MANAGED BY:
SENIN
27 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

BALIKPAPAN

Kamis, 11 April 2019 12:13
Puluhan Ton Cap Tikus Banjiri Balikpapan
MINUMAN SETAN: Satu truk miras cap tikus yang diamankan personel Dit Samapta Polda Kaltim di Pelabuhan Feri Kariangau, Balikpapan Barat, Kamis (4/4) pukul 04.00 Wita.

PROKAL.CO, BALIKPAPAN – Bisnis minuman keras tradisional jenis cap tikus (CT) merambah Balikpapan. Tiga tahun terakhir, aparat menyita 80 ton minuman khas Sulawesi Utara itu. Terbanyak pada Kamis (4/4) sebanyak 17 ton yang diungkap.  

Regu yang dipimpin Iptu Arif Ridho dengan 12 anggota Direktorat Sabhara (Ditsabhara) Polda Kaltim sejak malam menunggu kedatangan kapal feri dari Palu, Sulawesi Tengah, di Pelabuhan Feri Kariangau, Balikpapan Barat. Sekitar pukul 03.30 Wita, kapal jenis roll on-roll off (Ro-ro) yang mengangkut penumpang dan kendaraan itu tiba.

Petugas berpencar. Memeriksa surat dan angkutan setiap kendaraan, khususnya roda empat. Atau mobil beban. Sekitar 30 menit pemeriksaan, sasaran didapat.

Truk tronton bernomor pelat DB 8795 EG yang saat digeledah, petugas mencium aroma menyengat. Mirip alkohol. Dari situlah kecurigaan semakin jelas. Saat dilakukan penghitungan, total ada 425 karung. Masing-masing karung beratnya 40 kilogram. Totalnya 17 ribu liter atau 17 ton.

Diduga akan dipasarkan di Balikpapan dan kota-kota di Kaltim. Pemiliknya Jhonly Berty Lumapow, warga Sulawesi Utara. Dia hendak menjemput miras tersebut. Sekitar empat hari petugas melakukan pengawasan secara tertutup di pelabuhan setelah menerima informasi bakal ada miras yang masuk.

Informasi dihimpun Kaltim Post, penyelundupan miras tersebut kali pertama dengan jumlah besar tahun ini. Banyak kasus sudah diungkap jajaran mulai tingkat polda hingga polsek. Pintu masuknya Balikpapan. Ini karena ada kapal feri. Rutenya dari Palu menuju Balikpapan. Miras didatangkan dari Sulawesi Utara. Butuh waktu sekitar 12 jam untuk tiba di Palu. Sampai di Balikpapan, kemudian distribusikan lagi ke kota lainnya melalui kurir.

Satu kemasan plastik isi 40 liter. Jhonly menjual Rp 800 ribu. Per liter Rp 20 ribu. Sementara dia membeli di Manado seharga Rp 15 ribu. Artinya untuk 17 ribu liter, modalnya Rp 255 juta.

Kemudian dijual Rp 20 ribu per liter, duitnya Rp 340 juta. Keuntungannya mencapai Rp 85 juta. Itu belum termasuk menyewa truk, buruh angkut, tiket kapal, serta biaya perjalanan. Total pengeluaran Rp 20 jutaan.

Sani, bukan nama sebenarnya, mengatakan bahwa ketika ada CT masuk, informasi itu langsung menyebar. “Barang disimpan dulu di gudang,” ujar pria yang merupakan penjual CT eceran di kawasan Balikpapan Selatan ditemui Minggu (7/4) malam.

Dia menceritakan, informasi adanya CT masuk diperoleh dari rekannya. Kemudian, dia mengutus kurir membeli. “Kalau beli, paling banyak 20–30 liter,” ujarnya. Harga per liternya Rp 20 ribu. Lalu dia jual antara Rp 30–35 ribu per 600 ml.

Miras yang dia beli, diakuinya, dicampur air biasa lagi. “Nanti dicampur lagi. Kalau beli 20 liter, setelah dicampur jadinya 25 liter,” ungkap pria 39 tahun itu. Selain memperoleh keuntungan, juga untuk stok.

“Sebab, kadang barang kosong. Lama masuknya, bisa satu bulanan,” jawabnya. Ada pula rekannya yang menjual tanpa dicampur. Namun, jualnya setengah liter Rp 45 ribu.

Meski belum lama ini ada 17 ton disita, masih ada pedagang yang menjualnya. “Masih ada, ini stok yang lama belum habis,” kata Sani. Pengakuan Sani diperkuat seorang konsumen CT.

