MANAGED BY:
KAMIS
27 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Selasa, 28 Mei 2019 14:57
Dari Mengaji Mereka Mengharumkan Nama Kaltim di Tingkat Dunia: Syahroni (2)
Gelar Juara Diakui Tak Lepas dari Hobi Nyanyi
Syahroni

PROKAL.CO, Ramadan tahun ini, sangat lengkap bagi Syahroni. Ustaz perantauan asal Banten yang sudah satu dekade berdiam di Samarinda itu berhasil menyabet juara satu Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Asia yang dihelat di Bahrain.

DWI RESTU, Samarinda

 

 

PERJALANAN menekuni agama sudah sejak kecil. Setelah lulus dari madrasah ibtidaiyah (MI) di kampung halamannya, Lebak, Banten. Syahroni kecil melanjutkan ke pondok pesantren. Di sana, menimba ilmu agama lebih dalam. Meski lebih dominan dorongan orangtua, untuk menekuni ilmu di pondok pesantren, Syahroni ikhlas menjalani.

Tak pernah berharap ikut di perlombaan, pria kelahiran 3 Juli 1980 itu malah bikin bangga Merah Putih. “Pondok pesantren itu bikin betah,” tuturnya saat ditemui di Masjid Al Husna, Jalan Juanda 8, Samarinda Ulu, Kamis (23/5).

Hal yang membuatnya berkesan adalah ketika berada di pondok. Syahroni selalu mengikuti apa yang diperintahkan gurunya. “Saya ini rajin lho, Mas, dulu pas di pondok,” ujarnya diikuti senyum.

Namun, tetap ada hal yang menurutnya tak bisa dilupakan. Bernyanyi. Menyanyi sudah sering dia suarakan. Syahroni mengakui, mampu menjuarai berkat hobinya dulu. Lagu ber-genre dangdut. Ketika menggembala kambing atau kerbau, lagu dangdut terdengar merdu. Judulnya Duda dan Di Langit Ada Matahari. “Kalau alasannya pilih lagu itu, jangan ya, Mas,” ucapnya diikuti tertawa kecil. Namun, lagunya tetap mengandung kasidah.

Dangdut, baginya penuh cengkok dan lekukan nada yang luar biasa. Tak dimungkiri, hal itu terpengaruh setiap dia mengikuti ajang perlombaan MTQ. “Sudah kebiasaan, Mas,” ujarnya. Bernyanyi membuatnya melatih napas dan lekukan setiap bacaan. Dia juga dikenal badung ketika di pondok. Seperti anak pada umumnya. “Curi buah di pohon orang pernah, kelahi,” bebernya.  

Pada 2009, hatinya memantapkan untuk merantau ke Kota Tepian. Menjadi tenaga pengajar di salah satu pondok pesantren di kawasan Sungai Kunjang. Setahun silam, keinginannya untuk mengikuti lomba MTQ di tingkat kecamatan diikuti. “Pertama lomba itu di Tanah Merah, Samarinda dan juara satu,” tuturnya.

Syahroni semakin mantap mengikuti lomba di tingkat kota. Meski hanya mendapat juara dua, dia tetap yakin hingga MTQ di tingkat provinsi. “Lomba juga tidak ada permintaan dari tempat mengajar, murni karena keinginan saya,” ungkapnya. Namanya mewakili Samarinda hingga tingkat nasional, yang belum lama ini digelar di Medan, Sumatra Barat.

 “Itu hanya juara tiga. Tapi juara satu, dua, tiga, dan harapan satu dapat kesempatan mewakili Indonesia di tingkat internasional,” ungkap Syahroni. “Tidak pernah mengira, tapi itulah rezeki dari Allah SWT,” sambungnya.

Di Bahrain, negara yang menurut ayah satu anak itu terbilang baru melaksanakan lomba MTQ tingkat internasional. Tampak tidak sesuai kategori. “Masih jadi satu semua,” ungkapnya. Tujuh negara yang ikut berlomba. Setiap masing-masing negara, diwakili empat orang.

Tapi untuk di Bahrain, perwakilan dari Indonesia juga ada dari juara-juara tingkat nasional tahun sebelumnya. “Saya juga harus bertanding dengan rekan satu negara. Agak canggung,” sebutnya.

Kompetisi hanya mengenal satu juara. Syahroni tetap fokus mengikuti perlombaan. Dua hari babak penyisihan, namanya pertama kali disebut untuk lolos ke fase final. Dan hanya ada tiga negara yang tampil di final. Yakni Malaysia, Thailand, dan Indonesia.

Satu cerita yang membuatnya percaya diri membawa pulang juara satu ke Indonesia. “Sebelum bertanding di final, saya ditarik ke salah satu sudut tempat acara. Di situ saya diminta mengaji. Padahal acara belum dibuka,” tuturnya.

