MANAGED BY:
JUMAT
19 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 20 Maret 2019 12:53
Ini Negara yang Berpotensi Menjadi Pasar Terbesar Kaltim
India potensial menjadi pangsa batu bara asal Kaltim.

PROKAL.CO, SAMARINDA-Konsumsi batu bara India diperkirakan tumbuh 4,5 persen year on year (yoy). Produksi batu bara domestik India rata-rata pertumbuhannya 3,7 persen (yoy). Sehingga masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan batubara domestiknya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Muhamad Nur mengatakan, di pasar perdagangan dunia, terdapat dua negara berkembang yang berperan sebagai importir terbesar batu bara Kaltim.  Yaitu Tiongkok dan India. Meskipun Tiongkok merupakan importir terbesar, tetapi negara ini juga merupakan produsen dengan cadangan batu bara terbesar di dunia.

“Produksi batu bara Tiongkok pada 2017 tercatat sebesar 3,67 miliar metrik ton (mt), relatif besar dibandingkan Indonesia sebesar 485 juta mt,” jelasnya Minggu (17/3).

Dia menjelaskan, pertumbuhan permintaan emas hitam di Tiongkok yang masih potensial disebabkan dampak dari pertumbuhan ekonomi terutama di sisi Industri. Pabrik-pabrik manufaktur di Tiongkok mengandalkan batu bara sebagai sumber energi utama. Hal ini tidak terlepas bahwa batu bara merupakan energi yang relatif murah, dibandingkan energi dalam bentuk liquid ataupun gas lainnya.

“Sedangkan potensi India, merupakan pasar batubara yang terus berkembang,” ungkapnya.

Dengan pertumbuhan ekonomi India tahun 2017 sebesar 6,7 persen (yoy) dan populasi sebesar 1,3 miliar penduduk, India memiliki ruang pemanfaatan batu bara yang cukup besar. Saat ini, Nur menambahkan, berdasarkan negara tujuan, ekspor batubara Kaltim terbesar bertujuan ke India dan Tiongkok yaitu sebesar 28,48 persen dan 25,04 persen.

“Pertumbuhan volume ekspor komoditas andalan Kaltim mulai kembali menunjukkan tren positif sejak triwulan III 2017. Namun, ekspor batu bara ke Tiongkok memiliki titik peak dan through yang cukup tinggi, disebabkan sering berubah-ubahnya kebijakan impor pemerintah Negara tersebut,” katanya.

Menurutnya, pada bulan-bulan tertentu pemerintah Tiongkok menerapkan restriksi impor, dengan memperketat pengurusan bea cukai di pelabuhan impor batubara utama. Akibatnya, loading vessel menjadi lambat sehingga ekspor ke Tiongkok turun. Sedikit berbeda, tren ekspor batu bara ke India menunjukkan peningkatan sejak triwulan I 2017.

“Dalam laporan publikasinya, India Ministry of Power menyebutkan bahwa dalam 8 tahun terakhir rata-rata pertumbuhan tahunan produksi listrik di India sebesar 5,69 persen,” jelas Nur.

Kapasitas terpasang tercatat sebesar 349 gigawatt (GW) pada Januari 2019, lebih besar dibandingkan Indonesia sebesar 62,6 GW pada Desember 2018. Adapun sumber energi utama India bersumber dari tenaga termal yang batu bara termasuk di dalamnya, sebesar 64,09 persen.

“Dengan ekonomi yang diperkirakan tumbuh sebesar 7,5 persen pada 2019, India masih menjadi pasar potensial untuk ekspor batu bara Kaltim,” katanya.

Konsumsi batu bara India pada 2018 diperkirakan 900 juta ton atau mengalami pertumbuhan rata-rata pada 2011-2018 sebesar 4,5 persen (yoy). Di sisi lain, produksi batu bara domestik India tahun 2018 diperkirakan sekitar 700 juta ton dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,7 persen (yoy).

“Dengan begitu, India masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan batubara domestiknya,” tuturnya.

Impor batu bara India tahun 2018 diperkirakan sebesar 200 juta ton atau tumbuh rata-rata sebesar 7,8 persen (yoy). Berdasarkan volumenya, impor emas hitam India sebagian besar berasal dari Indonesia dengan pangsa 47 persen, disusul oleh Australia sebesar 22 persen dan Afrika Selatan 18 persen.