SEPEKAN DUA KALI

Ditemui beberapa jam kemudian, Wily (46) bukan nama sebenarnya, menyebut mengetahui soal penangkapan miras tersebut. Namun, dia masih bisa membelinya. Ini dibuktikan sambil menunjukkan kepada Kaltim Post.

Wily menyuruh rekannya membeli di kawasan Jalan Mayjen Sutoyo, Gunung Malang. Ada warung kelontongan yang menjual pula CT. Kurang lebih 20 menit pergi membeli, rekannya tadi kembali dengan dua plastik berisi CT.

“Harga dua bungkus Rp 70 ribu. Isinya kurang lebih 1 liter,” ujarnya pada Kaltim Post. Wily mengaku, hampir setiap sepekan pasti mengonsumsi CT. “Sepekan bisa dua kali beli,” akunya.

Mengonsumsi CT, diakui Wily, untuk menghangatkan tubuh. “Kalau sudah pusing, ya tidur. Saya tidak pernah sampai mabuk berat,” urainya. Rasanya manis. Namun, ketika melewati tenggorokan, keras, rasanya seperti terbakar.  

Ribuan liter tadi tak semuanya untuk distribusi Balikpapan. Ada yang membeli kemudian dibawa ke Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Barat, dan lainnya. “Sampai di seluruh Kaltim bahkan Kalimantan,” ujar Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Ade Yaya Suryana yang dikonfirmasi Kaltim Post.

Perwira melati tiga ini mencontohkan. Pembeli berasal dari Samarinda. Nanti sampai di sana, ada lagi membeli. “Ada yang beli untuk dijual lagi di kotanya, ada pula langsung dibawa lagi ke kota lainnya,” jelas Ade.

Ini baru satu pelaku atau pebisnis yang menggurita. Banyak pula pelaku serupa yang juga punya langganan. Mulai pemodal, distributor, sampai pengecer. “Misal si A stoknya kosong, masih ada si B, C dan seterusnya,” imbuh Ade.

LEGAL DAN ILEGAL

Cap tikus menjadi salah satu minuman khas Sulawesi Utara. Di daerah asalnya, minuman ini sudah dilegalkan pada Januari 2019. Produksi cap tikus 1978. Bahkan karena sudah legal, cap tikus 1978 pun sudah bisa dibeli di Bandara Sam Ratulangi, Manado.

Dikutip dari Manado Post (Group Jawa Pos), harga per botol cap tikus dijual Rp 80 ribu di booth cap tikus 1978 di Bandara Sam Ratulangi, Manado. Cap tikus merupakan minuman keras tradisional khas Manado dengan kadar alkohol 45 persen.

Cap Tikus 1978 ini dikemas dalam sebuah botol berbentuk klasik. Tutup botolnya pun unik. Cara membukanya seperti membuka botol soda. Logonya pun unik, yakni gambar tikus menoleh ke kiri dengan warna kecokelatan.

Sebelum Cap Tikus 1978 milik Pemkab Minahasa Selatan dipatenkan menjadi produk kebanggaan masyarakat Sulawesi Utara, ada beberapa tahap yang harus dilewati agar minuman berlabel bea cukai sukses dipasarkan.

Bupati Minahasa Selatan Dr Christiany Eugenia Paruntu penggagas Cap Tikus 1978 ini mengaku ada suka duka di balik peluncuran minuman berkadar 45 persen ini. Mulai lobi pengusaha sampai memperoleh izin BPOM.

Tujuannya untuk kesejahteraan petani. Maklum, Minahasa Selatan merupakan penghasil minuman tersebut. Berasal dari pohon aren. Sebelum siap ditenggak, cairan ini terlebih dulu melalui sejumlah tahapan penyulingan. Semakin lama proses penyulingan yang dilakukan, kadar alkohol makin tinggi.

Bagian tutup botolnya dipakaikan kertas cukai. Sementara sebagian botolnya dikemas dengan kertas bertuliskan Cap Tikus 1978. Di atasnya ada tulisan Legendary Product of Minahasa. Ukurannya 320 ml.

Kini minuman ini bisa dijadikan oleh-oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Sementara warga yang sekadar ingin mabuk-mabukan, perlu pikir dua-tiga kali untuk membelinya karena dibanderol Rp 70 ribu per botol.

POTENSI PIDANA

Tak hanya CT, semua jenis miras di Kaltim, perdagangannya diatur dengan perda. Jika tak memiliki izin, pemiliknya bisa ditindak. Apalagi mayoritas pelanggaran pidana dipicu menenggak miras sebelumnya. Di antaranya, penganiayaan dan kecelakaan lalu lintas.

Tak hanya itu, saat rekrutmen polisi, TNI, bahkan calon pegawai negeri sipil (CPNS), minuman perusak kesehatan ini sering jadi hambatan bagi generasi muda untuk berkarier.

