MANAGED BY:
SABTU
16 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Rabu, 30 Januari 2019 07:24
Guru Ideal dan Revolusioner

PROKAL.CO, Oleh: Heni Susilowati MPd

(Guru SMA 1 Long Kali, Paser)

MANUSIA diciptakan Tuhan sebagai makhluk paling sempurna, salah satunya karena bisa melihat dan belajar. Proses yang diperoleh tersebut akan menuntun manusia mencari tahu dan melakukan apa yang telah dilihat dan dipelajarinya. Proses melihat dan belajar yang terjadi di masyarakat ini berkaitan proses pembelajaran yang diterima dan dialami siswa di sekolah.

Dalam dunia pendidikan, kelangsungan dan keberhasilan proses belajar mengajar tentunya bukan hanya dipengaruhi faktor intelektual siswa saja, melainkan ada faktor non-intelektual. Di antaranya kemampuan siswa untuk memotivasi dirinya, lingkungan sekitar yang turut membentuk karakter siswa serta peranan guru dalam menyampaikan informasi pembelajaran.

Ki Hadjar Dewantara sebagai tokoh penting yang meletakkan dasar tentang pendidikan di Indonesia dengan semboyannya Ing ngarsa sung tuladha, di depan memberi teladan. Ing madya mangun karsa, di tengah membangun semangat, serta tut wuri handayani, dari belakang memberi dorongan, turut memberikan andil sangat besar dalam perjalanan proses pendidikan di Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara juga menyatakan: “Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakat.

Bila kita bisa memahami filsafat di atas dan dikondisikan dengan kemajuan bidang pendidikan seperti sekarang ini, sudah sepatutnya sebagai seorang pendidik berupaya untuk dapat mengantarkan siswanya menjadi seseorang yang memiliki etika dan budi pekerti yang baik (kekuatan karakter dan batin), mempunyai daya pikir (intellect) yang konstruktif, dan tubuh (fisik) anak yang sehat dan kuat. Sehingga dapat mengikuti perkembangan yang terjadi di luar dirinya maupun di masyarakat.

Dalam praktiknya bagian-bagian tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain untuk dapat memajukan kesempurnaan hidup, yaitu kehidupan dan penghidupan anak yang selaras dengan dunianya dalam mengenyam pendidikan.

Demikian juga bila kita sering mendengar dan berdiskusi dengan siswa, mungkin pernah tercetus perkataan siswa bila mereka melihat sosok seorang guru yang mereka anggap menyenangkan dengan istilah “Guru Ideal“.

Prof Herawati Susilo MSc PhD, pakar pendidikan Universitas Negeri Malang, menjelaskan kriteria guru ideal yaitu: belajar sepanjang hayat, literatur sains dan teknologi, menguasai bahasa Inggris dengan baik, terampil melaksanakan penelitian tindakan kelas, rajin menghasilkan karya tulis ilmiah, dan mampu membelajarkan peserta didik berdasarkan filosofi konstruktivisme dengan pendekatan kontekstual.

Beberapa ahli juga memberikan ulasan tentang guru ideal, yaitu pertama, guru yang dapat membagi waktu dengan baik, di mana kualitas seorang guru bisa dilihat dari cara ia memperlakukan waktu baik dalam proses belajar mengajar, dalam keluarga dan dalam sosial kemasyarakatan.

Kedua, guru ideal adalah guru yang rajin membaca (literasi). Membaca tidak terikat waktu, ruang dan tempat, karena dapat dilakukan kapan pun, di ruang pribadi ataupun di tempat umum. Jangan sampai guru menuding bahwa minat peserta didik untuk belajar (membaca) sangat rendah, sedangkan guru sendiri tidak melakukan apa yang diinstruksikan kepada siswanya.

Ketiga, guru ideal adalah guru yang banyak menulis, juga tidak terikat ruang, waktu, dan tempat. Sangat jarang guru memanfaatkan waktu untuk menulis dalam jurnal mengajarnya di sela-sela kegiatan mengajar, yang sebenarnya dapat digunakan menjadi sebuah rancangan penelitian atau bahkan sebuah artikel. Sudahkah ini kita lakukan? Dengan menulis kita akan berada di mana-mana. Karya tulis kita akan dibaca oleh banyak orang dan dapat dimanfaatkan orang lain sebagai sumber bacaan.

Keempat, guru ideal adalah guru yang gemar melakukan penelitian. Minimal seorang guru akan selalu gelisah dengan prestasi dan proses belajar peserta didiknya sehingga guru akan terus memiliki budaya meneliti, mencari tahu solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi bila terdapat kelemahan dalam proses mengajar dan perolehan hasil belajar maupun sikap dan kepribadian siswa.

