MANAGED BY:
SELASA
22 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Sabtu, 12 Januari 2019 07:24
Prostitusi

Oleh: Bambang Iswanto*

Bambang Iswanto

PROKAL.CO, Di tengah hiruk pikuk berita dan tingginya tensi politik, kabar tentang prostitusi menyeruak. Seperti menjadi AC, pendingin panasnya suhu politik. Artis diduga berprofesi sebagai pekerja seks komersial digerebek di Surabaya. Ramainya pemberitaan tentang dugaan prostitusi high level, yang melibatkan artis sebagai pekerja seks komersial, bukan berita baru.

Di Indonesia, berita ini ulangan yang terjadi beberapa waktu lalu. Sedikit lebih hangat karena harga yang fantastis. Disebut sebagai harga transaksi esek-esek tingkat tinggi. Dari informasi yang beredar, harga minimum untuk bisa mendapatkan jasa layanan artis, Rp 25 juta. Angka tersebut bisa tembus sampai Rp 80 juta. Bahkan, Rp 100 juta. Bergantung tingkat ketenaran artis yang ingin digunakan jasanya.

Angka tersebut banyak menjadi bahan kalkulasi yang bersifat candaan, bahkan serius. Pada dinding lini masa Facebook seorang caleg misalnya, dengan uang Rp 80 juta, sang caleg bisa menambah sekitar 250 baliho yang disebar pada dapilnya sebagai amunisi segar yang signifikan menambah daya gedor popularitasnya.

Dalam candaan yang lain, ada orang yang mengaku jomblo mengatakan, dengan uang Rp 80 juta tercapai cita-citanya untuk bisa menikah. Jika diteruskan candaan ini, mungkin pikiran orang yang berniat berpoligami, dia akan mengelola uang itu untuk biaya menikah lagi.

Bagi penanggap serius, berbeda versinya. Sebagian besar menyayangkan bahwa uang yang lumayan besar tersebut habis menguap dalam hitungan waktu tidak lebih dari satu malam, diiringi dengan uap dosa-dosa. Golongan ini berandai-andai, seandainya mereka memiliki uang sebesar itu, mereka akan umrah ke rumah Allah.

Sebagian lain mengatakan, uang sebesar itu jika disumbangkan untuk kepentingan sosial, akan menjadi amal jariah yang terus mengalir meski penyumbangnya telah meninggal. Dan masih banyak versi narasi tentang bagaimana cara orang menggunakan uang sebanyak itu, sesuai kondisi masing-masing.

Dalam fakta sejarah, prostitusi sudah ada sejak peradaban manusia. Dari masing-masing tempat dan waktunya terdapat panggung pelacur yang memunculkan nama-nama tersohor dan harga yang tinggi pula. Tidak perlu kaget dengan harga yang tinggi tersebut, seolah ini persoalan baru.

HUKUM DAN POLITISASI PROSTITUSI

Ternyata di balik viralnya berita tentang side job oknum artis dan tarifnya yang wah, tidak luput dari politisasi. Kejadian dan penerima jasa oknum artis dihubungkan dengan moral dari pendukung salah satu calon presiden. Pelaku digeneralisasi, seolah-olah kebanyakan dari pendukung capres tertentu adalah rusak moralnya dan terlibat prostitusi.

Berita apapun yang menjadi trending topic selalu terhubung dengan politik dan pilpres. Tujuannya tidak lain adalah menumpang ketenaran untuk mendapatkan keuntungan politik, berupa semakin tingginya elektabilitas capres yang didukung.

Pada sisi lain, tidak sedikit muncul pernyataan yang menyudutkan dan menghakimi oknum artis. Semua kesalahan ditimpakan kepada artis sebagai sampah masyarakat. Banyak pihak lain yang harus bertanggung jawab terhadap persoalan ini. Pengguna jasa sering tidak terdengar kabar lanjutannya dan tidak mendapatkan sanksi apapun. Padahal, dalam kacamata logika hukum, pengguna jasa merupakan pelanggar hukum karena menggunakan jasa yang tidak sesuai hukum.

Pada tataran hukum, tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi, prostitusi adalah bagian dari zina, hukumnya haram. Masalahnya, prostitusi tidak berhenti dengan sekadar menghukum dan menghukum pelaku.

Prostitusi sering diletakkan pada tataran normatif hitam-putih, salah dan benar saja. Prostitusi belum maksimal dianggap sebagai persoalan sosial yang kompleks dan perlu solusi untuk meminimalisasi dampak sosial yang lebih besar.

Penanganan prostitusi tidak melulu pada penindakan hukum. Penanganan yang bersifat preventif (pencegahan), kuratif (pengawasan), bahkan represif menjadi tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah. Seluruh bentuk penanganan, dari yuridis, preventif, kuratif, dan represif dijalankan oleh Rasul saat menghadapi persoalan prostitusi. Pada masa pemerintahan nabi, persoalan prostitusi dapat dituntaskan dengan baik.

PROSTITUSI MASA NABI

Pada masa pra-Islam (jahiliah), prostitusi dan zina tumbuh subur. Sejumlah nama pekerja seks komersial saat itu bahkan dipuja dalam syair yang menjadi keahlian mereka. Umm Mahzuul, Umm ‘Ulith, Hannah al-Qibthiyah, Mariya, Halalah, Ummu Suwaid, Sarifah, Farasah, dan Qaribah adalah nama-nama PSK populer pada zaman jahiliah. Jejak prostitusi pada masa jahiliah dapat dilacak dari riwayat Aisyah ra yang menyebutkan, dulu sudah banyak laki-laki yang dengan bebas mendatangi perempuan dan melakukan transaksi seksual dengan imbal bayaran tertentu. Para lelaki mendatangi tempat-tempat yang ditandai dengan bendera di depannya sebagai tempat pelacuran.

