MANAGED BY:
KAMIS
20 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Selasa, 08 Januari 2019 09:02
Pelanggan Vanessa Diduga Pengusaha Tambang Pasir
Polisi Miliki Data 145 Model dan Artis Terlibat Prostitusi Online
Vanessa Angel

PROKAL.CO, SURABAYA – Kasus prostitusi yang melibatkan artis papan atas terus bergulir. Data di kepolisian menyebutkan, ada 100 model majalah dewasa dan 45 artis lainnya yang terlibat dalam jejaring prostitusi online itu. Selain Endang Suhartini dan Tantri (mucikari Vanessa Angel dan Avriellia Shaqqila yang sudah ditetapkan sebagai tersangka), polisi mengejar dua mucikari lainnya yang saat ini belum diketahui keberadaannya.

Dua mucikari tersebut memiliki tugas yang sama, yakni menjalin komunikasi dengan pria hidung belang dan melakukan transaksi. Keduanya juga berasal dari Jakarta. Polisi masih melacak keberadaan mereka.

Salah seorang anggota Ditreskrimsus Polda Jatim menjelaskan bagaimana keduanya luput dari penangkapan polisi. Saat dihubungi Tantri, handphone dua perempuan yang masuk daftar pencarian orang (DPO) polisi itu tidak aktif. Pesan yang dikirim pun tidak masuk ke handphone dua pelaku tersebut. ”Jadi, dua DPO (baca: buron, Red) ini masih kolega dengan tersangka yang kami tangkap, tapi kemungkinan masih di Jakarta saat ini,” jelas polisi yang tak mau namanya disebutkan itu.

Endang, Tantri, dan dua mucikari buron tersebut aktif menjajakan perempuan dari kalangan selebriti. Masing-masing memiliki koneksi ke pelanggan. Dalam beberapa kesempatan, mereka juga menggunakan jasa makelar untuk mencarikan pelanggan.

Promosi dilakukan secara eksklusif. Dengan demikian, hanya beberapa orang yang memiliki katalog perempuan yang dijual para makelar itu. ”Tidak ada grupnya. Mereka cuma memberi tahu antar kenalan. Jadi mulut ke mulut,” lanjut polisi tersebut.

Kemarin (7/1) Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan juga memberikan pernyataan resmi terkait kasus itu. Bukan hanya Vanessa Angel dan Avriellia Shaqqila artis yang terlibat dalam prostitusi via daring (online) tersebut. Masih ada sekitar 100 model majalah dewasa dan 45 artis lainnya yang terlibat. Daftar itu sudah berada di genggaman polisi. Rencananya, polisi memanggil satu per satu seluruh korban untuk dimintai keterangan. ”Jadi, 100 model ini berasal dari majalah Popular dan FHM. Tapi, keterangan dari dua korban ini saja sebenarnya sudah cukup untuk memenjarakan kedua tersangka (Endang dan Tantri),” ucapnya.

Luki juga membenarkan, transaksi yang dilakukan Endang dan Tantri dilakukan secara online. Termasuk proses promosi ke pelanggan para hidung belang. Dalam transaksi, pelanggan wajib membayar uang muka 30 persen di awal. Tarif yang dikenakan Endang dan Tantri cukup fantastis. Mulai Rp 25 juta, Rp 50 juta, Rp 80 juta, hingga Rp 100 juta untuk sekali kencan. ”Bedanya soal ketenaran. Semakin terkenal, semakin mahal pula tarifnya,” kata jenderal dua bintang itu.

Menurut Luki, tarif tersebut merupakan tarif bersih yang diberikan. Pelanggan tak perlu pusing biaya hotel. Sebab, Endang dan Tantri akan menentukan di mana mereka berkencan. Dalam kasus Vanessa dan Avriellia, kedua mucikari memilih hotel di Surabaya Barat sebagai lokasi kencan. Vanessa di kamar 2721, sedangkan Avriellia di kamar 2720. ”Jadi, pelanggannya bebas mau menentukan kencan di mana di seluruh Indonesia, bahkan kalau mau ke luar negeri ya bisa,” bebernya.

Luki menjelaskan, dua mucikari tersebut memegang teguh privasi pelanggannya. Sebab, mayoritas pelanggan adalah kalangan pengusaha. Bahkan, mereka kadang meminta Endang dan Tantri menyediakan jasanya di luar negeri. Berbagai tempat pernah menjadi jujukan mereka, misalnya Singapura dan Hongkong. Tarif yang ditetapkan pun menyesuaikan dengan ketenaran model atau artis dan fasilitas untuk bercinta.

Dari penangkapan Endang dan Tantri, berbagai barang bukti telah disita polisi. Meliputi handphone milik para korban dan tersangka. Selain itu, ada seprai putih, kotak alat kontrasepsi, kacamata, dan celana dalam berwarna ungu.

Kasubdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Harissandi menambahkan, dari transaksi Rp 80 juta, Vanessa tidak menikmati seluruh uang tersebut. Dia hanya dijanjikan Rp 35 juta. Sisanya masuk ke kantong Endang yang bertindak sebagai perantara. Uang Rp 45 juta dibagi dengan Tantri dan biaya hotel serta lainnya. ”Ketika kami tangkap, pihak pembeli jasa ini kan baru transfer 30 persen, jadi belum dibayar semua. Uang itu kini juga kami sita,” jelasnya.

Harissandi juga belum bisa menentukan penghasilan para mucikari tersebut dalam sebulan. Sebab, pesanan yang masuk kadang tak tentu. Dalam seminggu saja mereka pernah tidak mendapatkan pesanan sama sekali. Meskipun dalam beberapa kesempatan mereka juga kebanjiran order.

Harissandi juga memberikan penjelasan tentang pria hidung belang yang memesan jasa dari Endang dan Tantri. Dia merupakan seorang pria berumur 45 tahun bernama Rian, keturunan Tionghoa, dan berdomisili di Jakarta. Rian atau menurut nama di KTP bernama Rudi Hastanto merupakan seorang pengusaha. ”Salah satu usahanya berada di Lumajang,” ucapnya.

Itu merupakan kali pertama Rian memesan prostitusi via daring. Setidaknya itulah yang dia katakan kepada Korps Bhayangkara ketika dimintai keterangan. Sebagai pengusaha, dia ingin mencoba prostitusi yang melibatkan artis kenamaan. Karena itulah, pada Sabtu (5/1) dia mencoba memesan jasa Vanessa melalui Endang. ”Dia pilih di Surabaya karena kan yang paling deket, daripada ke Jakarta kan?” kata Harissandi.

Sementara itu, di kalangan pengusaha tambang pasir Lumajang, nama Rian sering terlibat dalam bisnis tambang ilegal. Sumber Jawa Pos Radar Semeru menyebutkan, bila bepergian ke Lumajang, Rian sering mengendarai Mitsubishi Pajero putih. Dia singgah dulu ke salah satu rumahnya di kawasan Sidoarjo setiap kali menuju Lumajang. Sumber tersebut mengaku pernah mendatangi rumah Rian di Sidoarjo. ”Tapi, kalau urusan stockpile, dia pemain top. Stockpile ada di Lempeni, Tempeh. Sampai sekarang stockpile-nya masih aktif,” katanya.

Pemain tambang pasir yang juga aktivis Nanang Hanafi mengungkapkan bahwa Rian bukan penambang pasir yang terdaftar izin tambangnya di Pemkab Lumajang. Dia berani menyebut Rian sebagai penambang ilegal. Rian acap kali mengatasnamakan jenderal dan petinggi kepolisian. ”Itu sering dilakukan untuk menakut-nakuti aparat,” katanya.

Nanang menguraikan, Rian pernah menambang di Tumpeng pada 2018 tanpa mengantongi izin. Dia sempat ketahuan warga, lalu diprotes karena tidak berizin menambang. Habis itu berpindah ke kawasan Sampit, Desa Lempeni, Kecamatan Tempeh. Area tambang ilegalnya di kawasan Kalipancing.

Menurut Nanang, kalau ke Lumajang, Rian biasanya bermalam di hotel. Sebab, dia memang tidak punya rumah di Lumajang. ”Jarang muncul kalau di Lumajang. Anak buahnya pun kalau bertemu ya di hotel. Pernah (dia) makelaran jalan tol juga,” katanya.

Sementara itu, Bupati Lumajang Thoriqul Haq meragukan Rian adalah pengusaha tambang pasir di kabupaten yang dipimpinnya. ”Nanti saya cek ke daftar izin tambang,” ucapnya. ”Tapi, kiro-kiro lek (kira-kira kalau) Rp 80 juta sampek pirang rit yo rek (sampai berapa rit ya)?” candanya.

Setelah dicek beberapa jam kemudian, bupati yang akrab disapa Cak Thoriq itu menegaskan bahwa tidak ada nama Rian. ”Inisial R atau Rian itu tidak ada. Sudah saya cek di semua izin yang keluar. Ternyata klir, tidak ada,” tegasnya.

Namun, ada kemungkinan lain bahwa izin usaha tambang pasir milik Rian diurus orang lain. Sebab, urusannya tidak pada satu pihak yang punya izin tambang pasir. Ada yang pemilik stockpile. Ada yang berjejaring dengan investasi lain atau konstruksi dengan pembangunan yang berkebutuhan dengan pasir Lumajang. ”Yang bisa jadi salah satunya ada inisial R atau Rian itu tadi,” katanya.

