MANAGED BY:
JUMAT
19 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SAMARINDA

Minggu, 16 Juni 2019 05:00
Menata yang Kumuh Tanpa Menggusur, Bisa..?
Apri Gunawan

PROKAL.CO, Oleh Apri Gunawan*

Perkembangan wilayah kota yang dinamis membawa berbagai macam dampak bagi pola kehidupan masyarakat. Wilayah perkotaan yang merupakan sentra dari kegiatan ekononomi menjadi daya tarik bagi masyarakat, sehingga menyebabkan tingginya angka urbanisasi. Ledakan jumlah penduduk dengan tidak diimbangi ketercukupan lahan permukiman, menjadikan kawasan yang seharusnya bukan lokasi permukiman seperti sepadan sungai akhirnya dipenuhi bangunan tempat tinggal.

Kawasam kumuh merupakan masalah yang dihadapi semua kota-kota besar di Indonesia. Tak terkecuali Kota Samarinda. Telaah tentang kawasan kumuh pada umumnya mencakup tiga aspek. Pertama, kondisi fisik berupa bangunan dan sarana pendukungnya. Kedua, kondisi sosial ekonomi dan budaya komunitas yang bermukim di permukiman tersebut dan ketiga, dampak kedua kondisi tersebut.

Oleh karena itu, setiap membicarakan kawasan kumuh selalu identik dengan kondisi yang mengiringinya yaitu padat dan juga miskin.

 

KEKUMUHAN BANTARAN SUNGAI KARANG MUMUS

Lingkungan permukiman kumuh dapat diidentifikasi sebagai lingkungan yang berpenghuni padat (melebihi 500 org per hektare), kondisi sosial ekonomi masyarakat yang rendah, jumlah rumahnya sangat padat dan ukurannya di bawah standar, sarana prasarana tidak memenuhi syarat teknis dan kesehatan serta hunian dibangun di atas tanah milik negara atau orang lain di luar perundang-undangan yang berlaku. Luas permukiman kumuh yang ada di Kota Samarinda hampir mencapai 90% dari ± 35 KM panjang Sungai Karang Mumus dari Waduk Benanga hingga muara Sungai Mahakam.

 

MENATA DENGAN KEARIFAN LOKAL

Kota Samarinda yang termashur karena khasanah budaya serta pusat Pemerintahan dan gerbang pintu masuk menuju 3 Kabupaten Kota Besar di Provinsi Kalimantan Timur (Kutai Kartanegara, Balikpapan dan Bontang) seharusnya mampu menjadi contoh dalam penataan kawasan kumuh tanpa harus menggusur. Kekuatan gotong-royong sebagai bentuk saling menghormati dan menghargai harus dijadikan khasanah kekayaan sosial budaya sebagai modal dasar dalam penataan kawasan kumuh.

Dalam menangani kawasan kumuh apabila dipercaya menjadi Walikota Samarinda akan meluncurkan program penataan melalui konsep Mundur dan Menghadap Sungai (M2). Melalui konsep ini, diharapkan permukiman mundur atau tidak berada di sepadan sungai, melalui konsep rumah susun dan menghadap sungai. Kenapa menghadap sungai? Supaya sungai dijadikan halaman depan, sehingga selalu terawat dengan baik.

Belajar dari berbagai kota Besar di Indonesia tentang penataan kawasan pemukiman pinggir sungai kita dapat belajar bahwa penyusunan Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman (RTLP) sebagai basis perencanaan masyarakat (community action plan), masyarakat dilibatkan secara aktif dalam setiap tahapan perencanaan. Diharapkan masyarakat mampu mentransformasi program penataan kawasan kumuh menjadi loncatan dalam membangun kampung yang bervisi jangka panjang. Melalui strategi merangkul semua komponen untuk bersamasama terlibat secara aktif dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program, penataan dapat berjalan dengan baik. Sehingga dapat kita rumuskan sesungguhnya menata kawasan kumuh di perkotaan bisa dilakukan tanpa harus menggusur. Asalkan masyarakat dilibatkan dan pemerintah juga mau mendengarkan aspirasi dari warganya. Dengan cara ini diyakini aksi penolakan oleh warga bantaran sungai tidak akan menolak untuk ditata. (***)

Ketua IPDP Kaltim Kota Samarinda


BACA JUGA

Jumat, 19 Juli 2019 11:00

Pemindahan Warga Bantaran SKM, Warganya Dipindah Kemana?

SAMARINDA–Pemindahan warga bantaran Sungai Karang Mumus (SKM) segmen Gang Nibung…

Jumat, 19 Juli 2019 10:57

Ini Kabar Terbaru Kasus Dugaan Korupsi Hibah NPC

SAMARINDA-Dugaan penyelewengan dana hibah di National Paralympic Committee (NPC) Kaltim,…

Kamis, 18 Juli 2019 13:46

Sabani Masih Menempati Ruang Kerja Sekdaprov Kaltim

PROKAL.CO, SAMARINDA - Meski telah dilantik oleh Menteri Dalam Negeri…

Kamis, 18 Juli 2019 11:17

Penanganan Tepi SKM Masuk Program Kotaku

Pengerukan aliran Sungai Karang Mumus (SKM), dalam program normalisasi sungai…

Kamis, 18 Juli 2019 11:16

YouTube Bawa Ajeng ke Negeri Panser

Ulang tahun Ajeng Dyah Sinta Asri kali ini berbeda. Sebab,…

Kamis, 18 Juli 2019 11:15

Tertibkan 35 Bangunan Liar di Polder Air Hitam

SAMARINDA–Bangunan liar yang menjamur di Polder Air Hitam, Jalan AW…

Kamis, 18 Juli 2019 11:14

Ternyata..!! Petugas Terima Fee dari Aktivitas Pengetap

SAMARINDA–Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab. Arif Mahfud tidak bisa…

Kamis, 18 Juli 2019 11:13
Maraknya Aktivitas Peredaran Narkoba di Jantung Kota

Pasar Segiri “Dibom” Polisi

SAMARINDA–Sebagai pusat perdagangan, Pasar Segiri yang berada di pusat kota…

Kamis, 18 Juli 2019 10:05

200 Kader PKS Ramai-Ramai Keluar dari Partai, Ini Alasannya

PROKAL.CO, SAMARINDA - Sekitar 200 kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS)…

Rabu, 17 Juli 2019 12:05

Air PDAM “Hidup-Mati” Warga Tersulut Emosi

  SAMARINDA–Berhari-hari air distribusi dari PDAM Tirta Kencana mati. Kondisi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*