Raghib Sirjani dalam penjelasan Sirah Nabawiyah-nya menambahkan informasi bahwa tanda-tanda bendera yang dimaksud adalah bendera warna merah yang dipasang di depan tenda atau tempat prostitusi. Pengguna jasa yang sekarang biasa disebut lelaki hidung belang bebas mencari kesenangan di rumah prostitusi tersebut dengan membayar sejumlah harga yang berlaku. Ada fakta menarik, jika ada pelacur yang hamil, anak yang lahir akan dicarikan status ayahnya berdasarkan kemiripan wajah. Penentu status ayah diserahkan kepada pakar qafiyah (ahli penentu nasab).

Prostitusi dari zaman jahiliah terus berlangsung secara bebas hingga akhirnya dilarang secara resmi oleh Muhammad Rasulullah. Pelarangan secara resmi diabadikan dalam QS An-Nuur, Ayat 33. Beberapa ahli tafsir menyebut, latar historis (asbabun nuzul) ayat diwahyukan adalah aduan dua budak milik Abdullah bin Ubay yang bernama Masikah dan Amimah kepada Rasul.

Mereka berdua mengaku dipaksa melacur dan menyetorkan hasil bayarannya kepada tuannya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Masikah menolak melacur lagi setelah belajar Islam kepada seorang dari kalangan Ansor. Saat lelaki hidung belang datang, dikabarkan Masikah sedang salat. Setelah itu dipaksa melayani tamu yang sudah mendapatkan izin dari majikan Masikah yang mendapatkan penolakan Masikah, berujung pada penganiayaan terhadap Masikah dan melukai wajahnya.

Masikah sudah bertobat dan tidak sudi melacurkan dirinya lagi. Pada saat yang memungkinkan, secara sembunyi-sembunyi menghadap Rasulullah dan menyampaikan hal yang menimpanya. Tidak lama setelah itu turunlah ayat yang dengan tegas melarang adanya pelacuran lagi.

Pelarangan tegas tentang larangan prostitusi tersebut merupakan langkah preventif untuk mencegah terjadinya prostitusi serupa. Bukan hanya dalam kalangan hamba sahay, tapi dalam seluruh kalangan. Tidak berhenti pada langkah preventif dengan aturan yang tegas, langkah pencegahan lain dilakukan Rasul adalah dengan memberikan dorongan agar seluruh hubungan biologis disalurkan melalui institusi pernikahan.

Langkah revolusioner Islam dan Rasul terkait posisi perempuan adalah dengan mengangkat harkat dan martabat mereka, yang awalnya sering diidentikkan dengan kehinaan menempati kedudukan yang sama dan mulia.

Pada masa jahiliah, kelahiran anak perempuan dianggap sebagai bencana dan aib, sehingga kalangan tertentu membunuh anak perempuan yang lahir. Islam datang, anak perempuan sama kedudukan dan kemuliaannya dengan anak laki-laki. Tidak ada lagi pembunuhan bayi perempuan.

Masa jahiliah, perempuan tidak berhak menerima waris bahkan boleh diwariskan. Islam datang menghapus tradisi ini dan menjadikan perempuan berhak menjadi ahli waris.

Melacurkan diri, sama artinya dengan kembali menghinakan diri. Baik di hadapan manusia, terlebih di hadapan Allah Yang Mahamulia. Wahai perempuan, laki-laki, artis, non-artis, pejabat, rakyat, dan kita semua, jangan lacurkan dan hinakan diri! Ya Allah, hindarkan dan jauhkan kami semua dari segala jenis pelacuran yang menghinakan diri kami, pelacuran politik, pelacuran akademik, pelacuran sosial, dan pelacuran-pelacuran yang menjual harkat martabat kami! Amin. (dwi/k16)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 19 Januari 2019 06:59

Tumbler: Langkah Awal Peduli Kualitas Air Minum Isi Ulang

BARU - baru ini kita dikejutkan dengan video laut yang…

Kamis, 17 Januari 2019 08:37

Banjir Dungu

OLEH: SUNARTO SASTROWARDOJO (DOSEN SEKOLAH PASCA PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH…

Rabu, 16 Januari 2019 07:48

Berselancar di Atas Batu Bara

OLEH: NUGRA, ST(Competent Person Cadangan Coal) BATU BARA, barang Tuhan…

Selasa, 15 Januari 2019 07:59

Jangan Jadi Penyampah

Oleh: Hendrajati, S.Pd (Praktisi K3, Pendiri HSE Indonesia, Mahasiswa S-2…

Selasa, 15 Januari 2019 07:54

Ayo, Konsisten Cinta Persiba

Oleh: Andi Amirul Tarninda BP (Ketua Panpel Piala Soeratin U-17…

Senin, 14 Januari 2019 07:23

Kado Awal Tahun: Jaga Kebersamaan Umat

Oleh: Mukhmahad Ilyasin (Rektor IAIN Samarinda) MASYARAKAT Indonesia merupakan masyarakat…

Senin, 14 Januari 2019 06:53

Mengembangkan Ekonomi Syariah lewat Dunia Digital

Oleh: Rifki Maulana (Analis ekonomi–BI Kaltim) INDONESIA dikenal sebagai salah…

Sabtu, 12 Januari 2019 07:24

Prostitusi

Di tengah hiruk pikuk berita dan tingginya tensi politik, kabar…

Kamis, 10 Januari 2019 07:40

Mari Budayakan Membaca

Oleh: Septyana Endang H.S. (Guru Bahasa Indonesia di SMP 34…

Kamis, 10 Januari 2019 07:38

Banggalah Berbahasa Indonesia

Oleh: Nurhana (Guru MAN 2 Samarinda) SATU dari empat fungsi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*