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise mengatakan, kasus Vanessa telah menjadi perhatian jajarannya. Dia menilai kasus tersebut tidak hanya dipandnag sebagai prostitusi, tapi juga mengandung unsur eksploitasi terhadap perempuan.

Yohana menyatakan, salah satu hal yang akan menjadi fokusnya adalah bagaimana ke depan objek pidana tidak hanya menyasar perempuan ataupun mucikarinya. Tapi juga bisa ikut menjerat laki-laki hidung belang yang bertindak sebagai penyewa. ”Pelakunya harus dikenai hukuman dong. Tidak boleh ada diskriminasi, eksploitasi terhadap perempuan,” ujarnya di kompleks Istana Kepresidenan RI, Jakarta, kemarin.

Menurut Yohana, menjadi tidak adil jika pria hidung belang sebagai pelaku eksploitasi tidak mendapatkan konsekuensi hukum yang sama. Terkait payung hukumnya, Yohana menilai ketentuan tersebut bisa masuk melalui Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Kebetulan, RUU tersebut menjadi perhatian pihaknya bersama DPR. ”Saya dari pihak pemerintah mendukung supaya secepatnya,” imbuh dia.

Selain RUU PKS, penjeratan terhadap pria hidung belang juga diupayakan melalui revisi KUHP. Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengatakan, pihaknya sudah lama mengusulkan pasal tersebut dalam revisi KUHP. Hanya, pembahasannya di DPR masih mandek. ”Kita akan coba segerakanlah bicara dengan teman-teman DPR,” ujarnya. Namun, politikus PDIP itu belum bisa menjanjikan kapan segera dituntaskan.

Sementara itu, manajemen Hotel TS Suites membantah hotel tersebut menjadi lokasi penangkapan Vanessa. Public Relation Executive and Secretary TS Suites Surabaya Christine Melati Puteri Patty menegaskan bahwa kasus Vanessa tidak memiliki kaitan dengan hotel itu. Dia sudah mengecek daftar nama tamu yang masuk buku catatan. ”Tidak ada nama mereka, termasuk adanya proses penangkapan,” tandasnya. (bin/fid/far/c9/agm)


BACA JUGA

Rabu, 19 Juni 2019 12:14

Enam Lembaga Negara Digugat

Tragedi pencemaran minyak di Teluk Balikpapan, akhir Maret 2018, masih…

Rabu, 19 Juni 2019 12:12

Pemprov Janji Perketat Tambang

SAMARINDA–Besarnya alokasi anggaran yang diperlukan untuk menjalankan program penanggulangan banjir…

Rabu, 19 Juni 2019 12:10

Konstruksi Ibu Kota Baru Dimulai 2021

JAKARTA–Rencana pemindahan ibu kota terus dipersiapkan. Meski lokasinya belum ditetapkan,…

Rabu, 19 Juni 2019 10:56
Polemik PPDB Sistem Zonasi

PPDB Bertujuan Mulia, Tapi Pelaksanaan Bermasalah

JAKARTA - Semangat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meniadakan sekolah favorit…

Rabu, 19 Juni 2019 10:53

Makin Menjamur, Guest House Resahkan Perhotelan

Menjamurnya guest house di Kota Minyak diyakini bisa memperbesar lapangan…

Rabu, 19 Juni 2019 10:51

Makin Sadar, Warga Pilih Tukarkan Uang Pecahan di Perbankan

SAMARINDA- Kinerja outflow pada Mei 2019 meningkat 86,03 persen year-on-year…

Rabu, 19 Juni 2019 10:44
Pemerintah Dituding Tak Sigap dalam Kasus Tragedi Teluk Balikpapan--sub

Pemerintah Dianggap Tak Siap, Enam Lembaga Negara Digugat

Tragedi pencemaran minyak di Teluk Balikpapan, akhir Maret 2018, masih…

Rabu, 19 Juni 2019 10:41
Yulia Hadi, dari Paser Wakili Tiga Negara di Kontes Kecantikan Tingkat Dunia

Voting di Posisi Teratas, Lolos Empat Besar, Final Digelar di Meksiko

Aktif di kegiatan sosial menjadi pintu gerbangnya menuju kontes kecantikan.…

Rabu, 19 Juni 2019 10:39
Pemprov Janji Perketat Tambang

Penanganan Banjir Samarinda, Pemda Kejar Anggaran ke Pusat

SAMARINDA–Besarnya alokasi anggaran yang diperlukan untuk menjalankan program penanggulangan banjir…

Senin, 17 Juni 2019 14:50
Atasi Banjir Samarinda, Sekkot Minta Bantuan Pemprov dan Pusat

Atasi Banjir di Samarinda, Ini Kuncinya...

Mengatasi banjir di sejumlah wilayah di Kaltim menjadi pekerjaan utama…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*