MANAGED BY:
KAMIS
27 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Kamis, 23 Mei 2019 11:24
Bilkis Bano, Tunggu Keadilan Selama 17 Tahun
Dapat Rumah, Pekerjaan, Kompensasi Miliaran
Bilkis Bano

PROKAL.CO, Kerusuhan di Gujarat, India, 2002 lalu telah merenggut kehormatan dan nyawa hampir seluruh keluarga Bilkis Bano. Setelah belasan tahun, dia baru mendapat keadilan.

 

TAK ada senyum bahagia di wajah Bilkis Bano saat beberapa media datang ke rumahnya. Bano menjadi sorotan khalayak. Mahkamah Agung (MA) India baru-baru ini memutuskan bahwa dia berhak mendapat kompensasi USD 71 ribu (Rp 1, 031 miliar), pekerjaan di pemerintahan, dan sebuah rumah yang lokasinya sesuai dengan keinginan Bano.

Yang membayar semuanya adalah pemerintah Gujarat, India. Itu adalah kompensasi terbesar yang pernah diberikan kepada korban kerusuhan maupun pemerkosaan.

’’Saya senang dengan keputusan tersebut. Ada banyak teman, aktivis perempuan, dan petugas yang membantu saya mendapatkan keadilan,’’ tegas perempuan 36 tahun itu seperti dikutip Al Jazeera.

Bano memang patut senang. Setelah 17 tahun berjuang, dia akhirnya mendapat keadilan.

Bano adalah korban pemeriksaan masal saat terjadi kerusuhan di Gujarat 2002 lalu. Sebanyak 13 anggota keluarganya dibantai saat itu. Termasuk putrinya yang masih berusia 3 tahun. Karena itu, meski keadilan berada di pihaknya, dia tak bisa benar-benar bersukacita. Sebab, orang-orang yang dicintainya tak akan pernah kembali ke pelukannya.

Kepada media, Bano menceritakan pengalamannya saat kerusuhan antaragama di Gujarat terjadi pada 2002. Kala itu dia masih berusia 19 tahun dan hamil 5 bulan.

Semua bermula saat kereta yang berisi 60 umat Hindu terbakar. Mereka marah dan menuduh umat muslim sebagai pelakunya. Pembantaian berkobar dengan cepat.

Bano dan keluarganya adalah muslim yang tinggal di tengah-tengah komunitas Hindu. Mereka meninggalkan rumah di Desa Randhikpur, Gujarat, saat situasi memanas. Umat Hindu mencari rumah-rumah dan properti warga muslim di tiap-tiap desa dan membakarnya. Bano dan keluarganya mengungsi di rumah sepupunya, Shamim, yang terletak di desa lain.

Shamim baru saja melahirkan. Dua hari kemudian, mereka membawa bayi itu pulang ke rumah. Nahas, di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan segerombolan umat Hindu yang berang. Umat Hindu itu membawa pedang dan sabit. Keluarga Bano diserang. Hampir semua yang ada saat itu dibunuh. Termasuk putri Bano yang masih berusia 3 tahun dan bayi Shamim yang berusia 2 hari.

Bano yang tengah hamil tua diperkosa ramai-ramai. Dia selamat karena pura-pura mati sebelum akhirnya pingsan. Kerusuhan di Gujarat itu mengakibatkan setidaknya 2 ribu orang kehilangan nyawa. Mayoritas adalah muslim.

’’Mereka membunuh keluarga saya, putri saya. Mereka bahkan tak mengizinkan kami membersihkan jenazahnya dan menguburkannya. Bagaimana saya bisa melupakan hal itu,’’ tegasnya.

Begitu situasi mulai tenang, Bano melapor kepada polisi. Sayang, laporannya tak digubris. Dia dan suaminya akhirnya melapor ke Komisi HAM. Lembaga tersebutlah yang membuat petisi ke MA agar kasus Bano dimejahijaukan.

Pada 2017, 11 tersangka pemerkosa Bano akhirnya dinyatakan bersalah dan dihukum penjara seumur hidup. Sebagian besar para pelaku itu adalah tetangga Bano sejak kecil.

Dibutuhkan perjuangan keras bagi Bano untuk mencari keadilan. Dia berkali-kali mendapat ancaman pembunuhan. Karena itu, dia dan seluruh keluarganya kerap berpindah-pindah rumah. Meski begitu, tidak pernah terlintas dalam kepalanya untuk menyerah.

Rencananya, Bano membuat simpanan khusus yang ditujukan kepada para korban pemerkosaan di India. Diharapkan, uang itu bisa membantu para korban untuk memulai proses hukum. ’’Mereka (korban pemerkosaan) harus berjuang seperti yang saya lakukan. Mereka harus punya keberanian. Jika tidak ada, saya yang akan memberi,’’ tegasnya. (sha/c19/dos)


BACA JUGA

Senin, 24 Juni 2019 13:20
Oleh-Oleh dari Junior Recital Violin Classic

Menggesek Biola Tidak Sembarangan, Mood Mesti Dijaga

Memiliki kepercayaan diri dan menghargai pencapaian yang dimiliki selama ini,…

Kamis, 13 Juni 2019 14:21

Festival Balon, Jalan Tengah untuk Melestarikan Tradisi dan Menjaga Keamanan Penerbangan

Festival di Ponorogo dan Pekalongan berlangsung tanpa melanggar aturan tentang…

Minggu, 02 Juni 2019 17:39
Kisah Asmuni Membangun Rumah Makan Sukma Rasa

Dari Jualan Keripik, Pernah Jadi TKI, hingga Sukses di Usaha Kuliner

Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Asmuni, pemilik Rumah Makan Sukma…

Sabtu, 01 Juni 2019 13:23

Ini Cerita Petualangan Matteo Nanni Bermotor dari Italia ke Indonesia

Dari Italia, Matteo Nani sudah berkendara enam bulan hingga sampai…

Selasa, 28 Mei 2019 14:57
Dari Mengaji Mereka Mengharumkan Nama Kaltim di Tingkat Dunia: Syahroni (2)

Gelar Juara Diakui Tak Lepas dari Hobi Nyanyi

Ramadan tahun ini, sangat lengkap bagi Syahroni. Ustaz perantauan asal…

Senin, 27 Mei 2019 15:46
Mahmud ”Hypegrandy”, Kakek Gaul Penggemar Gaya Hypebeast yang Viral

Dandanan Boleh Kekinian, tapi Hobi Tetap Ternak Burung

Kemeja, celana bahan, dan sepatu pantofel tampaknya sudah so yesterday…

Minggu, 26 Mei 2019 13:31
Mencicipi Pengalaman Ramadan di Oxford (2–Habis)

Gelar Kajian Quran Sebelum Berbuka Puasa

SEPERTI umumnya kegiatan muslim di berbagai negara, kami juga menjalani…

Kamis, 23 Mei 2019 11:24
Bilkis Bano, Tunggu Keadilan Selama 17 Tahun

Dapat Rumah, Pekerjaan, Kompensasi Miliaran

Kerusuhan di Gujarat, India, 2002 lalu telah merenggut kehormatan dan…

Kamis, 16 Mei 2019 14:55
Berbincang dengan dr Joseph, Bule Brazil Penjaga Pohon Kurma di Islamic Center

Bule Rawat 165 Pohon Kurma tanpa Digaji, Yakin Kurmanya Berbuah Tiga Tahun Lagi

Masjid Hubbul Wathan Islamic Center ditanami 165 pohon kurma. Uniknya,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*