MANAGED BY:
KAMIS
27 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Selasa, 21 Mei 2019 11:22
Ayat Anti-hoax
Syafril Teha Noer*

PROKAL.CO, Catatan

Syafril Teha Noer*

Al WALID bin Uqbah dapat tugas dari Rasulullah Muhammad SAW. Mengambil zakat tahunan dari Bani Musthaliq. Alih-alih menuntaskannya, Walid berbalik saat tiba di depan gerbang pemukiman kabilah itu. Pulang seraya membawa dalih; Bani Musthaliq telah murtad. Menunggunya dengan pedang. Bersiap membunuhnya.

Rasulullah masygul. Lalu bersurat, mempertanyakan. Tak lama balasan tiba. Dikirim pemimpin Bani Musthaliq. Al Harits namanya. Isinya meluruskan. Kerabat Musthaliq justru menyongsong Walid dengan pundi-pundi zakat. Tentang pedang, “Lha itu ‘kan perkara biasa di kalangan kabilah? Lagipula, toh tersarung? Tidak terhunus? Masih tergantung di pinggang!” jawab Harits, kira-kira.

Untuk memastikan validitas keterangan ini Rasulullah mengutus Khalid bin Walid. “Tiba di sana menjelang Magrib. Aku mendengar azan, tak lama setelah mereka terima. Selagi di sana aku juga mendengar azan Isya,” lapor Khalid yang kembali sambil membawa zakat Bani Musthaliq. Dia menyimpulkan, Bani Musthaliq tidak murtad.

Hubungan moyang Walid dengan Bani Musthaliq memang tak baik sejak lama. Dilatari persaingan antar-kabilah, pergaulan mereka melulu diwarnai pertikaian. Tapi riwayat kabilah Walid sendiri parah. Ayahnya, Uqbah, dikenal karena pembangkangan dan gangguan terhadap kaum muslim. Dia mati karena hukum penggal. Adapun kerabat Musthaliq relatif konsisten taat.

Kuat dugaan, Walid telah terperangkap masa silam kabilahnya sendiri. Pengakuan bahwa dia telah diterima dengan pedang adalah manipulasi fakta, framing berbasis dendam.

Banyak tafsir menyimpulkan kabar bohong, hoax, yang disampaikan Walid tentang pembangkangan Bani Musthaliq melatari turunnya ayat anti-hoax, ayat keenam Surah Al Hujurat;

Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan-(sebenar)-nya, tersebab kamu menyesali perbuatanmu itu”.

Tak ayal, Walid adalah sosok fasik hasil OTT (operasi tangkap tangan), melalui kebijakan dan langkah tabayun, verifikasi, langsung oleh Rasulullah.

Fasik berasal dari kata Arab – fisq atau fusuq. Artinya, sesuatu yang rusak. Islam merumuskan dua jenis kefasikan. Pertama, fasik kabir. Kedua fasik shagir. Fasik besar dan fasik kecil. Fasik besar setara dengan musyrik, kafir. Adapun fasik kecil adalah segenap perilaku dosa besar non-musyrik – mengakui ketuhanan Allah, namun membangkangi perintah dan larangan-Nya.

“Dan sungguh Kami telah turunkan kepadamu ayat-ayat yang nyata, dan tidaklah mengkafirinya kecuali orang-orang fasik” – (Al Baqarah 99).

Penyebaran kabar bohong, rumor, adu domba sesama muslim, seperti yang dilakukan Walid, tergolong fasik kecil. Tercakup dalam grup kelakuan ini adalah judi, tuduhan zina tanpa minimal empat saksi, membangkang perintah dan larangan, merekayasa ajaran, serta mengutamakan ‘pasal’ hukum di luar hukum Allah.

Perhatikan. Padahal, sebagaimana disebut sebagian riwayat, Walid itu masih terbilang saudara seibu Khalifah Utsman bin Affan, lho. Dan Utsman adalah satu dari empat penerus kepemimpinan Rasulullah – bersama Abubakar Ash Shiddiq, Umar bin Khatab, dan Ali bin Abi Thalib. Artinya, yang ‘dekat’ radius Rasulullah saja terjerembab, bagaimana muslim hari-hari ini bisa dipastikan bebas fasik?

Untunglah Rasulullah mengusahakan konfirmasi kabar itu kepada Harits. Untunglah Rasulullah melakukan check and re-check, dengan mengutus Khalid bin Walid. Untunglah Rasulullah menegakkan hukum dengan ketajaman yang sama terhadap siapa pun, tidak tebang-tebang pilih. Untunglah Allah utus beliau sebagai imam muslim sejagat.

Untunglah pula Allah, melalui Kitab Suci Al Quran, tak kurang-kurang membekali muslim dengan rambu-rambu pengaman. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawaban” – (Al Baqarah 36). 

Jika ilmiah adalah apa saja yang berlandas pengetahuan, maka kaum muslim dengan begitu mestinya adalah masyarakat ilmiah. Ditambah lima ayat pertama Al ‘Alaq kaum muslim pun mestinya adalah masyarakat kaya referensi, terbiasa membaca;

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia yang menciptakanmu dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajari manusia, apa saja yang tidak diketahuinya”.

Akhirnya, di mana dan dengan apa saja profesi, kaum muslim mestinya adalah masyarakat dengan kemampuan menyaring dan menguji kebenaran kabar beredar. Lebih dari itu, mestinya, adalah juga para pendekar anti-hoax, anti adu-domba – sesadis apa pun persaingan politik membelah mereka. (***/rom)

 

*) Ketua Dewan Redaksi Kaltim Post

 

(Diolah dari khotbah Prof Dr H Rahmad Soe'oed MA di Masjid Al Fatihah Universitas Mulawarman, Samarinda, Jumat 17 Mei 2019, dengan tambahan referensi dari berbagai sumber).

 


BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2012 07:14

Sambaliung-Gunung Tabur Bakal Terhubung

<div> <div> <strong>TANJUNG REDEB</strong> - Selain Pembangunan Jembatan Kelay…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*