Syahroni langsung ke podium, melantunkan ayat suci Alquran. Suara indahnya membuat ratusan pasang mata tertuju padanya. Padahal, suaranya kali itu, Syahroni merasa tak sebaik saat penyisihan. Gugup jelas dirasakan ustaz yang punya hobi olahraga berenang itu. “Itu event internasional saya pertama kalinya,” ujarnya.

Yang membuatnya frustrasi adalah saat perwakilan dari Thailand diminta mengaji di depan para juri. “Nah itu pas di final sudah dibuka sama panitia. Waktu saya tampil itu belum dibuka,” ujarnya.

Rasa cemas dan pasrah tak meraih juara sudah muncul di benaknya. Syahroni tak menyangka, saat namanya mendapat predikat juara satu di ajang MTQ tingkat Asia itu. Spontan, sujud syukur dia lakukan. Kabar mendapat gelar juara mewakili Indonesia, sampai ke Indonesia, khususnya Kota Tepian. Media sosial (Instagram) Syahroni banjir pujian.

MTQ bagi Syahroni, bukan sekadar ajang membaca Alquran. “Itu sebuah metode bagi siar Islam. Membaca dengan fasih,” ungkapnya. Hasil kerja keras selama berbulan-bulan, dengan keteguhan dan kepercayaan tinggi, ustaz 39 tahun itu mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Menurutnya, berhasil menjuarai event internasional pertama kalinya itu tak lepas dari doa seorang ibu. Kebiasaan Syahroni mencium kaki ibunya diakui sebagai doa paling mujarab. “Karena doa ibu itu selalu diijabah,” sambungnya. Pria yang juga imam masjid itu masih punya keinginan. Bertanding di Malaysia.   “Di Malaysia itu perkumpulannya para juara-juara MTQ,” tuturnya. Namun, untuk mengikuti event internasional, setiap peserta harus kembali mengawali lomba tingkat kecamatan. (rom/k16)


BACA JUGA

Senin, 24 Juni 2019 13:20
Oleh-Oleh dari Junior Recital Violin Classic

Menggesek Biola Tidak Sembarangan, Mood Mesti Dijaga

Memiliki kepercayaan diri dan menghargai pencapaian yang dimiliki selama ini,…

Kamis, 13 Juni 2019 14:21

Festival Balon, Jalan Tengah untuk Melestarikan Tradisi dan Menjaga Keamanan Penerbangan

Festival di Ponorogo dan Pekalongan berlangsung tanpa melanggar aturan tentang…

Minggu, 02 Juni 2019 17:39
Kisah Asmuni Membangun Rumah Makan Sukma Rasa

Dari Jualan Keripik, Pernah Jadi TKI, hingga Sukses di Usaha Kuliner

Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Asmuni, pemilik Rumah Makan Sukma…

Sabtu, 01 Juni 2019 13:23

Ini Cerita Petualangan Matteo Nanni Bermotor dari Italia ke Indonesia

Dari Italia, Matteo Nani sudah berkendara enam bulan hingga sampai…

Selasa, 28 Mei 2019 14:57
Dari Mengaji Mereka Mengharumkan Nama Kaltim di Tingkat Dunia: Syahroni (2)

Gelar Juara Diakui Tak Lepas dari Hobi Nyanyi

Ramadan tahun ini, sangat lengkap bagi Syahroni. Ustaz perantauan asal…

Senin, 27 Mei 2019 15:46
Mahmud ”Hypegrandy”, Kakek Gaul Penggemar Gaya Hypebeast yang Viral

Dandanan Boleh Kekinian, tapi Hobi Tetap Ternak Burung

Kemeja, celana bahan, dan sepatu pantofel tampaknya sudah so yesterday…

Minggu, 26 Mei 2019 13:31
Mencicipi Pengalaman Ramadan di Oxford (2–Habis)

Gelar Kajian Quran Sebelum Berbuka Puasa

SEPERTI umumnya kegiatan muslim di berbagai negara, kami juga menjalani…

Kamis, 23 Mei 2019 11:24
Bilkis Bano, Tunggu Keadilan Selama 17 Tahun

Dapat Rumah, Pekerjaan, Kompensasi Miliaran

Kerusuhan di Gujarat, India, 2002 lalu telah merenggut kehormatan dan…

Kamis, 16 Mei 2019 14:55
Berbincang dengan dr Joseph, Bule Brazil Penjaga Pohon Kurma di Islamic Center

Bule Rawat 165 Pohon Kurma tanpa Digaji, Yakin Kurmanya Berbuah Tiga Tahun Lagi

Masjid Hubbul Wathan Islamic Center ditanami 165 pohon kurma. Uniknya,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*