MANAGED BY:
RABU
27 MARET
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KALTIM

Kamis, 14 Maret 2019 12:30
Berabad-Abad Jejak Suku Banjar di Tanah Kutai (1)
Berjukung Ratusan Mil hingga Menulis Salasilah Kutai hingga
Istimewa DI KAMPUNG HALAMAN. Ketua KBBKTKU Kukar Muhammad Yamin (depan, kedua dari kiri) di sela-sela haul KH Muhammad Zaini Abdul Ghani di Martapura.

PROKAL.CO, Ini berita semacam liputan khusus ringan bang.. dua kali bersambung…

 

Belum lama ini, jutaan mata manusia dari berbagai negara, memadati Haul ke 14, ulama karismatik Kalsel KH Muhammad Zaini Abdul Ghani di Sekumpul, Martapura. Turut hadir di antaranya juga warga banjar yang berdomisili di Kukar. Selain sisi agama, jejak suku banjar ternyata juga memiliki peran penting lain terhadap kultur, teknologi dan budaya di tanah Kutai

 

Muhammad Rifqi, Tenggarong

 

“Intinya kita jangan mewaluh”.  Kalimat itu spontan diucapkan Ketua Kerukunan Bubuhan Banjar Kalimantan Timur Kalimantan Utara (KBBKTKU) Kukar terpilih Muhammad Yamin. Penggalan kalimat itu ia sampaikan dengan maksud mendorong warga banjar di Kukar bisa menunjukkan prestasi serta berkontribusi terhadap berbagai bidang. Terlebih lagi menurutnya, suku banjar menjadi urutan ketiga jumlah terbanyak di Kukar.

 Waluh dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai buah labu. Namun dalam keseharian, sebutan waluh menjadi kata olok-olokan yang memiliki makna berbohong. Terlebih lagi kata dia, berdasarkan catatan penggalan sejarah jejak kontribusi warga Banjar di Kaltim, khususnya di tanah Kutai terbilang besar. Hal inilah yang menurutnya patut menjadi penyemangat penduduk banjar dalam berprilaku.

 “Ibarat kita naik jukung (alat transportasi air khas banjar), kita harus kompak agar bisa sampai ke tujuan. Jangan sampai ada empat orang di atasnya, malah ada yang saling lempar atau diam-diam menggoyang jukung,” ujar Yamin.

 Berbagai uraian sejarah serta pendataan warga banjar pun bakal dikumpulkan KBBKTKU Kukar sebagai bentuk pelestarian. Sehingga kata dia, pemerintah serta warga banjar di Kukar bisa saling bersemangat membangun Kukar dengan landasan semangat yang tulus dan ikhlas.

 “Dimana pun kita berada, salah tujuan kita adalah memberikan kontribusi terbaik dengan semangat gotong-royong. Kemarin saat kami mengikuti haul Abah Guru Sekumpul di Martapura, betapa indahnya kebersamaan ribuan relawan yang turun ke jalan. Mulai dari membantu mengatur jalan sampai membuka warung gratis.Semangat ini yang akan kita tularkan di perantauan,” katanya.

 

Tinggalkan Jejak Panjang

 

Secara geografis, Tanah Kutai dan Banjar memiliki kesamaan. Salah satu kesamaannya juga dikelilingi sejumlah sungai dan wilayah perairan. Sungai-Sungai inilah yang turut menjadi saksi sejarah hubungan keduanya. Termasuk keberadaan Jukung yang menjadi perumpamaan oleh Ketua KBBKTKU Kukar Muhammad Yamin terkait kekompakan tersebut..

 Pemerhati Sejarah Lokal Muhammad Sarip menjelaskan, sejak lima abad yang lalu tepatnya pada tahun 1525 jukung pertama kali memasuki Sungai Mahakam. Jukung kala itu mengangkut sejumlah utusan Pangeran Suriansyah yang memiliki gelar Pangeran Samudra. Kala itu, mereka datang dari Banjarmasin yang kala itu merupakan pangkalan militer kubu Pangeran Samudra. Hingga akhirnya sampai ke kawasan Kutai Lama yang menjadi pusat Kerajaan Kutai kala itu,

 Berdasarkan sejumlah dokumen sejarah kata dia, kala itu Banjar meminta partisipaso Kutai dalam upaya Suriansyah memulihkan legitimasi takhta Kerajaan Banjar yang dikudeta oleh Pangeran Tumenggung. Raja Kutai kala itu, yakni Aji Raja Makota, menyanggupi permintaan Banjar. Riwayat ini diinterpretasikan dari manuskrip kuno “Hikayat Banjar”

 

“Nah, keberhasilan jukung masuk Kutai sejauh 500 mil ituj juga menjadi bagian pengetahuan orang banjar terkait teknologi transportasi air yang sudah berakar lama. Kondisi geografis di sana yang banyak sungai membuat masyarakat Banjar purba memiliki kebudayaan air serta turut menggantungkan kehidupan pada dunia air, ” kata pria yang juga penulis buku sejarah tersebut.

