MANAGED BY:
JUMAT
22 MARET
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Rabu, 09 Januari 2019 06:46
Pengusaha Ingin Rupiah Stabil
SERBA SALAH: Penguatan rupiah yang terlalu kencang pada awal tahun ini membuat pengusaha kesulitan dalam menentukan asumsi dan target. Mereka berharap nilai tukar stabil.(DOK/KP)

PROKAL.CO, JAKARTA – Nilai tukar rupiah hingga akhir perdagangan kemarin (8/1) berhasil mempertahankan penguatan atas dolar Amerika Serikat (USD). Berdasar kurs tengah Bank Indonesia (BI) atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), uang garuda tercatat mengalami penguatan 74 poin ke level 14.103 per USD.

Kendati menunjukkan tren apik, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Perkasa Roeslani mengaku tidak berharap lebih pada pergerakan rupiah. Hanya, pihaknya menginginkan adanya stabilitas pada nilai tukar.

"Pengusaha kalau naiknya kekencangan serbasalah, turunnya kekencangan juga serbasalah. Penginnya itu stabil. Kalau naik-turunnya cepat, kita repot bikin planning-nya karena sulit menentukan asumsi. Mungkin banyak yang bilang rupiah menguat kencang itu bagus. Bagi pengusaha, tidak selalu begitu," ujarnya di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, Selasa (8/1).

Bahkan, lanjut Rosan, bagi pengusaha yang berbasis ekspor, penguatan rupiah bukan kabar baik. Asumsi mereka terhadap nilai jual akan tidak tepat sasaran. Sebab, fluktuasi nilai tukar yang berlebihan malah membuat para pelaku usaha kebingungan.

"Mungkin untuk kita yang orientasinya ekspor, mungkin kurang happy juga dengan penguatan yang begitu kencang. Ya seperti komoditas batu bara. Mereka mah turunnya lumayan kencang. Mungkin pengusaha maunya yang seperti itu, stabil," tegasnya.

Ekonom Maybank Myrdal Gunarto mengatakan, rupiah bisa menguat ke range level 13.700-14.000 per USD. Diperkirakan uang garuda melanjutkan tren penguatan dengan didorong arus masuk uang asing seiring aksi investor global kembali masuk ke pasar keuangan negara berkembang. "Yang memiliki imbal hasil menarik dan valuasi bagus dengan latar belakang ekonomi yang cukup stabil dan solid," paparnya.

Beberapa hari terakhir, rilis data ekonomi global mengecewakan dan imbal hasil obligasi AS semakin turun karena ekspektasi kenaikan bunga The Fed yang lebih longgar. "Foreign inflow dari hasil lelang surat utang negara (SUN) pemerintah juga berdampak positif pada penguatan rupiah nanti," imbuhnya.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) akan menguat mengikuti tren tersebut. Ada beberapa sektor yang perlu diperhatikan. Yakni, sektor keuangan, infrastruktur, dan consumer goods.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengungkapkan, keperkasaan rupiah bisa dilacak dari pelemahan ekonomi global di AS dan Tiongkok yang membuat investor memindahkan dana ke negara berkembang. Indikatornya, dolar AS melemah terhadap hampir seluruh mata uang dominan lain. Dollar index menurun 1,25 persen dalam sebulan terakhir sehingga berada di level 96.

Kondisi itu mirip dengan pascakrisis global 2008. "Di mana resesi AS menjadi berkah bagi negara berkembang karena masuknya capital inflow yang cukup deras," jelasnya.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah mengatakan, penguatan rupiah diwarnai optimisme atas prospek hasil negosiasi untuk mengakhiri sengketa dagang AS dan Tiongkok. Juga, perubahan sikap chairman FOMC The Fed atas lintasan suku bunga AS ke depan.

Tidak seperti sebelumnya yang tegas akan menaikkan suku bunga dua kali pada 2019, setelah jatuhnya harga saham di AS, The Fed menyiratkan akan lebih fleksibel. Sejak Desember 2017, The Fed melepaskan kembali surat-surat berharga yang diterbitkan swasta.