Kabid Humas Polda Sulawesi Utara Kombes Pol Ibrahim Tompo tak menampik miras menjadi salah satu pemicu banyaknya kriminalitas di Sulut. Kata mantan Wadireskrimsus Polda Maluku Utara ini, aksi kriminal banyak terjadi karena pelakunya dipengaruhi miras.

Menurut dia, jika seseorang telah dipengaruhi miras, akan memunculkan sikap berani untuk melakukan kejahatan yang berujung pada aksi kekerasan, bahkan menghilangkan nyawa.

Sementara itu, cap tikus juga dapat diolah menjadi bioetanol atau biofuel yang dikenal sebagai bahan bakar ramah lingkungan. Bioetanol bisa menjadi sumber energi alternatif pengganti bahan bakar minyak. Dapat diolah juga menjadi etanol industri, sebagai substitusi produk alkohol (industri farmasi) atau sebagai bahan pendukung produksi makanan dan minuman.

Adapun saguer–bahan mentah cap tikus–bisa dijadikan gula aren. Apalagi produksi gula aren masih kurang. Selain itu, saguer dapat dimanfaatkan menjadi gula dan difermentasikan menjadi cuka. 

MENINGGAL KARENA CT

Salah satu pendiri paguyuban Sulawesi Utara bernama Pasungkudan Ne Tonsea di Balikpapan, Hanny Bolung (64), ditemui Kaltim Post mengungkapkan, 17 ton miras CT asal Sulut tentu bukan asli. Melainkan sudah dicampur dengan bahan lain.

Sebab, miras sebanyak itu tentu tak mampu diproduksi satu kabupaten. Dia meyakini, di daerah asalnya, CT merupakan penghasilan petani setempat. Khususnya di Minahasa Selatan.

“Memang di daerah sana banyak pohonnya. Kami menyebutnya pohon enau,” ujarnya ditemui di kediamannya kawasan Perumahan Bukit Damai Indah (BDI) Balikpapan itu.

Kenapa disebut cap tikus? Sebab, cerita orang dulu, ampas pohon aren dihancurkan dimasukan ke dalam drum. Kemudian ditutup rapat dan atasnya dikasih lubang untuk uapnya. Drum dibakar.

Nah, uapnya tadi dikeluarkan dari lubang melalui bambu. “Uapnya melewati bambu, kemudian menetes di wadah yang sudah disediakan. Tetesan itu yang disebut CT,” jelasnya.

Sebab, menggunakan bambu panjang dan melengkung, mirip seperti ekor tikus. “Jadinya orang sebutnya minuman cap tikus. Ini berdasarkan cerita orang dulu,” tuturnya.

Lantaran berpotensi pidana, di Sulut penjualan CT banyak. Namun, banyak pula ditangkap aparat. “Tidak berizin. Sama seperti di Balikpapan. Mungkin kalau yang sudah berizin tidak masalah,” ungkapnya.

Diakuinya, dirinya saat muda kerap pula mengonsumsi CT. “Sebenarnya untuk membuat percaya diri, berani, dan lainnya. Tapi, ya, itu tadi, bisa pula cepat emosi,” urainya.

Dari cerita kakeknya dan warga setempat, dahulu CT kerap diminum ketika hendak tidur, makan, bekerja, dan aktivitas sehari-hari lainnya. Hanya, minumnya tidak banyak. “Sedikit, tak sampai 100 ml. Untuk menghangatkan badan. Nenek saya setiap mau makan, minum dulu segelas kecil,” kenangnya.

Dia meyakini mengonsumsi CT berlebihan dapat merusak organ tubuh. Dia mencontohkan almarhum kakak kandungnya. “Meninggal karena efek sering mengonsumsi CT selama tahunan. Akhirnya kena kanker hati,” kata pria yang akrab disapa Hans itu.

Lantaran harganya lebih murah, banyak penikmatnya mengidolakan CT. Sebab, jika miras bermerek seperti bir, whiskey Black Label, Jack Daniels, dan lainnya, harganya cukup mahal. Mencapai Rp 1 juta 500 ml. “Kan murah. Trus keras, karena kandungan alkoholnya di atas 40 persen,” ungkap Hans.

TAK ADA JERA

Sudah lebih 30 pelaku diamankan karena aktivitas penyelundupan miras CT. Hanya, mereka kerap beraksi lagi. Ini karena hanya dijerat tindak pidana ringan (tipiring). Bayar denda beberapa ratus ribu saja atau dikurung tiga bulan.

