MANAGED BY:
KAMIS
20 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 28 Januari 2019 08:42
Dikepung Galian Emas Hitam
MONUMEN BERSEJARAH: Monumen Pertahanan Merah Putih. Di tempat inilah pertahanan pertama pejuang Sangasanga. Foto kanan, lubang bekas tambang di Sangasanga.

PROKAL.CO, KOTA Juang, begitu julukan Sangasanga. Sebuah kecamatan di tenggara Samarinda yang masuk Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Sangasanga jadi kawasan yang dilimpahkan kekayaan. Punya minyak dan batu bara. Dahulu, masyarakat Sangasanga berjuang melawan penjajah. Kini berjuang melawan kekhawatiran akibat kepungan tambang batu bara yang pernah menyebabkan rumah-rumah longsor.

Dari Samarinda menuju Sangasanga, khususnya di kawasan Kelurahan Bantuas, Palaran, Samarinda, akan disuguhi pemandangan lubang tambang yang telah menjadi danau. Dengan jalan yang tak mulus, di beberapa titik pengendara juga harus bersabar bergantian dengan aktivitas perusahaan tambang yang kendaraan alat beratnya menyeberang menggunakan jalan umum. Tak bisa laju pula karena banyak lumpur dan tanah terbawa dari kendaraan yang baru saja dari tambang.

Geliat kawasan pertambangan memang sudah terasa sejak di Kelurahan Bantuas hingga Sangasanga. Truk-truk besar lalu-lalang, hingga debu jadi akrab di jalan. Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim Pradarma Rupang menyebut, ada 34 izin usaha pertambangan (IUP) yang menguasai sekitar 65 persen wilayah di Kota Juang ini. Sisanya baru permukiman dan sebagainya. Perusahaan tambang batu bara di Sangasanga ini beraneka ragam. Dari yang kecil hingga besar, dari yang legal hingga ilegal. Lokasi pertambangan pun cukup strategis. Ongkos distribusi tidak perlu banyak karena tak jauh dari sungai yang hampir menuju muara. Jadi, jangan heran jika di Sangasanga mudah menemukan jetty alias pelabuhan bongkar muat batu bara. Tapi jangan heran jika beberapa tak ada papan namanya.

Banyaknya jetty, juga berpengaruh pada eksistensi tambang ilegal. Semakin cepat batu bara hasil tambang ilegal dimuat di kapal ponton, makin menguntungkan bagi para pengusaha gelap. Sebab, tak mudah melacak batu bara hasil pertambangan legal atau ilegal jika sudah di kapal ponton. Rupang mengatakan, pada dasarnya tambang legal dan ilegal itu bisa dibedakan secara kasatmata.

"Misalnya tambang ilegal itu tidak ada papan nama atau pemberitahuan pertambangan. Cuma dipagari seng biar tidak terlihat pertambangan, biar dikira lagi buat perumahan dan sebagainya," ucapnya.

Di sisi lain, bisa juga diidentifikasi dengan ketiadaan pos pengamanan di depan tambang. Serta pekerja yang tak mengenakan seragam khusus perusahaan.

"Tetapi, sekarang agak susah juga. Sebab, pertambangan legal pun juga sering tak taat aturan," ungkap Rupang.

Keberadaan tambang ilegal jelas akan merugikan pemerintah. Sumber daya dikeruk, tetapi pemerintah tak dapat apa-apa. Betapa menyedihkan pula karena masyarakat tentu menerima dampaknya. Bencana alam atau tewasnya anak di lubang tambang contohnya.

Rupang mengatakan, eksistensi tambang ilegal di kawasan ini juga banyak disebabkan karyawan perusahaan tambang yang bermain. Tak sedikit modus tambang ilegal terjadi di kawasan yang izin tambangnya sudah habis. Nah, yang tahu di kawasan itu ada batu baranya atau tidak adalah si karyawan dalam. Jadi, dimanfaatkanlah untuk membuat tambang ilegal. Bekerja sama dengan pemilik jetty terdekat yang siap segera mengangkut batu bara.

Pertambangan yang legal pun bukan berarti bebas masalah. Selain masalah bencana akibat berkurangnya ruang hijau, pertambangan legal nyatanya tak benar-benar taat aturan. Seperti kasus longsor akhir tahun lalu di Kelurahan Jawa, Sangasanga yang menyebabkan rumah warga longsor dan jalan terputus.(tim kp)

loading...

BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*