MANAGED BY:
SABTU
16 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 18 Januari 2019 07:52
PILEG RASA PILWALI

Perang Bintang Menuju Karang Paci

PROKAL.CO, Pemain lama yang tak sekali-dua kali duduk di Karang Paci akan diuji elektabilitasnya oleh beberapa pendatang baru. Mulai istri wali kota, putri mantan gubernur dua periode, hingga anggota DPR RI yang turun kelas. Siapa yang layak?

PETA pertarungan pemilihan legislatif (pileg) DPRD Kaltim April mendatang berlangsung di enam daerah pemilihan (dapil). Dari ke semuanya, Dapil Kaltim 1 atau Samarinda menyajikan pertarungan sengit. Sebanyak 163 calon legislator memperebutkan 12 kursi.

Sonny Sudiar, pengamat politik dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda menuturkan, sebagai ibu kota Kaltim, Samarinda menjadi daerah yang seksi untuk dijadikan wadah pertarungan beberapa kandidat anggota legislatif.

”Bagi petahana, ini menjadi ujian baru. Dalam artian, selain muncul parpol baru, juga ada pergeseran atau perpindahan tokoh ke partai baru. Sehingga Samarinda akan menjadi tempat yang sangat menarik. Dengan DPT (daftar pemilih tetap) terbesar yang hampir 559 ribu jiwa, Samarinda potensial untuk diperebutkan,” ulas Sonny.

Berkaca pada agenda pemilihan sebelumnya, partisipasi pemilih di Samarinda di atas 60 persen, maka tingkat keterpilihan caleg dengan pergerakan yang masif terbilang besar. Dikatakan Sonny, geografis Dapil Samarinda yang jauh berbeda dibanding Dapil Kutai Kartanegara atau Dapil Bontang, Kutai Timur, dan Berau, turut menambah level perebutan kursi DPRD Kaltim kian sengit.

“Tinggal bermodalkan popularitas,” ungkapnya. Menyelami nama-nama caleg DPRD Kaltim Dapil Samarinda, Sonny menuturkan, harus dihitung dengan cermat. Terlebih kursi yang tersedia hanya 12.

Pertama, lanjut dia, partai politik yang perolehan suaranya tidak sampai 4 persen pada pemilu April nanti, dipastikan tidak masuk penghitungan kursi. Menurutnya, dari 16 partai yang bertarung, partai lawas seperti Golkar, PDI Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan, Gerindra, dan Partai Kebangkitan Bangsa akan mengisi kursi yang tersedia.

”Pileg itu, selain berbicara ketokohan, juga finansial. Dalam hitungan saya, komposisi 12 kursi berkaca pada Pileg 2014, sepertinya Golkar akan mendapat dua kursi lagi. Sementara partai lain, dalam hitungan saya, yang berpotensi mendapat dua kursi adalah PDIP dan Gerindra,” tuturnya.

Melanjutkan analisisnya, Sonny mengungkapkan, sepak terjang PDIP menarik dibahas. Sebagaimana diketahui, di level kabupaten/kota, figur terkuat PDIP hanya ada di Samarinda. Yakni pada sosok Siswadi. 

”Saya tidak melihat figur lain sekaliber Siswadi. Tapi di DPRD Kaltim sangat jomplang. Ada Ananda Emira Moeis, Zuhdi Yahya, dan Edi Kurniawan. Ketokohan mereka tak perlu diragukan lagi. Pak Edi mantan calon wawali Samarinda bersama Ipong Muchlissonni pada 2010. Kemudian Ananda anak mantan politikus senior PDIP Emir Moeis. Pernah mencalonkan sebagai anggota DPR RI pada 2014 bersama Zuhdi Yahya. Ini modal kuat dan berpotensi untuk PDIP meraih dua kursi, karena ada tiga orang ini di Dapil Samarinda,” jelasnya.

Meski memiliki kans yang sama, peluang Zuhdi lebih besar ketimbang Ananda untuk meraup kursi pertama PDIP Dapil Samarinda. Berkaca pada Pileg 2014, suara Zuhdi untuk DPR RI di atas Ananda Emira Moeis.