Namun, pada Januari 2019, penyidik Subdit Penegakan Hukum (Gakkum) Direktorat Polisi Perairan Udara (Ditpolairud) Polda Kaltim mengungkap 6 ton CT.

Sopir truk Hino DN 8497 VH bernama Hendrik Dunggio (27) dan pemiliknya bernama nenek Fone Sumangkut (52) mengaku baru kali pertama mendistribusikan. Dari hasil pengembangan, Fone diduga sebelumnya telah melakukan aksi serupa pada 2018.

“Informasinya pernah ditangkap. Namun, hanya kena tindak pidana ringan (tipiring),” ungkap Direktur Polairud Polda Kaltim Kombes Pol Omad.

Dalam memberantas penyelundupan miras itu, Omad menegaskan pada jajarannya agar proses penegakan hukum sesuai perbuatan tersangka. “Masuk pidana. Terkait pangan,” kata mantan Dirpolair Polda Sumatra Selatan itu.

Sementara Fone bersikeras baru kali ini membawa miras. “Baru ini,” jawab perempuan berambut pendek itu. Penyidik menjeratnya Pasal 204 Ayat 1 KUHP dan atau Pasal 142 jo Pasal 91 Ayat 1 UU RI No 18/2012 tentang Pangan.

Fone divonis delapan bulan penjara karena dapat mengganggu kesehatan dan membahayakan nyawa orang lain. Vonis berat pengedar miras itu pertama kali diputus majelis hakim Pengadilan Negeri Balikpapan.

Hukuman tipiring yang biasa dijeratkan tak membuat efek jera pelaku. Sebab, selain masa hukumannya hanya beberapa hari atau paling lama tiga bulan. Penikmat miras, perilakunya bisa berpotensi ganggu keamanan ketertiban masyarakat hingga pidana.

Diketahui CT mengandung etanol lebih 37 persen. Ini setelah melibatkan ahli untuk lakukan pemeriksaan cairan tersebut. Ahli itu dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM). “Pemeriksaan laboratorium, hasilnya mengandung etanol lebih 37 persen,” urai Omad.

Miras mengandung etanol itu, jika dikonsumsi tentu membahayakan. Efek penikmatnya bisa mabuk dan menimbulkan halusinasi, juga merusak organ tubuh. (aim/dwi/k16)


BACA JUGA

Minggu, 26 Mei 2019 12:16
Poros Balsam Ditarget Rampung H+7 Lebaran

Jalan Rusak Jadi Perhatian Aparat

BALIKPAPAN - Jalur poros Balikpapan-Samarinda (Balsam) mulai menurun di beberapa…

Minggu, 26 Mei 2019 12:12
Ajang Islamic Nexgen Fest di Kota Minyak

Mencari Talenta Berbasis Islami

Muda mudi ramai berkumpul unjuk kemampuan dalam Islamic Nexgen Fest.…

Minggu, 26 Mei 2019 12:10

Pencurian Terungkap Setelah Viral di Media Sosial

BALIKPAPAN – Kejahatan pencurian khususnya kendaraan bermotor (curanmor) biasanya marak…

Minggu, 26 Mei 2019 12:09

Wali Kota Ingatkan ASN tentang Parsel

BALIKPAPAN – Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010.…

Jumat, 24 Mei 2019 13:32
Fera Setyawan, Guru Asal Kota Minyak yang Juara di Olimpiade Matematika

Tes Tersulit, Perdana Ikuti Kompetisi Level Tertinggi

Siapa bilang tenaga pengajar lokal kalah bersaing dengan luar Kalimantan.…

Jumat, 24 Mei 2019 09:00

CATAT..!! Kemarau Diprediksi Terjadi Pertengahan Juli

BALIKPAPAN – Cuaca Kota Minyak panas terik tanpa hujan beberapa…

Kamis, 23 Mei 2019 13:02

Kloter Bertambah, Jamaah Kaltim Berangkat 19 Juli

BALIKPAPAN–Molor sehari dari wacana awal 21 Mei dan sempat diperkirakan…

Kamis, 23 Mei 2019 12:58

Sebar Hoax, IRT Jadi Tersangka

BALIKPAPAN–Keributan di Hotel Mega Lestari, Jumat (19/4) lalu berbuntut hukum.…

Kamis, 23 Mei 2019 12:57
Kenalan dengan Trio Peraih Nilai UN 100 di SMA 5 Balikpapan (Risna Widyastuti)

Hilangkan Stres dengan Main Gim

Alih-alih membaca buku, Risna lebih memilih menghabiskan waktu bermain gim…

Rabu, 22 Mei 2019 11:24

Optimistis Target Zakat Rp 5,2 M Tercapai

BALIKPAPAN¬ – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Balikpapan telah mengumpulkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*