Awalnya, semua dibeli The Fed untuk mengatasi krisis keuangan 2008. Saat itu terjadi penarikan likuiditas dari sistem keuangan. Surat berharga milik swasta yang ada pada neraca The Fed sampai saat ini baru turun ke USD 3,86 triliun per Januari 2018 dari USD 4,2 triliun yang bertahan sejak Januari 2014.

Berbagai indikator manufaktur di Eropa dan Tiongkok semakin menunjukkan kemerosotan, mengindikasikan bahwa perang dagang menimbulkan efek negatif. Kesepakatan untuk mengakhiri perang dagang, perubahan kebijakan The Fed, dan berbagai perkembangan data ekonomi tersebut mendorong pelemahan nilai tukar dolar AS secara broad-based. "Menjadi sentimen positif," ungkapnya.

Meski rupiah saat ini menguat, pengusaha tetap waspada terhadap volatilitasnya. Sebab, ketidakpastian masih bisa terjadi. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, sikap Presiden AS Donald Trump masih akan memengaruhi aliran dana yang pada akhirnya menjadi penentu pergerakan nilai tukar.

Faktor perang dagang adalah sentimen utama yang dapat keluar dari mulut Trump. Di samping itu, meski tekanan dari The Fed sedikit mereda, kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga acuan masih ada. Karena itu, Shinta menyarankan pengusaha untuk tak hanya bergantung pada mata uang dolar AS.

Mata uang lain yang bisa menjadi pilihan, misalnya, yuan Tiongkok. Mata uang tersebut sudah semakin banyak diperdagangkan sebagai upaya diversifikasi. Likuiditasnya di pasar juga semakin meningkat. Karena itu, mendapatkan mata uang itu tak begitu sulit. "Menurut saya, daripada kita hanya bertapak dengan apa yang akan terjadi, kita punya solusi-solusi penggunaan mata uang asing lainnya dalam bertransaksi secara bilateral," ucapnya. (ndu2/k15)


BACA JUGA

Rabu, 20 Maret 2019 12:49

Program Direct Call “Hanya” Mempercepat Ekspor

SAMARINDA-Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kaltim mencatat, dalam sebulan…

Rabu, 20 Maret 2019 12:46

Triwulan II 2019, Ekonomi Kaltim Terakselerasi

SAMARINDA-Pada triwulan II 2019 diperkirakan ekonomi Kaltim mengalami akselerasi pertumbuhan.…

Rabu, 20 Maret 2019 12:45

Percepatan Populasi Sapi Terus Digenjot

SAMARINDA-Upaya khusus percepatan populasi sapi dan kerbau bunting (upsus siwab)…

Jumat, 15 Maret 2019 13:45

Kargo Laut Belum Tumbuh Maksimal

SURABAYA – Pertumbuhan jasa pengiriman barang lewat jalur laut belum…

Jumat, 15 Maret 2019 13:43

Pertamina Perpanjang Masa Cicilan Garuda

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) dan tujuh BUMN (badan usaha…

Jumat, 15 Maret 2019 13:32

Target Ekspor RI Realistis

JAKARTA – Kementerian Perdagangan menargetkan pertumbuhan ekspor nonmigas 7,5 persen…

Kamis, 14 Maret 2019 15:16

Produksi Teh Turun, Harga Telur Rendah

JAKARTA – Pelaku usaha berharap Indonesia bisa meningkatkan lahan dan…

Rabu, 13 Maret 2019 12:51

Genjot Produksi Padi, Dituntut Maksimalkan Lahan Rawa

SAMARINDA – Tak hanya melakukan diversifikasi pangan, Pemprov Kaltim dituntut…

Rabu, 13 Maret 2019 12:47

SABAR..!! Pengelolaan APT Pranoto Masih di Tangan Kemenhub

SAMARINDA- Pemerintah Kaltim saat ini masih menunggu kepastian pembahasan draf…

Rabu, 13 Maret 2019 10:25

Industri Galangan Kapal di Kaltim Masih Lesu

SAMARINDA- Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan DPP Indonesian National Shipowners…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*