MANAGED BY:
KAMIS
20 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 09 Januari 2019 06:44
10 Tahun Lagi, Kaltim Lupakan Batu Bara
BUTUH ALTERNATIF: Pemprov Kaltim terus berusaha mencari solusi dan sektor unggulan baru yang bisa dikembangkan untuk menopang perekonomian. 10 tahun lagi, mereka ingin Bumi Etam lepas dari ketergantungan baru bara.(DOK/KP)

PROKAL.CO, SAMARINDA - Pemprov Kaltim diminta fokus mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya alam (SDA) tak terbarukan. Pasalnya hingga saat ini, kontribusi sektor ini masih paling tinggi, mencapai 45 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Bumi Etam.

Tahun ini, diprediksi tantangan ekonomi Bumi Etam jauh lebih besar. Itu seiring menurunnya harga batu bara, yang hingga kini masih menjadi bisnis penopang ekonomi Kaltim. Untuk diketahui, perubahan harga emas hitam membuat ekonomi Kaltim pada 2015 minus 1,21 persen, kemudian minus 0,38 persen pada 2016. Membaiknya harga batu bara membuat ekonomi Kaltim pada 2017 tumbuh 3,13 persen. Sementara pada 2018, ekonomi Kaltim hanya berkisar 1,84-2,24 persen.

“Penurunan harga batu bara menjadi tantangan terbesar tahun ini. Tapi kita tetap harus optimistis,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Muhamad Nur, Selasa (8/1).

Dia membeberkan, saat ini pemerintah sudah banyak menjalankan program untuk keluar dari ketergantungan batu bara. Agar kontribusinya mengecil dan tidak membuat perekonomian tumbuh secara tidak sehat karena ketergantungan harga komoditas itu.

Namun, menggeser ketergantungan ekonomi kepada sektor lain membutuhkan waktu. “Tahun ini, pemerintah bisa fokus menghidupkan sektor lain. Salah satunya pariwisata, namun semua sektor yang menjadi pilihan memang tidak bisa instan, butuh proses panjang,” ungkapnya.

Terpisah, Gubernur Kaltim Isran Noor mengatakan, pihaknya sadar Kaltim tidak dapat terus bergantung pada kekuatan sumber daya alam seperti minyak dan gas serta batu bara. Kaltim perlu menggali potensi ekonomi unggulan baru dengan mendorong peningkatan nilai tambah memanfaatkan potensi SDA, yang tersedia dan potensial dikembangkan.

“Kita tahu, bahwa beberapa tahun kemarin pertumbuhan ekonomi Kaltim sempat minus karena terlalu bergantung pada komoditas mentah,” katanya.

Dia menjelaskan, ketika Kaltim mengalami penurunan penerimaan yang bersumber dari minyak dan gas  serta batu bara (royalti menurun) akibatnya berdampak pada penerimaan daerah dari pemerintah pusat. Bahkan pada 2017-2018 mengalami titik paling bawah hanya mencapai Rp 7,2 triliun.

"Kaltim sebagai provinsi yang kaya dengan potensi SDA harus bisa dioptimalkan. Sehingga mampu menopang percepatan pembangunan yang muaranya untuk menyejahterakan masyarakat serta kemajuan Kaltim," ujarnya.

Menurutnya, untuk mengolah potensi unggulan yang ada perlu dilakukan terobosan, menciptakan karya dan inovasi-inovasi baru yang dapat mendukung bangkitnya perekonomian daerah. “Saya menargetkan, 10 tahun yang akan datang sumber daya alam ekstraktif tidak banyak lagi berperan, seperti minyak, gas dan batu bara. Oleh karena itu seluruh stakeholders harus membantu menemukan solusi,” ungkapnya.

Dia mengatakan, saat ini pihaknya sedang mempersiapkan konsolidasi regulasi kewenangan. Hal itu sesuai UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, serta masih banyak hal-hal lainnya yang harus diperbaiki dan dibenahi.

“Perbaikan regulasi ini, salah satu cara untuk mengubah aturan agar Kaltim bisa mengurangi ketergantungan terhadap bisnis komoditas mentah. Sepanjang kita belum bisa memperbaiki regulasi, maka Kaltim tidak akan bisa berbuat banyak untuk mengurangi ketergantungan. Secara bertahap pada 2019 hal itu akan kita dilakukan,” tutupnya. (*/ctr/ndu/k15)


BACA JUGA

Rabu, 19 Juni 2019 12:10

Konstruksi Ibu Kota Baru Dimulai 2021

JAKARTA–Rencana pemindahan ibu kota terus dipersiapkan. Meski lokasinya belum ditetapkan,…

Rabu, 19 Juni 2019 10:56
Polemik PPDB Sistem Zonasi

PPDB Bertujuan Mulia, Tapi Pelaksanaan Bermasalah

JAKARTA - Semangat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meniadakan sekolah favorit…

Rabu, 19 Juni 2019 10:53

Makin Menjamur, Guest House Resahkan Perhotelan

Menjamurnya guest house di Kota Minyak diyakini bisa memperbesar lapangan…

Rabu, 19 Juni 2019 10:51

Makin Sadar, Warga Pilih Tukarkan Uang Pecahan di Perbankan

SAMARINDA- Kinerja outflow pada Mei 2019 meningkat 86,03 persen year-on-year…

Senin, 17 Juni 2019 14:50
Atasi Banjir Samarinda, Sekkot Minta Bantuan Pemprov dan Pusat

Atasi Banjir di Samarinda, Ini Kuncinya...

Mengatasi banjir di sejumlah wilayah di Kaltim menjadi pekerjaan utama…

Senin, 17 Juni 2019 14:45

Begini Sistem Anyar Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Negeri

Seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBM PTN) tahun ini…

Senin, 17 Juni 2019 14:28

Pemprov Kaltim Sediakan Rp 10 Miliar Tangani Banjir

SAMARINDA - Usai musibah banjir hampir sepekan melumpuhkan sebagian aktivitas…

Minggu, 16 Juni 2019 23:00

Samarinda Harus Berani Tanpa Tambang

Mengatasi banjir Samarinda cukup pelik. Meski penyebabnya sudah diketahui. Hingga…

Minggu, 16 Juni 2019 22:09

Limbah Perusahaan Kayu Diduga Jadi Penyebab

PUSDALOPS BPBD PPU UNTUK KP TERULANG LAGI : Banjir di…

Minggu, 16 Juni 2019 12:56

Mahulu Mulai Surut, PPU Banjir

BANJIR di Samarinda memang semakin surut. Lalu lintas berangsur-angsur normal.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*