Secara umum, guru ideal adalah dambaan peserta didik, yaitu sosok guru yang mampu menjadi panutan dan selalu memberikan contoh atau keteladanan, ikhlas seperti mata air yang tak pernah habis, mengalir bening dan menghilangkan rasa dahaga bagi siapa saja yang meminumnya.

Guru ideal adalah guru yang disukai peserta didiknya karena cara mengajarnya yang enak didengar dan mudah dipahami. Ilmunya mengalir, tertanam dan terus bersemi di hati para anak didiknya. Tapi, jangan lupa guru pun harus bisa menerima kritikan dari peserta didiknya. Dari kritik itulah dia dapat belajar dari peserta didiknya karena dari mereka, guru dapat mengetahui kekurangan cara mengajarnya, dan dapat melakukan umpan balik (feedback).

Hal ini mungkin secara tidak sadar jarang di antara kita yang melakukan feedback tersebut, sang guru merasa selalu benar tidak pernah salah. Padahal dengan mengetahui keluhan siswa terhadap bagaimana sosok sang guru dalam proses belajar mengajar, akan membuka mata hati dan pikiran kita. Bahwa kita masih jauh dari sempurna dalam kegiatan pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Guru Revolusioner

Revolusioner menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu cenderung menghendaki perubahan secara menyeluruh dan mendasar. Dalam hal ini saya mengaitkan istilah tersebut dengan dunia pendidikan, revolusioner lahir dari sikap hidup kita sehari-hari yang dapat membentuk pola pikir, kebiasaan, disiplin  dan tindakan dalam keutamaan hidup. Bukan merujuk pada sikap yang penuh emosi, tanpa perhitungan, melainkan sebaliknya, yakni lahir dari kesabaran dan visi yang mendalam, yang berakar pada rutinitas hidup sehari-hari.

Kemajuan zaman yang meliputi berbagai aspek pendidikan di Indonesia menuntut kemampuan inovasi para guru agar mampu memberi jawaban atas berbagai kebiasaan yang kurang sesuai lagi dengan kemajuan tersebut. Terobosan-terobosan baru yang mampu menyegarkan dunia pendidikan sangat diperlukan.

Bukankah pendidikan modern hari ini awalnya adalah pendidikan yang tradisional? Revolusioner di bidang pendidikan dapat dilakukan dengan cara pembelajaran kreatif dengan mengaktifkan siswa melalui kelompok belajar, sehingga dapat meminimalisasi siswa yang pasif, karena dengan kelompok belajar sebaya akan merangkul sebagian besar siswa dalam bekerja sama menyelesaikan permasalahan dalam belajar, serta dapat membentuk sikap sosial mereka.

Perlunya inovasi-inovasi dari guru sebagai sumber informasi kepada siswanya dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan tingkat kompetensi baik untuk guru itu sendiri maupun kepada siswa. Dengan demikian, diharapkan proses pembelajaran tidak menjenuhkan (monoton), melelahkan namun dapat memberi gairah belajar yang baru  bagi para siswa.

Menurut Dian Marta Wijayanti, guru revolusioner memiliki beberapa ciri. Pertama, dia selalu mengajar penuh rasa ikhlas tanpa pamrih. Guru juga butuh kesejahteraan, tetapi dalam hal ini posisi guru merupakan alat untuk berbuat baik lebih banyak lagi dalam rangka memajukan pendidikan Indonesia.

Kedua, memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi. Artinya, siswa akan bersikap disiplin kalau gurunya juga  menerapkan sikap disiplin sesuai yang diucapkan sang guru. Ketiga, selalu menjadi dambaan siswa dan memberikan motivasi kepada siswa agar semangat dalam mencari ilmu, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Keempat, mampu mengajarkan kepada siswa, bahwa hidup tidak sekadar menjadi manusia berilmu, akan tetapi juga beriman dan beramal. Kelima, selalu mengajarkan kepada siswa bahwa hidup bukan sekadar “menjadi apa” (to be), tapi yang lebih penting adalah mampu “berbuat apa” (to do).

Salah satu nilai luhur bangsa Indonesia yang merupakan falsafah peninggalan Ki Hadjar Dewantara yang dapat diterapkan, yakni tringa yang meliputi ngerti, ngrasa, dan nglakoni. Ki Hadjar mengingatkan, bahwa terhadap segala ajaran hidup, cita-cita hidup yang kita anut diperlukan pengertian, kesadaran dan kesungguhan pelaksanaannya.

