MANAGED BY:
SENIN
22 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 09 Februari 2019 13:51
Ketika Pantai-Pantai di Badung, Bali, ’’Dikirimi’’ Berton-ton Sampah
Hamparan Gelas Plastik dan Bungkus Detergen di Pusat Ikan Bakar
Ledakan sampah yang mencapai ribuan ton itu tidak hanya merusak pemandangan Kuta dan Kedonganan. Tapi juga pantai-pantai lain di pesisir Badung.

PROKAL.CO, Gelombang sampah di pesisir Badung dianggap yang terparah dalam 10 tahun terakhir. Pemerintah pusat diminta menerjunkan kapal pukat khusus untuk menjaring sampah.

 

AGUS DWI PRASETYO, Badung

 

AHMAD Basri memandang lesu ke arah pantai. Yang tampak di depan mata adalah hamparan plastik bening yang seperti habis dicuci bersih.

’’Sampah ini dibersihkan setiap hari, besoknya datang lagi. Dibersihkan lagi, besoknya masih datang lagi,’’ keluh Basri.

Pada Senin dua pekan lalu itu (28/1), pasir putih Pantai Kedonganan, Badung, Bali, nyaris tak terlihat lagi. Tertutup oleh bermacam-macam sampah. Paling banyak jenis gelas plastik bekas minuman ringan dan air mineral. Ada pula bekas bungkus makanan ringan, detergen, hingga produk-produk olahan lain.

Secara geografis, Pantai Kedonganan dan Kuta yang terpisah jarak 6 kilometer berada di cekungan Teluk Kuta. Hanya, bedanya, Kuta merupakan pusat turis berselancar karena ombaknya yang seksi.

Sedangkan Kedonganan adalah jujukan wisatawan mencari kuliner ikan bakar. Di sepanjang pantai itu, warung-warung makan berderet menghadap ke laut. Di situ pula para nelayan seperti Basri biasa menambatkan kapal mereka.

Tapi, selama tiga bulan terakhir, dua pantai itu dihantam gelombang sampah, terutama plastik. Hampir tiap hari datang. Dalam jumlah yang berton-ton.

Wajar jika Pemerintah Kabupaten Badung mengklaim limpahan sampah kali ini merupakan yang terparah sepanjang 10 tahun terakhir. ’’Kami total dalam Januari sudah tembus 3.000 ton (sampah),’’ kata Kepala Dinas (Kadis) Lingkungan Hidup dan Kebersihan (LHK) Badung I Putu Eka Merthawan kepada Jawa Pos.

Pemkab Badung dan warga sekitar tak bisa mencegah serbuan sampah itu mampir ke pantai mereka. Sebab, secara geografis dan siklus, kawasan tersebut sudah pasti dilewati angin monsun barat setiap akhir tahun dan awal-awal tahun.

Angin itulah yang membawa gelombang sampah mampir ke Teluk Kuta. ’’Angin monsun barat itulah penyebab arus kerasnya ke arah Teluk Kuta,’’ papar Eka.

Masyarakat Badung seolah menjadi korban limpahan sampah itu. Mereka merasa tidak pernah membuang sampah ke laut, tapi setiap hari dapat kiriman sampah.

Dari catatan Eka, ledakan sampah yang mencapai ribuan ton itu tidak hanya merusak pemandangan Kuta dan Kedonganan. Tapi juga pantai-pantai lain di pesisir Badung.

Antara lain, Pererenan, Canggu, Berawa, Petitenget, Seminyak, Legian, Jerman, Kelan, dan Jimbaran. Mayoritas pantai itu merupakan destinasi wisata yang ramai dikunjungi turis domestik maupun mancanegara.

’’Tahun-tahun sebelumnya, rata-rata satu bulan maksimal 1.500 ton. Sekarang tembus 3.000 ton. Jauh sekali peningkatannya (sampah, Red),’’ ujar pria yang sudah lima tahun terakhir menjabat Kadis LHK Badung itu.

Laut Indonesia konon dijejali 150 juta ton sampah plastik. Indonesia memang tercatat sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok.

Berdasar data Kementerian LHK, sebagaimana dikutip VOA Indonesia, kurang lebih 9,8 miliar lembar kantong plastik digunakan masyarakat Indonesia setiap tahun. Dari jumlah itu, hampir 95 persen menjadi sampah.

