areal Pertambangan Diklaim Menyusut

SAMARINDA – Evaluasi izin usaha pertambangan (IUP) batu bara oleh…

Sabtu, 20 Juli 2019 11:25

Cuaca Panas Sambut Jamaah, CJH Lansia Bertumbangan di Masjidilharam

BALIKPAPAN – Raut tegang bercampur gembira menghias wajah 449 calon…

Jumat, 19 Juli 2019 23:45

Pindah Ibu Kota Diputus Agustus

Percepatan pemindahan ibu kota dinilai perlu ditangani kementerian khusus. Agar…

Jumat, 19 Juli 2019 23:23
Nawawi Pomolango, Capim KPK Asal Balikpapan yang Adili Mantan Ketua DPD---sub

Bermodal Pengalaman Jadi Hakim, Ingin Miskinkan Koruptor

Tiga puluh tahun berkarier sebagai pengadil. Ragam kasus ditangani. Nawawi…

Jumat, 19 Juli 2019 23:21

Soal Sistem PPDB, Sekolah Angkat Tangan

BALIKPAPAN – Kasus calon peserta didik ditolak masuk di sekolah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*