”Ketika turun kelas bersama Zuhdi, saya kira Ananda sulit bertarung melawan Zuhdi. Basis pemilih Zuhdi tradisional. Dengan modal Pemilu 2014, saya kira Zuhdi berpeluang ketimbang Ananda ataupun Edi. Ditambah punya modal finansial yang kuat ketimbang Ananda dan Edi,” katanya.

***

Sebagaimana diketahui, pelaksanaan Pemilu 2019 ini berbeda dibanding sebelumnya. Jika Pemilu 2014 memakai metode BPP (bilangan pembagi pemilih) dalam menentukan jumlah kursi, maka pemilu kali ini akan menggunakan teknik Sainte Lague untuk menghitung suara.

Bagaimana cara menghitung suara dengan teknik ini? UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu menyebutkan, bahwa partai politik harus memenuhi ambang batas parlemen sebanyak 4 persen dari jumlah suara. Hal ini diatur dalam Pasal 414 Ayat 1.

Sesudah partai memenuhi ambang batas parlemen, langkah selanjutnya adalah menggunakan metode Sainte Lague untuk mengonversi suara menjadi kursi di DPR.

Hal itu tertera dalam Pasal 415 (2), yaitu setiap partai politik yang memenuhi ambang batas akan dibagi dengan bilangan pembagi 1 yang diikuti secara berurutan dengan bilangan ganjil 3, 5, 7, dan seterusnya. Dijelaskan Sonny, jika menghitung peluang keterpilihan dengan metode Sainte Lague, maka kursi pertama DPRD Kaltim Dapil Samarinda menjadi milik Golkar. Kemudian kursi kedua milik PDIP. Ketiga Gerindra. Keempat PKS, dan kelima Demokrat.

“Setelah kursi kelima, lalu dibagi tiga. Setelah dibagi tiga kursi keenam lari ke Golkar, baru suara ketujuh lari ke Hanura, suara kedelapan NasDem, kesembilan PAN, kesepuluh PPP. Setelah dibagi lagi, kursi kesebelas PDIP dan kedua belas ke PKB. Kira-kira komposisinya seperti itu. Sehingga 12 kursi Dapil Kaltim 1 akan diisi 10 parpol. Dengan catatan, dua Golkar dan dua PDIP,” sebutnya.

Beralih ke figur, tutur Sonny, caleg Gerindra Andi Harun dan Agus Suwandi harus bekerja keras agar sama-sama terpilih. Sebab, peluang merebut dua kursi antara PDIP dan Gerindra begitu terbuka.

”Di Gerindra ada dua nama yang kuat, Suwandi dan Andi Harun. Tapi saya sudah bisa pastikan Gerindra dapat satu kursi. Cuma kursi kedua ini apakah bisa diraih Gerindra? Harus bertarung ketat dengan PDIP,” katanya.

Bagaimana dengan Golkar? Dari analisis Sonny, kursi pertama akan diperebutkan empat nama sekaligus. Yakni petahana Sapto Setyo, Abdurahman Al Hasani, Rita Barito, dan Dayang Donna Faroek selaku penantang. Namun, melihat suara Abdurahman yang terkonsentrasi di Samarinda Seberang, dirinya memperkirakan Abdurahman berpeluang merebut kursi Golkar yang pertama.

”Sapto jadi underdog. Pada 2014 kan Golkar ada tiga kursi dari Dapil Samarinda. Yakni Andi Harun, Dahri Yasin, dan Sapto. Ketiadaan Andi Harun ini akan diisi oleh Abdurahman,” sebutnya. Adapun hengkangnya Andi Harun ke Gerindra diyakini turut menggerus suara Golkar dari loyalis Andi Harun sekitar 24 ribu suara.

“Sehingga siapa yang berpeluang di antara Sapto, Rita, dan Dayang? Dengan nama Awang Faroek yang menempel, Dayang menjadi perhatian publik meskipun belum teruji,” ujarnya.

Bergeser ke PKB, Sonny menyebut pertarungan cuma akan melibatkan petahana Jahidin dan Herwan Susanto. Herwan sebelumnya tercatat sebagai politikus Hanura. ”PKB kemungkinan besar hanya satu dari Samarinda. Kemudian kekosongan ruang yang ditinggalkan Herwan akan diisi Surpani. Jadi bisa saya garansi, Hanura pasti Surpani. Sementara PPP pasti Rusman Yaqub dan NasDem pasti Saefuddin Zuhri,” sebutnya.

