MANAGED BY:
SELASA
25 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

MASKULIN

Minggu, 31 Maret 2019 12:51
Senang Belanja, Termotivasi Buka Usaha

Adhytya Nugraha

INISIATIF: Pernah memiliki postur tubuh besar dan senang berbelanja baju di distro lokal, membuat Adhytya Nugraha tak selalu bisa memakai baju-baju yang tersedia sebab tak ada yang sesuai dengan ukurannya. Dia pun berinisiatif memproduksi baju sendiri.

PROKAL.CO, Zaman sekarang, bisnis bukan lagi hal baru bagi kaum muda. Inspirasi bisa datang dari mana saja. Kunci utama suksesnya usaha adalah berani mencoba, menjalani bidang yang disuka. Hal itu diamini Adhytya Nugraha. Siapa sangka usaha clothing line yang dia jalani dari coba-coba justru mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah. Kesuksesannya itu tak lepas dari ketekunan dan ketelitian yang selalu jadi prinsipnya.

TERLIHAT toko minimalis nan sederhana. Menjadi satu dengan sebuah rumah. Sebagai penanda, terpampang satu papan berwarna hitam bertuliskan Ditz. Di dalam toko, beberapa baju dengan dominan hitam putih digantung rapi. Tak lama, awak Kaltim Post disambut baik oleh seorang pria. Dia adalah Adhytya Nugraha, pemilik Ditz, clothing line lokal asal Kota Tepian. Setelah bersalaman, pria bertubuh tinggi itu mempersilakan duduk.

“Usaha ini berdiri pada 2011 dan masih dengan nama Black Orchids. Pada 2016 aku putuskan untuk ganti jadi Ditz karena ada brand luar yang punya nama sama. Dulu, aku memang suka belanja baju di distro lokal. Tapi, saat itu hampir enggak ada baju distro yang menyediakan ukuran besar kayak XL atau XXL. Aku kan dulu badannya besar, tapi tetap aja maksa untuk makai karena pengin terlihat keren,” ungkap pria yang akrab disapa Adit itu tertawa kecil.

Berawal dari kejadian itu, akhirnya Adit berinisiatif membuat baju sendiri yang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Semua dilakukan sendiri, mencari tukang sablon hingga desain. Saat itu, dia membuat 24 pieces baju yang kemudian sebagian besarnya dia tawarkan ke teman-teman sekolah. Seharga Rp 95 ribu per satu baju, tak disangka terjual habis.

“Dulu tanggapan teman-teman selalu positif. Mereka bilang, aku ada bakat di desain padahal desainnya waktu itu masih ala kadarnya saja. Waktu itu, mereka beli bukan karena aku teman mereka tapi memang suka dengan desain bajunya,” lanjut Adit.

Dua bulan setelah baju-bajunya laku terjual, Adit merasa jika usahanya bisa lebih dikembangkan lagi. Setelah resmi menanggalkan seragam putih abu-abu, Adit berniat lebih serius dalam menjalankan usahanya. Padahal, saat itu Adit juga ingin melanjutkan pendidikan dengan berkuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual di Bandung. Namun, karena terkendala izin orang tua, akhirnya dia memilih memantapkan diri menekuni usaha. Saat itu, orang tuanya memberi modal sebesar Rp 750 ribu sebagai bentuk dukungan dan dia mengeluarkan tiga desain baju rutin per tiga bulan.

Pada 2015, Adit memberanikan diri mengeluarkan 15 desain. Diakui olehnya, semua memiliki proses dan tak bisa dilakukan secara instan. Toko fisik yang dia miliki sekarang baru berdiri sejak 2014. Pada tahun-tahun sebelumnya, Adit mengawali usaha di ranah online, yakni Facebook.

“Aku memang pengin fokus kalau produk yang aku buat ini enggak hanya eksis di Samarinda tapi juga ke luar daerah seperti Jawa. Penjualan online itu ramai sekali. Dari yang laman Ditz itu masih 0 sampai sudah punya 15 ribu likes saat proses iklan. Semua juga aku tangani sendiri karena memang kurang percaya kalau sama orang,” papar pria kelahiran Tenggarong itu.

Sempat merasa kewalahan karena menangani usaha secara mandiri, justru itu yang dijadikan Adit sebagai proses pembelajarannya. Dirinya memang memerhatikan semua yang berkaitan dengan usaha secara detail. Jika dia harus menyerahkannya pada orang lain, justru Adit tak akan tahu bagaimana proses itu berjalan. Adit yang akhirnya memilih untuk berkuliah di Samarinda juga sempat kesulitan mengatur waktu antara usaha dan kuliah. Dia berpikir, kalau hanya mengeluh terus, maka usahanya tak akan jalan.

“Bisnis baju ini memang keinginan terbesarku. Sempat sih kepikiran untuk punya usaha lain dan akhirnya pada 2013 aku coba jualan burger. Tapi malah enggak sreg menjalaninya. Dari situ, aku mantap untuk fokus sama Ditz karena ini yang aku suka dan senangi,” pungkas Adit. (*/ysm*/rdm)

 

loading...

BACA JUGA

Senin, 22 Oktober 2012 10:16

Mitra Teras Mantap di Puncak

<div> <div> <strong>BALIKPAPAN</strong> &ndash; Kesebelasan Mitra Teras…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*