MANAGED BY:
RABU
19 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 11 Januari 2019 09:35
Jadi Momok, Titik Longsor Bertambah

Pemkot-DPRD Beda Persepsi soal Bencana

MENANTI PERBAIKAN: Kondisi di Gang Restu, Jalan Abadi, antara RT 2 dan RT 10, Gunung Sari Ilir, Balikpapan Tengah, Kamis (10/1). Tanah longsor terjadi pada Rabu (9/1) malam.

PROKAL.CO, BALIKPAPAN – Tanah longsor di Gang Restu, Jalan Abadi antara RT 2 dan RT 10, Gunung Sari Ilir, Balikpapan Tengah, Rabu (9/1) malam, menjadi insiden pertama 2019. Walaupun tanda-tanda longsor terjadi sejak Oktober 2018, penanganan yang minim membuat siring setinggi 7 meter itu akhirnya ambles. Menutup akses jalan warga di RT 2. Hingga pantauan Kaltim Post kemarin (10/1) hanya kendaraan roda dua yang bisa melintas

“Ada empat mobil warga yang tak bisa keluar. Makanya ini mau kami bersihkan,” ujar Ketua RT 2, Hasranuddin.

Belum tampak upaya penanganan dari pemerintah setempat. Ishak, pemilik rumah nomor 74, di bibir longsoran, menyebut masih menunggu datangnya terpal. Guna menutup material yang berpotensi tergerus apabila hujan. Selain itu, dia hanya bisa pasrah meski lantai bangunan di sisi kiri rumahnya sebagian kecil tak menginjak tanah lagi.

“Tetap bertahan. Mau pindah juga tak ada tempat lagi,” ungkap Ishak yang tinggal hanya berdua dengan istrinya.

Dari pengamatan media ini, longsor membuat teras rumah Ishak hilang selebar 3 meter. Dengan panjang rumah 20 meter, longsor sudah mengikis sepanjang 10 meter sisa tanahnya. Kondisi ini membuat Ishak hanya bisa memasang tali agar tak ada yang mendekat ke bibir longsor. Selebihnya dia hanya berharap ada penanganan segera mungkin.

Media ini juga mengunjungi satu titik longor di sekitar lokasi kejadian. Di depan rumah warga RT 2 Nomor 55 tampak tanah ambles yang belum mendapat penanganan. Satu rumah di bawahnya terancam. Namun, dari informasi warga sekitar, pada 2019 ini, akan dilakukan perbaikan.

“Infonya sudah ada anggaran perbaikan tahun ini. Tetapi hitungannya pas sebelum longsor. Berapanya saya tak tahu,” sebut mantan ketua RT 10 itu.

Seorang warga di kawasan rawan longsor lainnya, Jalan Jenderal Ahmad Yani, RT 49, Nomor 33, Gunung Sari Ilir, Mirwan Hidayat, menyebut setiap malam tak bisa tidur nyenyak. Sejak 2011 rumahnya retak karena pergeseran tanah.

“Ini karena ada pembangunan sekolah sebuah yayasan rumah ibadah di atas rumah kami yang tidak mengindahkan amdal,” sebut Dayat.

Tinggal di rumah yang rawan longsor, ucap Dayat, setiap malam bersama istri, adik, dan tiga anaknya harus tidur di ruang tamu. Sebab dinding kamar tidurnya retak. Setiap hujan, air merembes dari sela-sela retakan. Tak ada yang bisa dilakukannya selain berharap bantuan pemerintah.

“Sama pihak kelurahan disuruh pindah. Tetapi mau pindah ke mana, kami tak punya tempat lain lagi,” ujarnya.

Dia tak ingin kejadian pada 2012 terulang. Saat banjir bandang di Kelurahan Telaga Sari menyebabkan empat orang meninggal tertimbun longsor. Meski sudah ada penanganan, disebut Dayat, wilayah di tempatnya memang rawan longsor.

“Kampung ini yang pernah kena longsor akibat banjir bandang 2012 lalu,” ucapnya.  

Ancaman longsor tak hanya terjadi di Gunung Sari Ilir. Tercatat dari enam kecamatan di Kota Minyak, semuanya memiliki kawasan rawan longsor. Bahkan dari total luas 50.330,57 hektare atau 503,33 kilometer persegi, 85 persen topografinya berbukit sehingga rawan ancaman pergeseran tanah.

Data Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Balikpapan, telah terjadi 50 kasus pergeseran tanah dan longsor selama 2018. Menjadi bencana nomor satu di tahun yang sama. Disusul pohon tumbang dan banjir. Angka ini mengalami penurunan jika dibandingkan 2017 yang mencapai 78 kasus. Soal urutan bencana, di 2017, longsor jadi bencana nomor dua setelah banjir yang mencapai 89 kasus. (lihat grafis).

Kepala BPBD Kota Balikpapan, Suseno, dalam berbagai kesempatan selalu mengatakan, Balikpapan merupakan wilayah rawan longsor. Bahkan, data tahun lalu, ada 18 titik wilayah rawan longsor. Titik ini bakal bertambah seiring semakin berkembangnya pembangunan di Balikpapan.

