MANAGED BY:
SENIN
27 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

CELOTEH

Minggu, 21 April 2019 09:43
Apa Itu Bipolar Disorder..?

Gangguan Mental yang Menyerang Semua Usia

SUASANA HATI: Gangguan bipolar erat kaitannya dengan suasana hati yang mudah berubah. Penyebab munculnya pun tidak secara signifikan. Ada beberapa faktor yang memicu gangguan ini terjadi.

PROKAL.CO, KESEHATAN jiwa tak bisa dianggap sepele. Salah satunya bipolar disorder. Merupakan gangguan mental yang dipicu oleh suasana hati atau mood sehingga mampu membuat penderitanya merasa sangat gembira (manik) atau justru merasa sangat sedih (depresi).

Manik dan depresi adalah dua kutub ekstrem yang memengaruhi seseorang mengalami gangguan bipolar. Gangguan ini bisa muncul tiba-tiba, namun proses menuju hal tersebut biasanya sudah dari lama dan kadang tidak disadari. Psikiater Jaya Mualimin menyebutkan ada beberapa faktor risiko. Di antaranya, genetik, pola asuh yang tidak baik, kondisi berat bayi saat dilahirkan rendah, dan trauma pada fase kelahiran.

“Penyebab bipolar khas karena penyebab munculnya tidak begitu signifikan. Bipolar terdiri dari manik dan depresi. Kalau depresi yang murni dan tanpa disertai manik, itu depresi mayor. Tapi kalau diawali atau ada fase manik, itulah bipolar,” jelas Jaya.

Terkait gejala, tentu saja berkaitan dengan suasana hati. Misalnya ada seseorang yang pada awalnya begitu bahagia. Namun, penyebab yang membuatnya bahagia tidak ada. Seminggu kemudian, dia merasa sedih dan putus asa. Pemicunya juga tak terlalu signifikan. Pada dasarnya, pemicu yang membuat seseorang mengalami gangguan bipolar ada pada konflik batin yang tengah dirasakan. Beda hal dengan depresi. Penyebab seseorang merasa depresi lebih jelas seperti sedih akan suatu hal.

Perlu diketahui, bipolar bisa dialami oleh siapa saja, tidak ada batasan umur. Tiap usia memperlihatkan perilaku berbeda. Contohnya anak-anak, untuk depresinya, perilaku yang biasa diperlihatkan itu tidak takut dengan berbagai hal berisiko seperti kematian, berpikir ingin mengakhiri hidup, dan merasa sedih.

Untuk maniknya, banyak anak yang kerap membicarakan hal berbau seksual. Bahkan, bayi juga bisa mengalami bipolar. Ciri-cirinya bisa dilihat jika bayi sulit tidur dan sering menangis tanpa sebab atau disebut juga dengan temper tantrum.

Orangtua patut waspada dan memberi bimbingan agar gejala itu bisa hilang. Kalau tidak, gejala tersebut bisa saja terbawa sampai anak tumbuh dewasa. Meski sejak bayi berisiko bipolar, bukan berarti hal itu jadi patokan. Banyak juga orang-orang yang justru mengalami bipolar ketika beranjak remaja atau dewasa.

Jaya menyebut, jika munculnya sudah dari bayi memang agak berat. Oleh sebab itu, penanganan harus tepat. Untuk remaja hingga dewasa, biasanya karena mengalami masalah kehidupan yang tidak bisa dihadapi sendiri.

“Sebenarnya ada hal positif di balik bipolar. Bagi sebagian orang yang memiliki hipomanik cenderung mempunyai talenta baik. Hipomanik itu lebih ringan dan bahagianya tidak terlalu berlebihan. Mereka lebih energik dan punya ide-ide bagus dan biasa dialami oleh public figure. Dari luar memang terlihat berhasil dan sukses, tapi ketika mereka sedang terpuruk, pikiran bunuh diri akan muncul,” jelas pria 48 tahun itu.

Sudah sepatutnya jika seorang penderita gangguan bipolar langsung dibawa ke psikiater. Semakin cepat dibawa, semakin cepat pula pemulihannya. Jaya memberi contoh, jika penderita bipolar baru dibawa setelah enam bulan merasakan gejala-gejala tak wajar tersebut, pengobatannya akan lebih lama dan sulit.

Bahkan bisa seumur hidup. Soal pemberian obat juga berbeda. Penderita depresi mayor akan diberi obat antidepresan. Bagi penderita bipolar atau manik diberi moodstabilizer. Bicara penanganan medis, selain diberi obat untuk mencegah kekambuhan dan memperbaiki sel-sel otak yang rusak, penderita juga akan diberikan terapi dan bimbingan konseling.

“Bipolar itu sifatnya episodik, jadi sewaktu-waktu bisa kambuh kembali. Beda hal dengan yang melakukan pengobatan dari awal, kecil kemungkinan mereka mengalami hal yang sama. Kalaupun harus terjadi, jangka waktunya lama. Bisa enam tahun kemudian. Masalahnya pun akan berbeda,” pungkas Jaya. (*/ysm*/rdm2/k16)


BACA JUGA

Minggu, 26 Mei 2019 14:12

Mandiri, Tak Ingin Bergantung Pada Suami

MENURUT Ira Yuliana, dalam sehari sangat gampang menghadirkan ratusan orang…

Minggu, 26 Mei 2019 14:08
Diet Enak Bahagia Menyenangkan (DEBM)

Tiga Bulan Pangkas 14 Kilogram

GORENGAN jadi makanan favorit Supinah saat muda dulu. Kebiasaan itu…

Minggu, 26 Mei 2019 14:07

Ingin Tetap Bugar Sambut Hari Tua

BAGI Supinah yang sukses turunkan berat badan 14 kilogram (kg)…

Minggu, 26 Mei 2019 14:05

Konsumsi Minim Karbo, Tinggi Protein dan Lemak

PEREMPUAN dengan usia 30–40, cenderung berhadapan dengan berbagai permasalahan penuaan (aging) dan…

Minggu, 26 Mei 2019 13:56

7-9 Jam Perhari, Jaga Kualitas Tidur Saat Ramadan

SETIAP orang memiliki kesibukan beragam. Apalagi semakin bertambahnya usia, berbanding…

Minggu, 26 Mei 2019 13:55

Kurang Tidur Berujung Emosional

KURANG tidur pasti akan mengakibatkan kelelahan namun akan merembet pada…

Minggu, 26 Mei 2019 13:47

Aneka Kuliner Penjuru Dunia

EDISI Sedap Kaltim Post kali ini tidak mengulas mi nusantara,…

Minggu, 26 Mei 2019 13:44

Pizza Margherita Sehat, Sup Jagung Nikmat

SIAPA tidak kenal pizza? Makanan asal Italia dengan adonan tepung…

Minggu, 26 Mei 2019 13:43

Kudapan Manis Kekinian

KUDAPAN manis masih jadi juara, apalagi saat untuk hidangan berbuka.…

Senin, 20 Mei 2019 09:29
Windie Karina Farmawati

Berbisnis Sejak 1972, Pernah Dibayar Rp 1

Trisnawati Tjandra mengaku sebagai pelopor usaha salon pertama di Samarinda.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*