Tahu dan mengerti saja tidak cukup, kalau tidak merasakan, menyadari, dan tidak ada artinya juga kalau tidak melaksanakan dan tidak memperjuangkannya. Merasa saja hanya dengan mengerti dan tidak melaksanakan, atau sebaliknya menjalankan tanpa kesadaran dan tanpa pengertian tidak akan membawa hasil yang maksimal.

Sebab itu prasyarat bagi tiap perjuangan cita-cita, ia harus tahu, mengerti apa maksud dan tujuannya,  sadar akan arti dan cita-cita itu dan merasa pula perlu bagi dirinya dan bagi masyarakat, dan mampu mengamalkan perjuangan tersebut.

Mengutip dari penulis Hafidz, “Ilmu tanpa amal seperti pohon yang tidak berbuah”, “Ngelmu tanpa laku kothong”, laku tanpa ngelmu cupet”. Ilmu tanpa perbuatan adalah kosong, perbuatan tanpa ilmu adalah pincang. Oleh sebab itu, agar tidak kosong ilmu harus dengan perbuatan, agar tidak pincang perbuatan harus dengan ilmu.

Dengan prinsip ”guru harus memberi (to share) terlebih dahulu agar ia dapat maju dan berkembang (to grow)”, maka guru tidak boleh menampilkan dirinya pada posisi pasif atau (penerima perubahan). Akan tetapi harus pada posisi aktif (memberi dan berbagi untuk maju berkembang bersama). Jika menjadi guru merupakan pilihan pribadi, maka guru harus benar-benar hidup dengan pilihannya tersebut. Maka dia adalah guru hebat.

Sudahkah kita menjadi guru yang ideal bagi siswa? Dan apakah kita telah melakukan pembelajaran yang revolusioner dalam arti guru yang kreatif, inovatif, ikhlas dalam memberi dan disiplin terhadap diri dan ilmunya. Mari semangati diri kita, tanamkan dalam diri dan lakukan yang terbaik untuk menjadi guru yang ideal.

Serta menjadi guru yang mampu melakukan revolusi atau perubahan dalam mengajar untuk meningkatkan mutu dan kualitas siswa kita dalam menyongsong dan mempersiapkan masa depan mereka yang lebih baik untuk menjadi penerus bangsa yang kreatif, mandiri, dan menjadi orang yang bermanfaat bagi dirinya, bangsa, dan negaranya. (ndu/k15)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 09 Februari 2019 10:47

Stanley dan Mogulisme Media yang Anjay Sekali

Oleh: Ramon Damora Wartawan Indonesia KETUA Dewan Pers, Yosep Adi…

Selasa, 05 Februari 2019 10:18

Posisi Ketua Adat dalam Acara Pemerintah

PERINGATAN ulang tahun ke-59 Kabupaten Paser berjalan dengan sukses, meski…

Rabu, 30 Januari 2019 07:24

Guru Ideal dan Revolusioner

Oleh: Heni Susilowati MPd (Guru SMA 1 Long Kali, Paser)…

Selasa, 29 Januari 2019 07:10

Bandara APT Pranoto: Harapan dan Tantangan Pariwisata Samarinda

OLEH: ADI PURBONDARU (Analis KPw BI Kaltim) SAMARINDA yang memiliki…

Senin, 28 Januari 2019 07:00

Urgensi Elektronifikasi Transaksi Keuangan Pemerintah Daerah

OLEH: CHRISTIAN (Analis Ekonomi KPw-BI Kaltim) BANK Indonesia sebagai otoritas…

Sabtu, 26 Januari 2019 07:06

Perempuan Utusan Jiwa: Jelajah Intelektual Schimmel

SEBUAH buku dongeng terbitan 1872 menjadi titik tolak perjalanan panjang…

Sabtu, 26 Januari 2019 07:04

Kandidat Politisi Beradu Kualitas atau Isi Tas

LAYAKNYA  sebuah pesta, sudut-sudut kota semakin mendekati hari H kian…

Kamis, 24 Januari 2019 08:02

Mau Tahu Tender Pemerintah 2019?

Oleh: Naryono SKom MM (Plt Kepala UPT LPSE Dinas Komunikasi…

Kamis, 24 Januari 2019 08:00

Junjung Tinggi Demokrasi Tanpa Menebar Kebencian

Oleh: Sugeng Susilo SH (Staf Biro Hukum Sekretariat Daerah Provinsi…

Rabu, 23 Januari 2019 08:09

Mengenal Metode Pembelajaran yang Tepat untuk IPS

Oleh: Slamet Pujiono (Guru SMP 23 Samarinda, NIP 19680427199308001) UNTUK…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*