MANAGED BY:
KAMIS
25 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 20 Maret 2019 12:53
Ini Negara yang Berpotensi Menjadi Pasar Terbesar Kaltim
India potensial menjadi pangsa batu bara asal Kaltim.

PROKAL.CO, SAMARINDA-Konsumsi batu bara India diperkirakan tumbuh 4,5 persen year on year (yoy). Produksi batu bara domestik India rata-rata pertumbuhannya 3,7 persen (yoy). Sehingga masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan batubara domestiknya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Muhamad Nur mengatakan, di pasar perdagangan dunia, terdapat dua negara berkembang yang berperan sebagai importir terbesar batu bara Kaltim.  Yaitu Tiongkok dan India. Meskipun Tiongkok merupakan importir terbesar, tetapi negara ini juga merupakan produsen dengan cadangan batu bara terbesar di dunia.

“Produksi batu bara Tiongkok pada 2017 tercatat sebesar 3,67 miliar metrik ton (mt), relatif besar dibandingkan Indonesia sebesar 485 juta mt,” jelasnya Minggu (17/3).

Dia menjelaskan, pertumbuhan permintaan emas hitam di Tiongkok yang masih potensial disebabkan dampak dari pertumbuhan ekonomi terutama di sisi Industri. Pabrik-pabrik manufaktur di Tiongkok mengandalkan batu bara sebagai sumber energi utama. Hal ini tidak terlepas bahwa batu bara merupakan energi yang relatif murah, dibandingkan energi dalam bentuk liquid ataupun gas lainnya.

“Sedangkan potensi India, merupakan pasar batubara yang terus berkembang,” ungkapnya.

Dengan pertumbuhan ekonomi India tahun 2017 sebesar 6,7 persen (yoy) dan populasi sebesar 1,3 miliar penduduk, India memiliki ruang pemanfaatan batu bara yang cukup besar. Saat ini, Nur menambahkan, berdasarkan negara tujuan, ekspor batubara Kaltim terbesar bertujuan ke India dan Tiongkok yaitu sebesar 28,48 persen dan 25,04 persen.

“Pertumbuhan volume ekspor komoditas andalan Kaltim mulai kembali menunjukkan tren positif sejak triwulan III 2017. Namun, ekspor batu bara ke Tiongkok memiliki titik peak dan through yang cukup tinggi, disebabkan sering berubah-ubahnya kebijakan impor pemerintah Negara tersebut,” katanya.

Menurutnya, pada bulan-bulan tertentu pemerintah Tiongkok menerapkan restriksi impor, dengan memperketat pengurusan bea cukai di pelabuhan impor batubara utama. Akibatnya, loading vessel menjadi lambat sehingga ekspor ke Tiongkok turun. Sedikit berbeda, tren ekspor batu bara ke India menunjukkan peningkatan sejak triwulan I 2017.

“Dalam laporan publikasinya, India Ministry of Power menyebutkan bahwa dalam 8 tahun terakhir rata-rata pertumbuhan tahunan produksi listrik di India sebesar 5,69 persen,” jelas Nur.

Kapasitas terpasang tercatat sebesar 349 gigawatt (GW) pada Januari 2019, lebih besar dibandingkan Indonesia sebesar 62,6 GW pada Desember 2018. Adapun sumber energi utama India bersumber dari tenaga termal yang batu bara termasuk di dalamnya, sebesar 64,09 persen.

“Dengan ekonomi yang diperkirakan tumbuh sebesar 7,5 persen pada 2019, India masih menjadi pasar potensial untuk ekspor batu bara Kaltim,” katanya.

Konsumsi batu bara India pada 2018 diperkirakan 900 juta ton atau mengalami pertumbuhan rata-rata pada 2011-2018 sebesar 4,5 persen (yoy). Di sisi lain, produksi batu bara domestik India tahun 2018 diperkirakan sekitar 700 juta ton dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,7 persen (yoy).

“Dengan begitu, India masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan batubara domestiknya,” tuturnya.

Impor batu bara India tahun 2018 diperkirakan sebesar 200 juta ton atau tumbuh rata-rata sebesar 7,8 persen (yoy). Berdasarkan volumenya, impor emas hitam India sebagian besar berasal dari Indonesia dengan pangsa 47 persen, disusul oleh Australia sebesar 22 persen dan Afrika Selatan 18 persen.

“Batubara asal Indonesia digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik. Sehingga batu bara yang dibutuhkan adalah yang berkalori 4.000-5.000 kcal/kg,” katanya.