Adapun PAN, kemungkinan besar akan diwakili oleh Jawad Sirajuddin. ”Meskipun dia (Jawad) pendatang baru. Tapi, dia punya basis suara yang loyal. Sementara Demokrat, semua akan bertaruh. Puji Setyowati Jaang, Achmad Sukamto, dan Jafar Haruna. Jika nanti yang terpilih adalah Bu Puji, bisa jadi karena pengaruh suaminya yang wali kota Samarinda plus ketua DPD Demokrat Kaltim,” imbuhnya.

BAYANGAN PILWALI 2020

Pemilihan wali kota Samarinda yang dijadwalkan digelar tahun depan jadi batu loncatan beberapa figur pada Pileg 2019 DPRD Kaltim Dapil Samarinda. Terlebih pada pilwali mendatang, tak ada calon petahana. Dikatakan Sonny, urutan kedua dan ketiga perolehan suara menjadi sangat penting. Seperti yang bakal terjadi di Demokrat. Menurutnya, sosok Puji Setyowati menjadi figur terdepan yang diusung Demokrat sebagai wali kota Samarinda.

“Sehingga jika Sukamto ingin anggota parlemen di Karang Paci, dia harus nomor dua. Ini mengantisipasi ada PAW (pergantian antarwaktu). Dan pasti ada PAW. Apalagi ketika Bu Puji Setyowati terpilih,” urainya.

Menurutnya, Pileg DPRD Kaltim Dapil Samarinda sangat relevan dengan Pilwali Samarinda 2020. Kontestasi April nanti menjadi wadah untuk mengukur sampai sejauh mana elektabilitas pemilihan kepala daerah.

“Bagi saya, yang berpeluang mencalonkan kembali sebagai wali kota seperti Andi Harun, Bu Puji, dan Saefuddin Zuhri. Surpani juga. Cuma, untuk Pilwali Samarinda harus melihat Pileg 2019. Kira-kira berapa yang kursi yang berhasil diraih masing-masing  parpol. Pilwali 2020, ketika Pak Jaang tidak bisa lagi mencalonkan, akan muncul figur baru dan terbuka bagi,” katanya.

Selain parpol, lanjut dia, ikatan primordial kesukuan menjadi sangat penting. Sehingga tampaknya NasDem dan Demokrat tidak akan berkoalisi. Itu jika Demokrat mengusung Puji Setyowati Jaang dan NasDem mengusung Saefuddin Zuhri. 

“Jawa ketemu Jawa tidak akan ketemu. Nah, kalau pun terjadi koalisi, kawin antara NasDem dan Demokrat, saya bisa pastikan Saefudin Zuhri tidak akan terpilih,” ungkapnya.

Kemungkinan lainnya, Pilwali Samarinda mengikuti peta politik nasional. Yakni koalisi antara PAN, PKS, dan Gerindra. “Kemungkinan kalau Pak Darlis Pattalongi (ketua DPD PAN Kaltim) turun, bisa jadi PKS ada Sarwono. Dari Gerindra ada Andi Harun. Tinggal diatur. Koalisi besar NasDem, PDIP, dan Golkar harus mengusung satu calon. Nama Dayang berpeluang kembali,” ulasnya.

Berkaca pada skema tersebut, Sonny mengatakan, bongkar muat anggota legislatif setelah Pemilu 2019 berpeluang terjadi.

PERPUTARAN UANG MENINGKAT

Sementara itu, dari sisi ekonomi, Pemilu 2019 diperkirakan turut meningkatkan perputaran uang di daerah. Hal itu seiring banyaknya konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Muhamad Nur mengatakan, secara logis pada saat pemilihan pimpinan daerah perputaran uang pasti lebih banyak. Hal itu terjadi karena ada anggaran penyelenggaraan pemilu oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), ada biaya kampanye dan sebagainya. Sehingga perputaran uang pasti lebih banyak dibandingkan biasanya.

“Dibandingkan saat pemilihan gubernur tahun lalu, tahun ini akan lebih banyak perputaran uang. Karena, pemilihan legislatif melibatkan banyak calon. Mulai dari DPRD kota, provinsi, DPR RI, dan Pilpres 2019,” jelasnya kepada Kaltim Post, Selasa (15/11).

