MANAGED BY:
JUMAT
19 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Minggu, 16 Juni 2019 12:36
Banjir, Slogan, dan Kritik
Dwi Restu Amrullah *)

PROKAL.CO, KALAU tidak banjir, bukan Samarinda namanya, Ikam hanyarkah di Samarinda (Anda baru di Samarinda). Kalimat-kalimat itu semakin akrab di telinga. Ditambah meme pak wali kota tercinta, Syaharie Jaang, diikuti tulisan nyeleneh.

Warga ibu kota Kaltim tampak begitu akrab dengan banjir. Padahal, banjir itu musibah yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Baru-baru ini, pemkot lagi-lagi kebanjiran. Tagar #samarindacalap bahkan sempat trending topic. Ide-ide kreatif anak Kota Tepian pun bermunculan kala genangan sudah lebih sepekan.

Seseorang bermain wakeboard. Olahraga mirip ski air yang sejatinya biasa dilihat di pantai atau sungai-sungai besar dan ditarik kapal, Fahri Ramadhan memainkannya di atas banjir. Tepat di persimpangan Mal Lembuswana. Pemandangan yang sangat asing terjadi. Nyatanya ada.

Bukan ditarik speedboat, melainkan mobil. Persimpangan itu memang kawasan yang juga lumpuh ketika banjir. Cara itu memang benar sebagai bentuk keresahan pemuda asli kelahiran Kota Tepian itu. Karena banjir memang bukan hal baru. Itu baru satu.

Lainnya ada pula video percakapan orang luar negeri. Mempertanyakan keberadaan bapak wali kota Samarinda tercinta. Saya pun sempat merasa aneh dengan mengutus sekretaris daerah (sekda) untuk menangani korban banjir. Banyak pula masyarakat yang bertanya, kemana Pak Jaang?

Saya yakin, Pak Jaang juga pasti kepikiran dengan kondisi Samarinda yang sedang terendam banjir. Namun, kepergiannya ke Jerman, tak juga bisa disalahkan. Toh sudah ada perwakilan pemerintah yang selalu mengontrol kondisi banjir.

Saya ingat saat hari ketiga setelah Lebaran. Sugeng Chairuddin langsung hadir ke Bengkuring, Sempaja Timur, Samarinda Utara. Ada warga yang menyampaikan keluh kesahnya. Nuripto, salah satunya. Dia menyebut, analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) di kawasan Sempaja Timur, Samarinda Utara, tidak diperhatikan secara jangka panjang.

Dia secara khusus bahkan menuturkan, mengapa ada perumahan di kawasan Bengkuring yang sejatinya adalah daerah rawa, daerah yang sering jadi tempat persinggahan air. “Faktor tambang juga harus diperhatikan, Mas,” tuturnya. Semua aspirasi warga jadi evaluasi ke depannya.

Namun, pemerintah tidak seutuhnya bisa disalahkan. Budaya masyarakat yang juga sudah seharusnya berubah. Yakni, tidak membuang sampah ke sungai. Karena tidak sulit memasukkan sampah ke tempatnya. Terlebih, anggaran yang dibutuhkan untuk penanganan banjir tak sedikit.

Di tengah-tengah pemerintah daerah teriak-teriak defisit anggaran, namun masalah banjir membutuhkan dana cukup banyak. Mencapai Rp 1,5 triliun. Efeknya tentu aliran air yang bermasalah. Akhirnya meluber sampai ke jalanan. Selama banjir, masyarakat Samarinda jadi dapat wahana bermain air.

Sangat jarang terlihat perahu bermesin melintas di Jalan Ahmad Yani atau di Jalan Hasan Basri. Satu yang membuat saya tergelitik. Yakni, penjelasan Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi yang baru tiba dari Makassar langsung mengunjungi posko induk. “Kalau perlu, SKM itu dijadikan wisata air,” ujarnya.

Karena menurut orang nomor dua di Kaltim itu, masalah banjir harus dipikirkan mulai sekarang. Namun, saya harus apresiasi, pemerintah tidak cuek dengan yang musibah yang masih melanda sebagian masyarakat Samarinda. Warga yang terdampak juga “banjir” bantuan. (*/kri/k8)

*) Penulis: wartawan Kaltim Post


BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2012 07:14

Sambaliung-Gunung Tabur Bakal Terhubung

<div> <div> <strong>TANJUNG REDEB</strong> - Selain Pembangunan Jembatan Kelay…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*