MANAGED BY:
SABTU
16 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 18 Januari 2019 07:46
Gagal, Keluarga Bisa Ikut Stres
Wahyu Nhira

PROKAL.CO, ALAT peraga kampanye (APK) berdiri di tempat-tempat strategis. Berharap bisa menarik simpati mereka yang melihatnya. Menggoda dengan senyum dan janji manis. Berhasrat duduk di kursi legislatif, menjadi wakil rakyat. Pemilihan legislatif (pileg) di depan mata. Semacam lomba, banyak calonnya. Seperti yang pernah terjadi sebelumnya di beberapa daerah, kondisi para calon anggota legislatif (caleg) yang gagal tak jarang mengalami gangguan kejiwaan.

Psikolog klinis RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda, Wahyu Nhira Utami, mengatakan bahwa gangguan psikologis tidak hanya dialami oleh yang gagal. Secara awam, caleg gagal memiliki potensi stres lebih tinggi. Ekspektasinya tinggi untuk menang. Namun, realita berkata lain.

“Mereka yang menang berpotensi stres juga. Lalu, orang dengan ekspektasi rendah, kemudian ternyata menang, umumnya mengalami kecemasan,” ungkap Nhira.

Apalagi jika caleg diajukan oleh mesin politiknya dengan maksud memenuhi kuota. Tidak ada hasrat ingin menang. Eh, ternyata malah terpilih. Cemas, bingung, dan tentu saja kaget. Berujung pada gangguan susah tidur, sulit konsentrasi, dan timbul gejala stres.

Terjadi pula pada kondisi mereka yang mencalonkan dengan “tujuan lain”. Semacam hanya ingin dikenal. Atau bukan orang yang paham benar dunia politik. Ketika terpilih, ternyata apa yang dijalani sehari-hari dirasa berat.

“Bingung. Belum lagi ketika rakyat menagih janji. Belum siap mental,” jelas alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta itu.

Pada mereka yang gagal, terdapat ketidakseimbangan secara psikis. Jika secara pribadi (internal) seseorang tersebut bisa mengelola, maka tidak akan terlalu berdampak. Berbeda pada mereka dengan ketahanan stres rendah.

Itu mengapa salah satu syarat administrasi pendaftaran caleg wajib melampirkan surat keterangan sehat jasmani pun rohani. Berkas tersebut bukan sekadar tulisan di atas secarik kertas. Berbagai aspek khususnya rohani atau psikis dicek. Seperti ketahanan stres, kemampuan mengolah emosi, dan aspek psikis lainnya. Tes psikologi bersifat prediktif. Memberi gambaran bagaimana sosok yang bersangkutan. Dipahami para caleg, menjadi bahan refleksi sekaligus evaluasi. Menyadari bahwa kondisi kesehatan mental belum cukup baik, misalnya.

“Banyak orang menutup mata. Kesehatan mental itu masih dikesampingkan,” kata Nhira. Dari pengalamannya, dia pernah menerima klien dari kasus caleg gagal.

Mulanya klien datang bukan untuk menceritakan kondisi ayahnya yang gagal duduk di kursi legislatif. Klien meminta pertolongan untuk masalah lain. Ternyata setelah dirunut, akarnya adalah sang ayah gagal caleg.

“Dia korban. Kondisinya bukan dari keluarga yang berada. Seluruh harta dikorbankan untuk kampanye. Dulu rumah sendiri, sekarang menyewa. Dulu kendaraan pribadi, sekarang angkutan umum. Semua kebanggaan dia hilang,” tutur Nhira.

Awalnya klien memiliki kepercayaan diri yang bagus. Semakin lama, lingkungan mulai menyudutkan. Tetangga nyinyir sana-sini. Sang ayah tidak mampu mengatasi kekalahan. Di rumah uring-uringan, mudah marah. Otomatis berdampak pada seluruh anggota keluarga. Tidak hanya caleg yang berpotensi mengalami gangguan, keluarga turut terkena imbasnya. Sebab, dinamika gangguan psikologis bergantung ketahanan stres dan kognitif.