Kondisi tersebut, tambah Nur, sesuai dengan spesifikasi produksi batubara asal Indonesia yang sebesar 43,85 persen berkalori 4200-5000 kcal/kg. Saat ini India masih belum mampu memenuhi kebutuhan domestiknya, disebabkan oleh jaringan infrastruktur untuk distribusi batubara yang belum mengakomodir keperluan pembangkit listrik, atau industri lainnya. Sebagian besar cadangan batubara terletak di bagian Timur India dan berada di remote area. Perbedaan mendasar transportasi di India dengan Indonesia, khususnya Kalimantan adalah media transportasi yang digunakan.

“Pengangkutan batubara kita memanfaatkan aliran sungai sebagai media utama pengangkutan dari pit ke pelabuhan lautnya,” ujarnya.

Menurut Nur, sedangkan di India pengangkutan batubara dari pit ke PLTU atau industri menggunakan kereta api batu bara. Saat ini, kondisi infrastruktur pengangkutan batubara di India baik kereta, dan relnya kurang memadai sehingga mempersulit peningkatan produksi oleh perusahaan. Pembangunan terkait infrastruktur dimaksud terus berjalan, tetapi pertumbuhan kebutuhan batubara lebih cepat dibandingkan perkembangan pembangunan infrastruktur tersebut. Oleh sebab itu, India cukup bergantung pada batu bara impor untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Pada 2019, kenaikan impor batu bara India diperkirakan sebesar 10 persen untuk menutupi gap pasokan batubara, dan peningkatan kebutuhan pembangkit listrik.

“Peningkatan impor batubara India tersebut menjadi peluang bagi sektor pertambangan di Kaltim untuk meningkatakan volume penjualan ekspor ke Negara tersebut,” pungkasnya. (*/ctr)

 

 


BACA JUGA

Kamis, 25 April 2019 11:38

Jalan Umum "Disewakan" untuk Hauling Tambang, Rp 35 Ribu Per Metrik Ton

SAMARINDA - Jalan umum di Desa Budaya Pampang atas dan…

Kamis, 25 April 2019 09:37

KPU Sebut Ada 105 Kesalahan Entry Data Form C1

Komisi Pemilihan Umum (KPU) memastikan proses perbaikan terkait rekapitulasi suara…

Kamis, 25 April 2019 09:30
Wagub Monitoring Jembatan Mahakam IV dan Jalan Tol Balsam

Tahun Ini Masalah Lahan Tuntas, Hadi : Cepat Rampung, Kita Fokus yang Lain

BALIKPAPAN – Setelah dua hari melakukan monitoring ke Kutai Timur…

Rabu, 24 April 2019 13:00

Siapa yang Akan Mewakili Kaltim ke Senayan?

BALIKPAPAN – Hasil perhitungan sementara Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 untuk…

Rabu, 24 April 2019 11:09

Jalan Panjang Pabrik Semen, Dari SK Penetapan KBAK hingga Tunggu Revisi RTRW

Meski saat ini rencana pembangunan pabrik semen tengah menjadi pro…

Rabu, 24 April 2019 11:03

Ini Loh Alasan Warga Sekerat Dukung Pabrik Semen

SANGATTA-Rencana pembangunan pabrik semen di Karst Sangkulirang-Mangkalihat mendapat dukungan dari…

Rabu, 24 April 2019 10:57
Pemilu Serentak Dievaluasi Total

Timbulkan Korban Jiwa, Pemilu Nasional dan Lokal akan Dipecah

JAKARTA – Wacana meninjau ulang keserentakan pemilu makin mendapat dukungan.…

Rabu, 24 April 2019 10:20

ADA APA YA...?? Ribuan Brimob 11 Daerah Bergeser ke Jakarta

JAKARTA—Upaya pengamanan pemilu 2019 belum usai. Polri dipastikan menggeser ribuan…

Rabu, 24 April 2019 09:33

Cek Langsung Lokasi Pembangunan Pabrik Semen, Ini Kata Wagub Hadi Mulyadi

SANGATTA – Upaya evaluasi dini terhadap rencana pembangunan pabrik semen…

Rabu, 24 April 2019 09:12

Stok Beras Aman untuk 6 Bulan, Harga Bawang Putih Masih Tinggi

SAMARINDA - Gubernur Kaltim Isran Noor dan Direktur Jenderal Pengembangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*