MANAGED BY:
KAMIS
27 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Sabtu, 27 April 2019 10:42
PAN Belum Keluar dari Koalisi Prabowo

Pertemuan Zulhas-Jokowi Munculkan Spekulasi

Zulkifli Hasan

PROKAL.CO, JAKARTA – Pertemuan antara Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) dan Joko Widodo (Jokowi) di istana Rabu lalu (24/4) menggegerkan berbagai pihak. Ada yang berasumsi bahwa pertemuan itu merupakan sinyal yang diberikan oleh Zulhas untuk keluar dari Koalisi Adil dan Makmur Prabowo-Sandi. Namun, pihak PAN belum mengeluarkan keputusan politik resmi terkait dengan hal tersebut.

”Tidak perlu ditafsirkan ke sana kemari. Belum ada keputusan politik apa pun yang sudah diambil PAN,” tegas Wasekjen DPP PAN Saleh Partaonan Daulay ketika dihubungi Jawa Pos kemarin (26/4). Zulhas saat itu datang ke istana untuk memenuhi undangan pelantikan gubernur Maluku. Selain menjadi ketua umum PAN, Zulhas menjabat ketua MPR. Bukan suatu hal yang janggal ketika ketua MPR hadir di pelantikan gubernur.

Saleh menjelaskan, itu merupakan pertemuan biasa. Selain memiliki kapasitas sebagai ketua MPR, Zulhas saat itu hanya ingin mempererat silaturahmi antara dirinya dan Jokowi dengan memenuhi undangan tersebut. Meski memang tidak bisa dielakkan bahwa keduanya terlibat percakapan yang cukup lama ketika bertemu di Istana Negara itu. ”Saya sendiri ditelepon langsung oleh Pak Zul agar tetap di daerah, menjaga suara PAN. Makanya, sekarang saya ada di Sumatera Utara,” jelas dia melalui sambungan telepon.

Saleh diminta untuk tidak terlalu ambil pusing terhadap opini yang berkembang. Sebab, PAN belum memberikan keputusan politik yang pasti. Karena itu, Saleh diminta untuk lebih berfokus mengawal penghitungan suara di wilayah yang menjadi dapilnya. Yakni, kawasan Sumatera Utara. ”Apa yang menarik dari pertemuan itu selain memperkuat silaturahmi antara kedua belah pihak?” tutur pria kelahiran Sibuhuan, Padang Lawas, Sumatera Utara, tersebut.

Dosen ilmu politik Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam punya pandangan lain. Dia menyebut pertemuan itu sebagai tantangan yang dilakukan oleh Zulhas terhadap kuatnya kepemimpinan informal Amien Rais di PAN. Selama Pemilu 2019, Amien memang menjadi orang pertama yang membenci kubu Jokowi-Ma’ruf. Itu digambarkan dengan dukungan partainya yang selalu getol ke kubu Prabowo-Sandi. ”Keputusan PAN mendukung Prabowo-Sandi itu kan tak terlepas dari kendali Amien Rais juga,” ucap Umam.

Jadi, manuver Zulhas saat ini dianggap sangat bertentangan dengan Amien. Itu sekaligus membuktikan kecenderungan arah koalisi politik keduanya yang sangat berbeda. Namun, hal tersebut tidak pernah bisa diekspresikan oleh Zulhas. Sebab, karir politik semua orang yang bertentangan dengan Amien di PAN sudah bisa dipastikan akan tumbang. Contohnya Soetrisno Bachir dan Hatta Rajasa. ”Tapi, kali ini Zulhas adalah besan Amien Rais. Ada political and psychological barrier di sana,” lanjut Umam.

Gerakan itu memang sengaja dilakukan lebih awal. Bahkan sebelum KPU menetapkan siapa yang memimpin di hari pemungutan suara 17 April lalu. Padahal, Umam menambahkan, menurut tradisi selama ini, pindah haluan politik akan dilakukan setelah menunggu penetapan hasil pemilu oleh KPU atau setidaknya sekitar enam bulan hingga setahun pascamunas atau muktamar tiap-tiap parpol. ”Mungkin PAN merasa tidak secure, ya,” celetuk pria yang juga peneliti di Indikator Politik Indonesia tersebut.

Sebab, saat ini pihak petahana mengusung 60 persen pendukung di parlemen. Bisa dipastikan, jika tidak segera bermanuver, PAN akan benar-benar tertinggal. Terlebih, jika melihat hasil quick count saat ini, lebih banyak yang memenangkan kubu 01 ketimbang 02. Dengan begitu, bisa dibilang, ada atau tidaknya PAN tidak akan berpengaruh ke dinamika relasi eksekutif-legislatif di tingkat parlemen. ”Menelisik catatan panjang pragmatisme PAN, hal itu sudah tidak mengagetkan. Itu merupakan kode PAN untuk berbalik arah,” ucap Umam.

Akan lebih mengagetkan lagi jika ternyata manuver Zulhas sepengetahuan Amien. Hal tersebut akan lebih menebalkan stereotipe oportunisme PAN. Khususnya setelah serangkaian serangan vulgar yang mereka tujukan ke kubu 01. Mulai serangan di reuni 212 hingga ancaman untuk people power. ”PAN memang dikenal sebagai partai papan tengah yang tidak punya sejarah kuat berpuasa dari kekuasaan. Mereka memiliki catatan panjang oportunisme,” terang Umam. (bin/c11/agm)


BACA JUGA

Rabu, 26 Juni 2019 15:37

Tolak Wacana Revisi UU MD3

JAKARTA – Wacana revisi Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2014…

Rabu, 26 Juni 2019 15:05

Mengorek Hasil Penelitian Balai Arkeologi Papua Dua Tahun Terakhir

Tak ada masa depan bila tak ada cerita masa lalu.…

Rabu, 26 Juni 2019 14:46

Berharap Kuota Tambahan Jadi Permanen

JAKARTA - Menteri Agama (Menag) berharap tambahan kuota haji sebanyak…

Rabu, 26 Juni 2019 14:46

Jaksa KPK Kembali Panggil Lukman dan Khofifah

JAKARTA – Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantsan Korupsi (JPU KPK)…

Rabu, 26 Juni 2019 14:43
KPK Terus Dalami Keterlibatan Pihak Lain

Yasonna dan Taufiq Effendi Penuhi Panggilan KPK

JAKARTA – Penyidikan kasus dugaan korupsi KTP elektronik atau e-KTP…

Rabu, 26 Juni 2019 14:36
Rekrutmen Calon Pimpinan KPK

Sembilan Jenderal Polri Lolos Seleksi Internal Capim KPK

JAKARTA – Masih ada waktu sampai Kamis (4/7) untuk mendaftarkan…

Rabu, 26 Juni 2019 14:33

Berlaku Sistem Baru, Jumlah Pendaftar SBMPTN Turun

JAKARTA - Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) resmi menutup…

Rabu, 26 Juni 2019 14:20
Peneliti UGM Rilis Hasil Riset Penyebab Petugas KPPS Meninggal

KPPS Tak Ada Yang Diracun, tapi Anggap KLB

JAKARTA – Peneliti asal Universitas Gadjah Mada (UGM) memaparkan penyebab…

Rabu, 26 Juni 2019 12:40

Venue PON XX Papua Selesai Juni 2020

JAKARTA  – Progres Konstruksi 4 Venue PON XX Papua diyakini…

Selasa, 25 Juni 2019 13:49

Sehari, Indonesia Diguncang 53 Kali Gempa

JAKARTA – Sepanjang senin (24/6) kemarin, wilayah Laut Banda diguncang…