MANAGED BY:
MINGGU
24 MARET
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 09 Januari 2019 06:44
10 Tahun Lagi, Kaltim Lupakan Batu Bara
BUTUH ALTERNATIF: Pemprov Kaltim terus berusaha mencari solusi dan sektor unggulan baru yang bisa dikembangkan untuk menopang perekonomian. 10 tahun lagi, mereka ingin Bumi Etam lepas dari ketergantungan baru bara.(DOK/KP)

PROKAL.CO, SAMARINDA - Pemprov Kaltim diminta fokus mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya alam (SDA) tak terbarukan. Pasalnya hingga saat ini, kontribusi sektor ini masih paling tinggi, mencapai 45 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Bumi Etam.

Tahun ini, diprediksi tantangan ekonomi Bumi Etam jauh lebih besar. Itu seiring menurunnya harga batu bara, yang hingga kini masih menjadi bisnis penopang ekonomi Kaltim. Untuk diketahui, perubahan harga emas hitam membuat ekonomi Kaltim pada 2015 minus 1,21 persen, kemudian minus 0,38 persen pada 2016. Membaiknya harga batu bara membuat ekonomi Kaltim pada 2017 tumbuh 3,13 persen. Sementara pada 2018, ekonomi Kaltim hanya berkisar 1,84-2,24 persen.

“Penurunan harga batu bara menjadi tantangan terbesar tahun ini. Tapi kita tetap harus optimistis,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Muhamad Nur, Selasa (8/1).

Dia membeberkan, saat ini pemerintah sudah banyak menjalankan program untuk keluar dari ketergantungan batu bara. Agar kontribusinya mengecil dan tidak membuat perekonomian tumbuh secara tidak sehat karena ketergantungan harga komoditas itu.

Namun, menggeser ketergantungan ekonomi kepada sektor lain membutuhkan waktu. “Tahun ini, pemerintah bisa fokus menghidupkan sektor lain. Salah satunya pariwisata, namun semua sektor yang menjadi pilihan memang tidak bisa instan, butuh proses panjang,” ungkapnya.

Terpisah, Gubernur Kaltim Isran Noor mengatakan, pihaknya sadar Kaltim tidak dapat terus bergantung pada kekuatan sumber daya alam seperti minyak dan gas serta batu bara. Kaltim perlu menggali potensi ekonomi unggulan baru dengan mendorong peningkatan nilai tambah memanfaatkan potensi SDA, yang tersedia dan potensial dikembangkan.

“Kita tahu, bahwa beberapa tahun kemarin pertumbuhan ekonomi Kaltim sempat minus karena terlalu bergantung pada komoditas mentah,” katanya.

Dia menjelaskan, ketika Kaltim mengalami penurunan penerimaan yang bersumber dari minyak dan gas  serta batu bara (royalti menurun) akibatnya berdampak pada penerimaan daerah dari pemerintah pusat. Bahkan pada 2017-2018 mengalami titik paling bawah hanya mencapai Rp 7,2 triliun.

"Kaltim sebagai provinsi yang kaya dengan potensi SDA harus bisa dioptimalkan. Sehingga mampu menopang percepatan pembangunan yang muaranya untuk menyejahterakan masyarakat serta kemajuan Kaltim," ujarnya.

Menurutnya, untuk mengolah potensi unggulan yang ada perlu dilakukan terobosan, menciptakan karya dan inovasi-inovasi baru yang dapat mendukung bangkitnya perekonomian daerah. “Saya menargetkan, 10 tahun yang akan datang sumber daya alam ekstraktif tidak banyak lagi berperan, seperti minyak, gas dan batu bara. Oleh karena itu seluruh stakeholders harus membantu menemukan solusi,” ungkapnya.

Dia mengatakan, saat ini pihaknya sedang mempersiapkan konsolidasi regulasi kewenangan. Hal itu sesuai UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, serta masih banyak hal-hal lainnya yang harus diperbaiki dan dibenahi.

“Perbaikan regulasi ini, salah satu cara untuk mengubah aturan agar Kaltim bisa mengurangi ketergantungan terhadap bisnis komoditas mentah. Sepanjang kita belum bisa memperbaiki regulasi, maka Kaltim tidak akan bisa berbuat banyak untuk mengurangi ketergantungan. Secara bertahap pada 2019 hal itu akan kita dilakukan,” tutupnya. (*/ctr/ndu/k15)


BACA JUGA

Minggu, 24 Maret 2019 10:18

Tim SAR Temukan Anak Tenggelam di Tenggarong Seberang

TENGGARONG - Tim gabungan Search and Rescue (SAR) berhasil menemukan…

Sabtu, 23 Maret 2019 21:08

Terang-terangan Mau Jadi Istri Kedua Sandiaga, Ini Alasan Tiffani

Pernyataan terbuka yang disampaikan mahasiswi cantik Vincentia Tiffani bahwa dia…

Sabtu, 23 Maret 2019 20:51

Rommy Ngeluh Rutan Pengap, Ini Kata KPK

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merespons keluhan mantan ketua umum PPP…

Sabtu, 23 Maret 2019 20:50

Kampanye Akbar Jokowi-Ma'ruf, Ini Menteri-Menteri yang Ikut Serta

 Pasangan capres dan cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin bakal…

Sabtu, 23 Maret 2019 12:12
Spanyol vs Norwegia

500 Hari Mencari Morata

 VALENCIA – Jangan tanya berapa banyak gol yang dicetak Alvaro…

Sabtu, 23 Maret 2019 10:09

TEGANYA..!! Puluhan Anak Dipaksa Jadi Anjal

SAMARINDA-2018 jadi awal mula mimpi buruk dua bersaudara, FK (12)…

Jumat, 22 Maret 2019 10:34

Lagi Angkat Barang di Pelabuhan, Ayah Bhrada Aldy Ditelepon Komandan Brimob, Menangis…

Bharada Muhammad Aldy – personel Brimob putra asal Kabupaten Nunukan…

Kamis, 21 Maret 2019 21:48

Tabrak Batu di Riam Udang, Tiga Orang Belum Ditemukan

SAMARINDA - Sebuah kapal long boat bermuatan penumpang dan barang…

Kamis, 21 Maret 2019 21:26

ASTAGAAA..!! Oknum Lurah dan Pegawai Protokol Pemkot Tertangkap Pesta Sabu

SAMARINDA - Jajaran Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Timur…

Kamis, 21 Maret 2019 01:20

BAWASLU WASPADALAH..!! Di Malaysia Ada Calo Suara, Tawarkan 15-50 Ringgit per Suara

JAKARTA – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) tampaknya harus lebih jeli mewaspadai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*