 

Seorang Denmark bernama Erik Petersen lanjut Sarip, juga meneliti jukung di Sungai Barito. Pensiunan arsitektur itu masuk ke pedalaman Kalimantan mengikuti proses pembuatan jukung dari kayu bulat hingga menjadi sarana transportasi air. Sehingga muncullah hasil riset nya berjudul Jukung Boats from the Barito Basin, Borneo lalu dipamerkan di Viking Ship Muesum, Roskilde Denmark

 

“Penyebaran orang banjar di tanah Kutai akhirnya ikut memopulerkan jukung di Sungai mahakam  yang berdampingan dengan gubang alias sampan buatan Kutai. Prosespembuatan jukung dalam bahasa banjar disebut pengapihan. Lalumuncullah Kampung Sungai Kapih di bagian selatan Samarinda,” terang Sarip.

 

Tak kalah menarik, naskah dalam pengembangan budaya literasi di tanah Kutai, warga banjar memiliki peranan penting. Diterangkan Sarip, naskah kuno Salasilah Kutai yang kini berusia 170 tahun ternyata digarap oleh juru tulis istana bernama Khatib Muhammad Tahir. Yakni seorang banjar yang menyelesaikan Salasilah Kutai pada 24 Februari 1849 atau 30 Rabiul Awal 1265 H.

Sayangnya lanjut Sarip, naskah yang asli tersebut tak lagi ada di wilayah Indonesia, melainkan di Berlin-Jerman. Adapun naskah yang dimiliki Kesultanan Kutai pada abad ke-20 adalah salinan versi Aji Demang Kedaton. Alasan Raja Kutai memilih seorang banjar untuk menjadi juru tulis saat itu, diyakini juga bukan tanpa alasan.

Salah satu ulama dunia asal Kalsel Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang mengarang Kitab Sabilal Muhtadin memiliki murid yang menyebar hingga pesisir Kalimantan. Mereka turut mengkaji sejumlah kitab lalu menulis dengan aksara jawi atau arab melayu. “Nah, oleh kerajaan Kutai dipekerjakan orang-orang yang telah mahir atau pakar. Selain itu yang juga paham tentang kesusastraan masa lampau. Itu dimiliki oleh orang banjar. Karena merangkai kata-kata saat itu bukan sesuatu yang mudah dan perlu keahlian khusus,” tutup Sarip. (***)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 26 Maret 2019 10:37

Bupati Minta Budaya Leluhur Dijaga

BENGALON–Rustam Ependy dikukuhkan sebagai Pj kepala desa Persiapan Tepian Budaya,…

Selasa, 26 Maret 2019 10:36

Kutim Peringati Hari Jilbab Sedunia

SANGATTA–Hari Jilbab Sedunia diperingati oleh segenap hijaber di Kutai Timur…

Selasa, 26 Maret 2019 10:31

Penyelesaian Sengketa Lahan Dikeluhkan

SENDAWAR–Penguasaan lahan dan hutan di Kutai Barat (Kubar) oleh perusahaan…

Selasa, 26 Maret 2019 10:30

Ceko Apresiasi Pemkab Berau

TANJUNG REDEB – Republik Ceko melalui Kementerian Luar Negeri Ceko…

Selasa, 26 Maret 2019 10:30

Tingkatkan Ekspor dan Investasi Daerah

TANJUNG REDEB - Kabupaten Berau menjadi tuan rumah Rapat Koordinasi…

Selasa, 26 Maret 2019 10:27

PHK 390 Karyawan Dinilai Cacat Hukum

SANGATTA - Rapat dengar pendapat (RDP) yang digelar DPRD Kutai…

Selasa, 26 Maret 2019 10:25

Truk Tangki Dievakuasi ke Jenebora

PENAJAM – Truk tangki yang tercebur ke laut di Pelabuhan…

Selasa, 26 Maret 2019 10:24

Honor Minim, Jadi Petugas KPPS Kurang Diminati

PENAJAM – Kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) di Penajam Paser…

Senin, 25 Maret 2019 11:05

Distribusi Kotak Suara jadi Atensi Polres PPU

PENAJAM-  Segala kerawanan pada pemilu tahun 2019, sudah mulai diantisipasi…

Senin, 25 Maret 2019 11:03

ALHAMDULILLAH..!! 6 Kecamatan Kembali Dapat Program PISEW 2019

TANA PASER – Sama di tahun sebelumnya, program Kementerian Pekerjaan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*