Stres terbagi dalam level ringan, sedang, dan berat. Nhira menjelaskan, seseorang dikatakan stres tidak harus melewati level ringan dahulu. “Bisa jadi langsung berat. Apalagi karena dia ketahanan stresnya rendah. Ditambah lingkungan keluarga kurang mendukung,” paparnya.

Nhira menyebut, perlu adanya manajemen ekspektasi, menata harapan. Tidak tinggi, tidak juga sebaliknya. Hal itu ditentukan berdasarkan alasan di balik layar. Apa yang mendorong untuk mencalonkan diri? Nhira menyebut, itu yang mesti dipahami dari awal. Jangan beranggapan, bahwa menjadi anggota legislatif adalah satu-satunya cara.

Tetapkan tujuan, namun fleksibel dengan caranya. Mempersiapkan keluarga juga penting. Memberi pengertian dan jangan memberikan harapan atau ekspektasi tinggi terhadap keluarga.

Ada pula fenomena mengunjungi orang pintar atau dukun demi menang dalam pileg. Meski zaman semakin modern, tidak menutup kemungkinan masih ada yang percaya hal tersebut. Ketika seseorang melakukan perilaku tidak lazim guna mencapai tujuan, terdapat pertanyaan besar, apa yang terjadi dengan pikirannya?

“Berarti ada fungsi kognitif yang tidak berjalan semestinya. Fungsi berpikirnya tidak benar,” sebut perempuan berjilbab itu.

Kemampuan analisis agar terpilih justru mengantarkan dia untuk percaya pada dukun. Padahal sederhananya, ada banyak cara untuk menarik simpati pemilih. Ketika dukun adalah jawaban, Nhira menyimpulkan bahwa kemampuan berpikir caleg ada yang salah.

Serupa tapi tak sama. Caleg yang memilih strategi kemenangan dengan “membeli suara” dikatakan Nhira, bahwa logika berpikirnya tidak salah. “Memang salah satu logika berpikir. Tapi yang menjadi salah karena menentang norma sosial, pelanggaran hukum juga,” kata dia.

Potensi gangguan psikologis saat pileg bukan hal baru. Jangan tumpukan beban pada diri hingga berpengaruh pada keluarga. Belajar mengelola harapan. Meyakini, bahwa ekspektasi tak selalu sejalan realitas. (tim kp)

loading...

BACA JUGA

Senin, 28 Januari 2019 08:42

Dikepung Galian Emas Hitam

KOTA Juang, begitu julukan Sangasanga. Sebuah kecamatan di tenggara Samarinda…

Senin, 28 Januari 2019 08:28

Berpotensi Menjadi Penyumbang Swasembada Daging

AGENDA peringatan peristiwa Sangasanga Merah Putih yang jatuh setiap tanggal…

Jumat, 25 Januari 2019 08:17

Saatnya Beli Rumah Tanpa Riba

Ketika akan membeli rumah, banyak skema yang bisa ditempuh. Termasuk…

Jumat, 25 Januari 2019 08:12

“Kami Tidak Boleh Ambil Keuntungan Lain”

PERBEDAAN pembiayaan kepemilikan rumah antara bank konvensional dan bank syariah…

Senin, 21 Januari 2019 08:42

Waspada Rayuan Kosmetik Ilegal

Kulit putih, mulus, dan bercahaya jadi impian banyak perempuan, bahkan,…

Senin, 21 Januari 2019 08:38

Iklan Artis Bukan Jaminan

TOKO daring kerap menjadi tempat mudah menemukan kosmetik ilegal. Dari…

Senin, 21 Januari 2019 08:33

Raup Miliaran dari Kosmetik Ilegal

AWAL tahun Balikpapan dan Samarinda disapa oleh pengungkapan kosmetik ilegal…

Jumat, 18 Januari 2019 07:52

PILEG RASA PILWALI

Pemain lama yang tak sekali-dua kali duduk di Karang Paci…

Jumat, 18 Januari 2019 07:46

Gagal, Keluarga Bisa Ikut Stres

ALAT peraga kampanye (APK) berdiri di tempat-tempat strategis. Berharap bisa…

Jumat, 18 Januari 2019 07:41

Suara Sah Harus Ditentukan Lebih Dulu

PEMILIHAN legislatif 2019 akan menggunakan metode Sainte Lague dalam menentukan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*