Sudah banyak contoh menyedihkan terkait itu. Misalnya, pada pertengahan November tahun lalu, di pesisir Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), seekor paus sperma berukuran raksasa ditemukan mati di pinggir laut. Yang paling mengejutkan, banyak jenis sampah di perut paus tersebut.

Misalnya, bungkus plastik, gelas plastik, hingga sandal jepit. Ketika dibedah, ada sekitar 6 kilogram sampah yang mengganjal usus paus nahas tersebut.

Upaya bersih-bersih tentu sudah dilakukan. Baik oleh warga maupun instansi terkait. Sebagaimana yang disaksikan Jawa Pos akhir Januari lalu, di Kuta, di mana puing-puing kayu dan bambu paling banyak ditemui di pinggir pantai, setiap hari. Petugas Pemkab Badung mengumpulkan puing-puing tersebut. Lalu membuangnya ke Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Suwung, Denpasar.

Selain itu, hampir tiap hari lebih dari 1.000 personel LHK serta masyarakat setempat, khususnya pengelola desa adat, berjibaku mengumpulkan sampah di seluruh pesisir pantai di Badung.

Pemkab Badung juga menerjunkan 45 unit truk pengangkut dan 4 alat berat. Namun, upaya kuratif membersihkan ceceran sampah itu ibarat menguras air laut.

Sebab, saat langkah mengumpulkan sampah masih dilakukan, pada saat bersamaan sampah dari laut tak pernah surut. Malah terus meningkat setiap tahun.

’’Kami jadi korban, ini seharusnya jadi bencana nasional karena merugikan kami (pemda dan masyarakat Badung, Red),’’ ungkap Eka.

Dia berani menjamin bahwa sampah-sampah itu tidak berasal dari Badung. Tapi dari daerah lain. Karena itu, dia berharap pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan inovasi untuk mengatasi persoalan tersebut. Misalnya, mengoperasikan kapal pukat khusus untuk menjaring sampah-sampah di laut.

’’Kami menjadi miskin karena tamu (wisatawan, Red) berkurang, hotel rugi, semuanya menjadi rugi,’’ lanjut Eka. ’’Siapa yang harus kami salahkan? Yang jelas bukan warga Badung (yang harus disalahkan, Red),’’ imbuh dia.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali I Made Juli Untung Pratama meminta pemerintah mengidentifikasi sampah-sampah itu melalui merek dan produsen yang tertuang di kemasan. Dari situ, pemerintah bisa menuntut produsen untuk menarik kembali sampah-sampah plastik di pantai tersebut. ’’Selama ini, saya melihat terkesan ada pembiaran,’’ ujarnya kepada Jawa Pos.

Selama ini, pemerintah dan instansi yang terlibat di dalamnya belum pernah memikirkan penanganan sampah di daerah aliran sungai (DAS). Akibatnya, banyak sampah plastik yang bermigrasi ke laut dan terdampar di pesisir pantai. Dan akhirnya mencemari habitat paus seperti yang ditemukan mati di Wakatobi tadi. (*)


BACA JUGA

Kamis, 04 April 2019 10:30
Bule Perancis Keliling Dunia Pakai Sepeda

Telah Singgahi 10 Negara, di Indonesia Doyan Makan Tempe dan Bakso

Victor Habchy punya nyali tinggi. Bule asal Prancis itu berkeliling…

Rabu, 03 April 2019 12:19
Ribuan Anak Yaman Angkat Senjata di Garda Depan

Dijanjikan Uang dan Pekerjaan, tapi Disuruh Perang

Anak-anak di Yaman tidak hanya harus tumbuh dengan melihat pemandangan…

Rabu, 27 Maret 2019 12:08
Warga Venezuela yang Hidup di ’’Neraka Gelap’’

Semua Jadi Gila saat Listrik Mati

Masyarakat Venezuela ingin melupakan kejadian tragis yang disebabkan lumpuhnya jaringan…

Sabtu, 23 Maret 2019 12:03
Geliat Wisata saat Gunung Bromo Erupsi Kecil

Justru Bisa Dapat Sajian Momen Keindahan Asap

Jumlah wisatawan ke Bromo menurun bahkan jika dibandingkan dengan saat…

Sabtu, 16 Maret 2019 14:06
Setelah sang Pelukis Abstrak Itu Berpamitan Dua Bulan Lalu

Sosok yang Supel dan Selalu Siap Bantu Teman

Dari Jogjakarta, Zulfirman Syah pindah ke Selandia Baru untuk mendampingi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*