MANAGED BY:
JUMAT
19 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

CELOTEH

Minggu, 21 April 2019 09:43
Apa Itu Bipolar Disorder..?

Gangguan Mental yang Menyerang Semua Usia

SUASANA HATI: Gangguan bipolar erat kaitannya dengan suasana hati yang mudah berubah. Penyebab munculnya pun tidak secara signifikan. Ada beberapa faktor yang memicu gangguan ini terjadi.

PROKAL.CO, KESEHATAN jiwa tak bisa dianggap sepele. Salah satunya bipolar disorder. Merupakan gangguan mental yang dipicu oleh suasana hati atau mood sehingga mampu membuat penderitanya merasa sangat gembira (manik) atau justru merasa sangat sedih (depresi).

Manik dan depresi adalah dua kutub ekstrem yang memengaruhi seseorang mengalami gangguan bipolar. Gangguan ini bisa muncul tiba-tiba, namun proses menuju hal tersebut biasanya sudah dari lama dan kadang tidak disadari. Psikiater Jaya Mualimin menyebutkan ada beberapa faktor risiko. Di antaranya, genetik, pola asuh yang tidak baik, kondisi berat bayi saat dilahirkan rendah, dan trauma pada fase kelahiran.

“Penyebab bipolar khas karena penyebab munculnya tidak begitu signifikan. Bipolar terdiri dari manik dan depresi. Kalau depresi yang murni dan tanpa disertai manik, itu depresi mayor. Tapi kalau diawali atau ada fase manik, itulah bipolar,” jelas Jaya.

Terkait gejala, tentu saja berkaitan dengan suasana hati. Misalnya ada seseorang yang pada awalnya begitu bahagia. Namun, penyebab yang membuatnya bahagia tidak ada. Seminggu kemudian, dia merasa sedih dan putus asa. Pemicunya juga tak terlalu signifikan. Pada dasarnya, pemicu yang membuat seseorang mengalami gangguan bipolar ada pada konflik batin yang tengah dirasakan. Beda hal dengan depresi. Penyebab seseorang merasa depresi lebih jelas seperti sedih akan suatu hal.

Perlu diketahui, bipolar bisa dialami oleh siapa saja, tidak ada batasan umur. Tiap usia memperlihatkan perilaku berbeda. Contohnya anak-anak, untuk depresinya, perilaku yang biasa diperlihatkan itu tidak takut dengan berbagai hal berisiko seperti kematian, berpikir ingin mengakhiri hidup, dan merasa sedih.

Untuk maniknya, banyak anak yang kerap membicarakan hal berbau seksual. Bahkan, bayi juga bisa mengalami bipolar. Ciri-cirinya bisa dilihat jika bayi sulit tidur dan sering menangis tanpa sebab atau disebut juga dengan temper tantrum.

Orangtua patut waspada dan memberi bimbingan agar gejala itu bisa hilang. Kalau tidak, gejala tersebut bisa saja terbawa sampai anak tumbuh dewasa. Meski sejak bayi berisiko bipolar, bukan berarti hal itu jadi patokan. Banyak juga orang-orang yang justru mengalami bipolar ketika beranjak remaja atau dewasa.

Jaya menyebut, jika munculnya sudah dari bayi memang agak berat. Oleh sebab itu, penanganan harus tepat. Untuk remaja hingga dewasa, biasanya karena mengalami masalah kehidupan yang tidak bisa dihadapi sendiri.

“Sebenarnya ada hal positif di balik bipolar. Bagi sebagian orang yang memiliki hipomanik cenderung mempunyai talenta baik. Hipomanik itu lebih ringan dan bahagianya tidak terlalu berlebihan. Mereka lebih energik dan punya ide-ide bagus dan biasa dialami oleh public figure. Dari luar memang terlihat berhasil dan sukses, tapi ketika mereka sedang terpuruk, pikiran bunuh diri akan muncul,” jelas pria 48 tahun itu.

Sudah sepatutnya jika seorang penderita gangguan bipolar langsung dibawa ke psikiater. Semakin cepat dibawa, semakin cepat pula pemulihannya. Jaya memberi contoh, jika penderita bipolar baru dibawa setelah enam bulan merasakan gejala-gejala tak wajar tersebut, pengobatannya akan lebih lama dan sulit.

Bahkan bisa seumur hidup. Soal pemberian obat juga berbeda. Penderita depresi mayor akan diberi obat antidepresan. Bagi penderita bipolar atau manik diberi moodstabilizer. Bicara penanganan medis, selain diberi obat untuk mencegah kekambuhan dan memperbaiki sel-sel otak yang rusak, penderita juga akan diberikan terapi dan bimbingan konseling.

“Bipolar itu sifatnya episodik, jadi sewaktu-waktu bisa kambuh kembali. Beda hal dengan yang melakukan pengobatan dari awal, kecil kemungkinan mereka mengalami hal yang sama. Kalaupun harus terjadi, jangka waktunya lama. Bisa enam tahun kemudian. Masalahnya pun akan berbeda,” pungkas Jaya. (*/ysm*/rdm2/k16)


BACA JUGA

Senin, 15 Juli 2019 11:21

Menjaga Kepercayaan Klien

Usaha yang dirintis semakin berkembang. Klien berdatangan. Menjadi bisnis yang…

Senin, 15 Juli 2019 11:21

Biasa dengan Karakter Klien Beda, Tangani 10 Ribu Tamu

KARAKTER klien yang berbeda sudah biasa dihadapi. Diungkapkan Kritaya Zenaida…

Senin, 15 Juli 2019 11:11

Waspada Tiga Jenis Kutu di Kepala

Ketikalagi asyik mengobrol, tiba-tiba kulit kepala rasanya gatal sekali? Kondisi…

Senin, 15 Juli 2019 11:09

Mitos Membasmi Kutu, Dari Santan Basi hingga Kapur Barus

SELAIN mengganggu kenyamanan saat beraktivitas, rasa gatal berlebih akibat kutu…

Senin, 15 Juli 2019 11:07

Menabung sejak Dini, Bisa Dimulai dari Usia Dua Tahun

Kebiasaanmenabung sebaiknya ditanamkan sejak dini. Orangtua penting agar anak lebih…

Senin, 15 Juli 2019 11:06

Ajarkan Anak Menghargai Usaha

SEBAGIAN orangtua menganggap belum waktunya anak memahami uang. Namun, berbeda…

Senin, 15 Juli 2019 11:05

Belajar Bahasa Inggris Usia Dewasa, Benahi Mental agar Lancar

Kemampuan berbahasa penting untuk menunjang karier dan pendidikan. Mampu berbahasa…

Senin, 15 Juli 2019 11:03

Persiapan Matang demi Karier Gemilang

DIA adalah Jeannet Novelia Sarwono. Mahasiswi program studi Manajemen Fakultas…

Senin, 15 Juli 2019 10:59

Masakan Tatar Sunda Manjakan Lidah

Menghabiskan liburan dengan sekadar berjalan-jalan namun tak berwisata kuliner agaknya…

Senin, 15 Juli 2019 10:58

Soto Mi Bogor dengan Aneka Isian

SETELAH mi kocok bandung, menu selanjutnya yakni soto mi bogor.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*