“Sebanyak 85 persen wilayah di kota ini merupakan daerah rawan bencana alam. Bukan hanya banjir dan tanah longsor, tapi juga bencana lain. Semua perlu diwaspadai masyarakat. Yang sering terjadi belakangan ini adalah bencana banjir dan tanah longsor,” kata Suseno.

Ini berdasarkan kondisi tanah yang bersifat asam (gambut) serta dominan tanah merah yang kurang subur serta bersifat erosif. “Ciri tanah di Balikpapan ini berpasir dengan kontur yang berbukit-bukit. Meskipun curah hujan tidak tinggi, itu cukup berbahaya,” bebernya.

Banyak pembangunan permukiman di wilayah perbukitan menggunakan siring sebagai penahan. Kebanyakan longsor terjadi ketika siring sudah tidak mampu lagi menahan beban karena usia dan struktur yang kurang kuat.

“Sebenarnya tiap longsor, wali kota dan Dinas Pekerjaan Umum langsung mengambil tindakan agar bencana tidak terulang lagi. Yakni, dengan melakukan penyemenan dan pengecoran agar jalan menjadi kuat. Diharapkan potensi bencana jadi berkurang sampai 50 persen,” ucapnya.   

Deteksi dini lebih diutamakan. Potensi longsor bisa terjadi dari aliran air saat hujan. Wilayah yang ditata dan memiliki persiapan yang baik, bisa meminimalisasi bencana longsor. Khususnya lagi terhadap permukiman di lereng atau perbukitan.

“Perhatikan tali airnya. Alur pembuangan air harus di jalur yang tepat, jika aliran air dibiarkan liar begitu saja bisa berpengaruh terhadap kontur lahan yang menjadi penyebab utama pergeseran,” jelasnya.

Sementara itu, untuk anggaran penanganan bencana, dirinya tak bisa berkomentar banyak. Sebab belum melihat angka di APBD 2019. Yang menjadi perhatiannya adalah keterlibatan semua pihak untuk bisa membantu mengurangi potensi longsor. Khususnya di kawasan permukiman.

Ditemui terpisah, anggota Komisi III DPRD Balikpapan Andi Arif Agung menuturkan, longsor yang terjadi di RT 10 dan RT 2, Gunung Sari Ilir akibat terlambatnya penanganan yang dilakukan pemerintah. Dalam berbagai rapat dengar pendapat (RDP) yang dilakukan komisinya, ada perbedaan pandangan dalam mengklasifikasikan bencana yang bisa dibantu anggaran APBD.

“Pemkot maunya bantu kalau itu fasum (fasilitas umum),” ujar Andi.

Sementara dari kondisi yang ada, banyak longsor yang terjadi di permukiman. Meski situasinya rumah warga yang menjadi korban, hanya fasum yang akan diperbaiki jika terjadi kerusakan. Hal ini membuat pihaknya meradang. Padahal, setiap tahun ada anggaran untuk kebencanaan.

“Setiap tahun setahu saya ada Rp 5 miliar untuk bencana. Baik itu yang bersifat program pencegahan hingga perbaikan,” ungkap ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Gunung Sari Ilir itu. (*/rdh/far/k16)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 19 Juni 2019 12:10

Konstruksi Ibu Kota Baru Dimulai 2021

JAKARTA–Rencana pemindahan ibu kota terus dipersiapkan. Meski lokasinya belum ditetapkan,…

Rabu, 19 Juni 2019 10:56
Polemik PPDB Sistem Zonasi

PPDB Bertujuan Mulia, Tapi Pelaksanaan Bermasalah

JAKARTA - Semangat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meniadakan sekolah favorit…

Rabu, 19 Juni 2019 10:53

Makin Menjamur, Guest House Resahkan Perhotelan

Menjamurnya guest house di Kota Minyak diyakini bisa memperbesar lapangan…

Rabu, 19 Juni 2019 10:51

Makin Sadar, Warga Pilih Tukarkan Uang Pecahan di Perbankan

SAMARINDA- Kinerja outflow pada Mei 2019 meningkat 86,03 persen year-on-year…

Senin, 17 Juni 2019 14:50
Atasi Banjir Samarinda, Sekkot Minta Bantuan Pemprov dan Pusat

Atasi Banjir di Samarinda, Ini Kuncinya...

Mengatasi banjir di sejumlah wilayah di Kaltim menjadi pekerjaan utama…

Senin, 17 Juni 2019 14:45

Begini Sistem Anyar Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Negeri

Seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBM PTN) tahun ini…

Senin, 17 Juni 2019 14:28

Pemprov Kaltim Sediakan Rp 10 Miliar Tangani Banjir

SAMARINDA - Usai musibah banjir hampir sepekan melumpuhkan sebagian aktivitas…

Minggu, 16 Juni 2019 23:00

Samarinda Harus Berani Tanpa Tambang

Mengatasi banjir Samarinda cukup pelik. Meski penyebabnya sudah diketahui. Hingga…

Minggu, 16 Juni 2019 22:09

Limbah Perusahaan Kayu Diduga Jadi Penyebab

PUSDALOPS BPBD PPU UNTUK KP TERULANG LAGI : Banjir di…

Minggu, 16 Juni 2019 12:56

Mahulu Mulai Surut, PPU Banjir

BANJIR di Samarinda memang semakin surut. Lalu lintas berangsur-angsur normal.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*