Dia mengatakan, biasanya pada tahun politik, khususnya saat kampanye komponen produk domestik regional bruto (PDRB) menunjukkan perubahan signifikan. Seiring dengan penyelenggaraan pemilihan umum adalah konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT). Peningkatan konsumsi LNPRT pada periode pemilihan disebabkan peningkatan keterlibatan organisasi kemasyarakatan dan sosial, perkumpulan sosial atau budaya, serta lembaga swadaya masyarakat dan keagamaan dalam mendukung pasangan calon yang akan maju.

“Konsumsi tersebut digunakan untuk pembelian dan pemasangan atribut kampanye, bantuan sosial ke masyarakat dalam rangka kampanye, serta kegiatan-kegiatan kampanye oleh calon,” katanya.

Sebagai contoh, pada Pilgub Kaltim 2013, konsumsi LNPRT meningkat hingga 34,8 persen year on year (yoy). Sementara di periode Pilkada 2015, pertumbuhan konsumsi LNPRT mencapai 17,6 persen (yoy). Namun demikian, konsumsi LNPRT langsung ternormalisasi di periode berikutnya seiring penggunaan atribut kampanye yang telah selesai.

“Meningkatnya konsumsi LNPRT pada saat kampanye tentunya membuat perputaran uang lebih banyak,” ungkapnya.

Namun, semakin bertambahnya teknologi kampanye bisa dilakukan lewat media sosial, dirinya masih sulit memproyeksi pertumbuhan konsumsi LNPRT, yang disebabkan semakin besarnya penggunaan teknologi dalam kampanye periode ini. Karena biaya untuk pembuatan atribut kampanye dapat lebih rendah. Sehingga dibutuhkan perhitungan yang jelas.

“Dengan calon yang lebih banyak, dan tingkatan berbeda-beda maka datanya tidak bisa diproyeksikan. Namun, peningkatan perputaran uang pasti terjadi,” pungkasnya. (tim kp)

Penulis:

-         Muhammad Rizki

-         Raden Roro Mira Budiasih

-         Catur Maiyulinda

Editor:

-         Ismet Rifani

loading...

BACA JUGA

Senin, 28 Januari 2019 08:42

Dikepung Galian Emas Hitam

KOTA Juang, begitu julukan Sangasanga. Sebuah kecamatan di tenggara Samarinda…

Senin, 28 Januari 2019 08:28

Berpotensi Menjadi Penyumbang Swasembada Daging

AGENDA peringatan peristiwa Sangasanga Merah Putih yang jatuh setiap tanggal…

Jumat, 25 Januari 2019 08:17

Saatnya Beli Rumah Tanpa Riba

Ketika akan membeli rumah, banyak skema yang bisa ditempuh. Termasuk…

Jumat, 25 Januari 2019 08:12

“Kami Tidak Boleh Ambil Keuntungan Lain”

PERBEDAAN pembiayaan kepemilikan rumah antara bank konvensional dan bank syariah…

Senin, 21 Januari 2019 08:42

Waspada Rayuan Kosmetik Ilegal

Kulit putih, mulus, dan bercahaya jadi impian banyak perempuan, bahkan,…

Senin, 21 Januari 2019 08:38

Iklan Artis Bukan Jaminan

TOKO daring kerap menjadi tempat mudah menemukan kosmetik ilegal. Dari…

Senin, 21 Januari 2019 08:33

Raup Miliaran dari Kosmetik Ilegal

AWAL tahun Balikpapan dan Samarinda disapa oleh pengungkapan kosmetik ilegal…

Jumat, 18 Januari 2019 07:52

PILEG RASA PILWALI

Pemain lama yang tak sekali-dua kali duduk di Karang Paci…

Jumat, 18 Januari 2019 07:46

Gagal, Keluarga Bisa Ikut Stres

ALAT peraga kampanye (APK) berdiri di tempat-tempat strategis. Berharap bisa…

Jumat, 18 Januari 2019 07:41

Suara Sah Harus Ditentukan Lebih Dulu

PEMILIHAN legislatif 2019 akan menggunakan metode Sainte Lague dalam menentukan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*