MANAGED BY:
SELASA
25 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Sabtu, 09 Februari 2019 12:49
Moderasi Beragama untuk Kebersamaan Umat

PROKAL.CO, Oleh: Mukhamad Ilyasin

(Rektor IAIN Samarinda) 

Judul ini diangkat dari rakernas Kementerian Agama 2019 yang dihadiri penulis beberapa hari yang lalu di Jakarta. Sesungguhnya, ketika menyebut Islam, maka bagi seorang yang paham tentang agama ini secara otomatis akan memahaminya sebagai petunjuk hidup moderat. Moderat dalam arti "imbang" dan tidak melampaui batas-batas kealamian kemanusiaan. Dalam segala aspek ajarannya Islam itu berkarakter "imbang" (moderat).

Perhatikan misalnya aspek ketuhanan dalam Islam. Di satu sisi Tuhan digambarkan dengan beberapa penggambaran "khalqi" (ciptaan). Misalnya dengan karakter melihat, mendengar, punya tangan, marah, senang (rida), dan seterusnya. Representasi dari melihat, mendengar, punya tangan, marah, dan senang sangat luas dan sangat menarik bila disimak, penuh arti bila diamati.

Kita ambil contoh kekuasaan misalnya, yang tujuan akhirnya bukan semata memperoleh jabatan dan dukungan rakyat. Namun, lebih dari itu bahwa Allah memberikan tata cara menggunakan amanah tersebut dalam formulasi perbaikan dan pembangunan, serta merealisasikan hukum Allah bagi seluruh umat manusia kalau ini diterapkan. Maka, tidak ada lagi perkelahian antarkelompok, ras, dan atas nama Agama. Manusia akan damai dan bahagia.

Namun, di sisi lain juga semua yang memungkinkan Tuhan untuk diasosiasikan dengan makhluk tertutup rapat. Tuhan adalah "Ahad"   yang "lam yakun lahu kufuwan ahad" (tiada yang mirip dengannya). Bahkan penggambaran Tuhan dengan makhluk apa saja salah dan dilarang.

Perhatikan ibadah-ibadah dalam Islam. Jangan lakukan hingga melampaui kapasitas Anda. Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya (Al-Baqarah). Pesan Rasulullah SAW: "agama itu mudah". Oleh karenanya jangan dilebih-lebihkan dan dipersulit. Bahkan ketika di hadapan Rasulullah ada dua pilihan, beliau selalu memilih yang termudah.

Mungkin yang menyimpulkan semua itu adalah perintah menjaga "tawazun" (keseimbangan) dalam Alquran. "Dan langit Allah tinggikan dan timbangan diletakkan. Agar kamu jangan melampaui timbangan (Ar-Rahman). Hadis Rasulullah bahkan mengingatkan: berhati-hatilah dengan al-ghuluw (ekstremisme). Karena ekstremisme membawamu kepada kehancuran (at-tahlukah).

Dari semua ini saya menyimpulkan bahwa moderasi itu adalah komitmen kepada agama apa adanya, tanpa dikurangi atau dilebihkan. Agama dilakukan dengan penuh komitmen, dengan mempertimbangkan hak-hak vertikal (ubudiyah) dan hak-hak horizontal (ihsan).

PENTINGNYA SIKAP MODERASI

Moderasi adalah ajaran inti agama Islam. Islam moderat adalah paham keagamaan yang sangat relevan dalam konteks keberagaman dalam segala aspek, baik agama, adat istiadat, suku dan bangsa itu sendiri. Tak pelak lagi, ragam pemahaman keagamaan adalah sebuah fakta sejarah dalam Islam. Keragaman tersebut, salah satunya, disebabkan dialektika antara teks dan realitas itu sendiri, dan cara pandang terhadap posisi akal dan wahyu dalam menyelesaikan satu masalah. Konsekuensi logis dari kenyataan tersebut adalah munculnya terma-terma yang mengikut di belakang kata Islam.

Sebut misalnya, Islam Fundamental, Islam Liberal, Islam Progresif, Islam Moderat, dan masih banyak label yang lain. Islam pada dasarnya adalah agama universal, tidak terkotak-kotak oleh label tertentu. Hanya, cara pemahaman terhadap agama Islam itu kemudian menghasilkan terma seperti di atas.

Diterima atau tidak, itulah fakta yang ada dewasa ini yang mempunyai akar sejarah yang kuat dalam khazanah Islam. Fakta sejarah menyatakan bahwa embrio keberagamaan tersebut sudah ada sejak era Rasulullah, yang kemudian semakin berkembang pada era sahabat, terlebih khusus pada era Umar bin Khattab. Ia kerap kali berbeda pandangan dengan sahabat-sahabat yang lain, bahkan mengeluarkan ijtihad yang secara sepintas bertentangan dengan keputusan hukum yang ditetapkan Rasulullah SAW sendiri.

Sebutlah misalnya, tidak membagikan harta rampasan kepada umat Islam demi kemaslahatan umum (negara), yang jelas-jelas sebelumnya dibagikan oleh Rasulullah melalui perintah teks Alquran (QS Al-Anfal: 41).

Akhirnya saya ingin meyakinkan kita semua bahwa hanya dengan pemahaman sekaligus praktik agama yang benar akan membawa kepada kebajikan umum. Jika ada pengakuan beragama tapi membawa kemudaratan, termasuk kebencian dan permusuhan, maka itu bukan Islam yang sesungguhnya.

Demikian sebaliknya, pengakuan Islam seraya menginjak-injak dan merendahkan ajarannya, juga bukan Islam yang sesungguhnya. Itulah kemunafikan atas nama moderasi. (***/dwi/k15)

 


BACA JUGA

Minggu, 16 Juni 2019 13:26

Demokrasi dan Persen

Oleh BANDUNG MAWARDI HARI-HARI menjelang keruntuhan rezim Orde Baru, Wiji…

Jumat, 14 Juni 2019 14:39

Lebaran Berkawan Air

ADA nuansa berbeda pada Idulfitri 1440 Hijriah di Kaltim. Beberapa…

Kamis, 13 Juni 2019 11:27

Banjir dan Kita

Disaat  semestinya bersukaria menyambut hari raya kemenangan Idul Fitri, sejumlah…

Jumat, 31 Mei 2019 14:43

Menyambut Lebaran ala Indonesia

Bambang Iswanto*    MAL dan pusat perbelanjaan penuh. Tidak ketinggalan,…

Selasa, 28 Mei 2019 14:08

Jemput Bola Ibu Kota

Aji Sofyan Effendi* KALAU ditanya kepada seluruh provinsi di Indonesia,…

Jumat, 24 Mei 2019 10:54

Mahalnya Sebuah Kejujuran

Ismail MPdI, Guru Fiqih MAN IC  SALAH satu indikator ketakwaan…

Jumat, 17 Mei 2019 10:53

Melihat Pahala

PEMANDANGAN biasa yang terjadi setelah sepuluh hari Ramadan ke atas…

Kamis, 16 Mei 2019 15:49

Dahsyatnya Pengaruh Perkataan

Oleh: Afriani Nur Fitri Masyarakat Kutai Timur   HAI sobat…

Kamis, 16 Mei 2019 15:48

Pelecehan Seksual di Kampus: Jalan Damai Apakah Cukup?

Oleh: Andi Wahyu Irawan  Dosen Bimbingan Konseling Universitas Mulawarman SEJUMLAH…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*