“Batubara asal Indonesia digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik. Sehingga batu bara yang dibutuhkan adalah yang berkalori 4.000-5.000 kcal/kg,” katanya.

Kondisi tersebut, tambah Nur, sesuai dengan spesifikasi produksi batubara asal Indonesia yang sebesar 43,85 persen berkalori 4200-5000 kcal/kg. Saat ini India masih belum mampu memenuhi kebutuhan domestiknya, disebabkan oleh jaringan infrastruktur untuk distribusi batubara yang belum mengakomodir keperluan pembangkit listrik, atau industri lainnya. Sebagian besar cadangan batubara terletak di bagian Timur India dan berada di remote area. Perbedaan mendasar transportasi di India dengan Indonesia, khususnya Kalimantan adalah media transportasi yang digunakan.

“Pengangkutan batubara kita memanfaatkan aliran sungai sebagai media utama pengangkutan dari pit ke pelabuhan lautnya,” ujarnya.

Menurut Nur, sedangkan di India pengangkutan batubara dari pit ke PLTU atau industri menggunakan kereta api batu bara. Saat ini, kondisi infrastruktur pengangkutan batubara di India baik kereta, dan relnya kurang memadai sehingga mempersulit peningkatan produksi oleh perusahaan. Pembangunan terkait infrastruktur dimaksud terus berjalan, tetapi pertumbuhan kebutuhan batubara lebih cepat dibandingkan perkembangan pembangunan infrastruktur tersebut. Oleh sebab itu, India cukup bergantung pada batu bara impor untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Pada 2019, kenaikan impor batu bara India diperkirakan sebesar 10 persen untuk menutupi gap pasokan batubara, dan peningkatan kebutuhan pembangkit listrik.

“Peningkatan impor batubara India tersebut menjadi peluang bagi sektor pertambangan di Kaltim untuk meningkatakan volume penjualan ekspor ke Negara tersebut,” pungkasnya. (*/ctr)

 

 


BACA JUGA

Jumat, 19 Juli 2019 08:40

Tahura Bukit Soeharto Dirambah, Polisi Sita 40 Potong Kayu Sengon

PROKAL.CO, SAMARINDA - Tim gabungan Reserse Kriminal Polsek Loa Janan…

Kamis, 18 Juli 2019 11:10

INGAT..!! Kepsek Jangan Jual-Beli Kursi

Masalah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 di Balikpapan belum…

Kamis, 18 Juli 2019 11:07
Dari Rakonreg PDRB Se-Kalimantan yang Dibuka Gubernur Isran Noor

Minta Ada Menteri dari Kaltim agar Pembangunan Merata

Rapat Konsultasi Analisis Ekonomi Regional (Rakonreg) Produk Domestik Regional Bruto…

Kamis, 18 Juli 2019 11:06

Karsa yang Mengalir Sampai Jauh

KABUT belum akan beranjak pergi. Sisa-sisa hawa dingin semalam masih…

Kamis, 18 Juli 2019 10:59
Langgam Pengabdian di Garis Depan

Jejak-Jejak Prajurit di Tapal Batas

Medan juang ini terasa berbeda. Penegasan kebanggaan di ujung negeri.…

Rabu, 17 Juli 2019 11:58

Puluhan Desa Tagih Janji Gubernur

Puluhan desa dari tiga kecamatan di Kukar menagih janji politik…

Rabu, 17 Juli 2019 11:56

Lelang Investasi Jembatan Tol Teluk Balikpapan Dimulai

PENAJAM- Tahapan lelang investasi pembangunan Jembatan Tol Teluk Balikpapan akhirnya…

Rabu, 17 Juli 2019 11:46

Bandara SAMS Sepinggan Jajaki Rute Tujuan Brunei

BALIKPAPAN – Beroperasinya Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda…

Rabu, 17 Juli 2019 11:08

Nasib Puluhan Pelajar Masih Menggantung

Nasib puluhan pelajar yang ditolak masuk SMP 11 Balikpapan masih…

Rabu, 17 Juli 2019 11:07

Gubernur Isran Beber Program di Depan Direksi Kaltim Post

Kaltim punya banyak potensi berikut masalahnya. Mulai urusan banjir di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*